Halaman

18 Mei 2009

Sekolah Bikin Bosan..??

Oleh : Gayatri (KREATif, NTB)

Berikut ini hasil wawancara tim KREATif kepada seorang siswa SMP kelas 8. Sebut saja namanya Cacha (nama disamarkan).

Tanya: Pernah nggak kamu merasa stress atau bosan di sekolahmu?
Jawab: Wah, itu sih bukan pernah lagi. Tapi sering banget.

Tanya: Kapan kamu mulai merasa stress atau bosan?
Jawab: Saat SMP kelas satu. Rasanya hidupku ini Cuma bolak-balik denger guru ngoceh, kerjain tugas, PR, tugas kelompok, presentasi, ulangan, dipaksain guru ikut lomba ini-itu, pokoknya nggak ada asyiknya sama sekali!

Tanya: Lho, bukankah itu bagian dari kewajiban kamu sebagai siswa?
Jawab: Kewajiban sih kewajiban, aku tahu. Tapi terkadang guru-guruku kelewat batas. Mereka nggak mikir kita ada tugas lain juga, langsung kasih tugas aja. Mana maunya harus kayak lagunya Andra and The Backbone, sempurna….. gitu.

Tanya: Lalu apa lagi yang bikin kamu stress dan bosan?
Jawab: Tekanan. Guru-guruku selalu memberi tekanan kepada kami untuk harus mendapat nilai yang itu tadi… sempurna. Perlu dicatat bukan motivasi! mana bawa-bawa kakak kelaslah, nama sekolah yang sudah favorit, nama mereka sebagai pengajar seniorlah. Apalagi kalau nanti dekat ujian, dari sekarang kelas dua aja mereka sudah luar biasa nekennya. Bukan memotivasi, ini beda lho!

Tanya: Ada lagi?
Jawab: Wah, banyak. Oya, dari yang aku tahu, guru-guru di sekolahku lagi giat banget ngejer sertifikasi. Mereka kadang nggak ngajar buat ngurusin hal itu, ada juga tugas-tugas portofolio atau powerpoint kami yang diganti namanya dan diakui sebagai hasil kerja mereka. Bahkan ada temanku yang diminta bantuannya untuk membuat tugas sertifikasi lalu nilainya dinaikkan.

Tanya: Kalau masalah lomba bagaimana?
Jawab: Mereka anti banget sama kata tidak bersedia. Mereka selalu mengatasnamakan sekolah, tetapi nggak memperhatikan kondisi kami, terutama secara psikis. Banyak guru yang bahkan cenderung memaksa. Sekolahku juga masih kurang dalam soal apresiasi kepada murid berprestasi, malah mereka cenderung kurang peduli.

Tanya: Bagaimana soal biaya sekolah? Kamu kan sekolah negeri?
Jawab: Ya begitulah, biar katanya sekolah gratis, tapi guru-guru masih saja suka menarik pungutan lain. Ada uang komite, bangunan, seragam, buku, lembar kerja, pokoknya ada-ada saja. Dan jika dijumlah uang-uang tadi tidak sedikit.

Tanya: Kalau soal kualitas guru rata-rata di sekolahmu, berapa kamu beri mereka nilai?
Jawab: C. mereka memang punya gelar berderet, tapi mereka cuma pintar untuk diri sendiri, bukan untuk dibagi pada murid-murid dengan baik . Mereka cenderung tidak menghargai memperhatikan keputusan, pilihan, hak dan kondisi kami terutama psikis yang lelah.

Tanya: Pernahkah kamu dan teman-teman mengungkapkan hal ini pada mereka?
Jawab: Sering sekali.

Tanya: Apa komentar mereka?
Jawab: Begini, “Pindah saja ke sekolah lain kalu tidak mau ribet. Karena sekolah di sini memang harus ribet”.

Tanya: Apa harapan kamu ke depan?
Jawab: Guru diberikan workshop khusus tentang cara mengajar efektif untuk murid (bukan untuk guru karena efektifnya mereka maksudnya lain). Satu lagi, masih workshop tentang psikolog dan hak-hak anak. Satu lagi, kalau workshop pastikan mereka bisa mengaplikasikan ya, karena aku benar-benar berharap somga guru-guru di sekolahku bisa menjadi guru yang patut diteladani, baik, dan ramah anak.

16 Mei 2009

Pengenalanku Pada Dunia Puisi

Oleh : Aida Yuni (KREATif, Jakarta)

Guruku yang ingin kuceritakan di sini biasa dipanggil Bu Yuli. Beliau adalah salah satu guru di SMPN 4 Bekasi yang mengajarkan kesenian. Walaupun perannya sebagai guru, beliau mampu membaur dengan anak didiknya. Terutama anak-anak yang terdaftar sebagai pengurus OSIS, salah satunya adalah aku. Beliau mengenalku karena aku sering ditunjuk sebagai ketua koordinator dalam berbagai acara yang diselenggarakan OSIS dan sekolah.

Di saat aku duduk di kelas 3 ada perlombaan puisi dan perlombaan lainnya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Bekasi dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kota Bekasi. Awalnya aku tidak tahu-menahu tentang lomba itu. Sampai akhirnya aku secara tak sengaja bertemu dengan Bu Yuli di depan kantor Tata Usaha. Bu Yuli yang melihatku langsung memanggilku.

“Aida, ke sini sebentar, Ibu mau ngomong,”
“Ya, ada apa Bu?”
“Ini, ada lomba-lomba yang diadain buat Peringatan Hari Jadi Kota Bekasi hari Minggu besok. Salah satunya lomba puisi. Kamu ikut ya?”
“Lho Bu? Kok saya? Yang lain aja ya Bu, saya nggak berani,”
“Ya udah, kamu ajak juga yang lain, tapi kamu tetep ikut ya,”
“Yah Bu.. Ya udah, saya ikut Bu. Tapi boleh ajak yang lain kan?”
“Boleh. Ini syarat-syarat perlombaannya. Semoga sukses ya Nak,”
“Iya Bu, terima kasih.”

Karena aku tidak berani mengikuti lomba itu sendiri, aku bergegas ke kelas dan mengajak yang lain turut serta. Aku mengajak teman-temanku yang kutahu handal dalam menulis puisi.

Akhirnya, tibalah hari perlombaan itu. Bu Yuli dan guru-guru yang lain tak henti-hentinya menyemangati kami. Puisi yang kami tulis di selembar kertas yang diedarkan panitia telah terkumpul di depan dan sedang dinilai oleh para juri. Setelah beberapa waktu para juri menilai, tersaringlah 20 puisi yang layak untuk maju ke final. Dan benar-benar tidak kusangka puisiku termasuk dalam 20 besar itu. Betapa bahagia dan bangganya aku. Saat aku maju bersama 19 finalis lainnya mataku tak henti mencari sosok Bu Yuli. Ingin kuucapkan banyak terima kasih pada beliau yang memercayaiku dan terus menyemangatiku dalam lomba ini. Namun sayang, Bu Yuli sudah tidak ada. Mungkin beliau sedang menengok kabar teman-temanku yang juga membawa nama sekolah dalam lomba lainnya.

Sayangnya di babak final aku gagal meraih juara. Namun aku tidak kecewa. Karena melalui lomba ini kepercayaan diriku akan kemampuanku menulis puisi langsung timbul. Aku benar-benar berterima kasih pada Bu Yuli. Entah apa jadinya kalau Bu Yuli mengiyakan penolakanku saat itu. Mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang.
Satu hal penting yang terus mengingatkanku akan jasa guruku tersebut adalah andai aku tidak ikut lomba itu dan mendapat kepercayaan diriku, mungkin sekarang aku bukanlah anggota dari KREATif. Karena aku pun menjadi anggota komunitas penulis muda ini berkat menulis puisi.
Terima kasih Bu Yuli, terima kasih.

03 Mei 2009

Penghapusan Buruh Anak di Jermal


Pemerintah Daerah Sumatera Utara menetapkan tahun 2004 sebagai target penghapusan buruh anak di jermal.

Sejauh ini jumlah buruh anak menurun, dari sekitar 400 buruh anak pada tahun 1998 hingga 30-an pada akhir Maret 2003. Bahkan Gubernur Sumatera Utara, T. Rizal Nurdin, berharap akhir tahun 2003 tidak ada lagi buruh anak di jermal.
Liston Siregar berkunjung ke beberapa jermal di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara, dan bermalam di salah satu jermal yang masih mempekerjakan buruh anak.

Para buruh anak itu diharuskan bekerja tengah malam untuk mengangkat jaring sedang pagi harinya mereka beristirahat.

Sementara di darat ILO-IPEC melancarkan program bantuan ekonomi kepada keluarga mantan buruh anak jermal dengan bantuan ternak.

Namun tak ada jaminan jermal akan bebas total dari buruh anak pengangguran dan juga belum adanya kesadaran tentang resiko bekerja di jermal selama tiga bulan penuh, seperti terluka kena pemutar jaring dan kehilangan kesempatan untuk mendapat pendidikan.

Sri Eni Purnamawati, Koordinator ILO-IPEC untuk buruh anak jermal di Medan mengatakan ada juga kemungkinan anak dikucilkan dari keluarga dan lari bekerja ke jermal.

(http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/030618_buruh.shtml)

Buruh, Riwayatmu...

Aksi Keprihatinan Warnai Peringatan Hari Buruh
Jum'at, 01 Mei 2009 , 13:58:00
PURWOKERTO, (PRLM).- Peringatan hari buruh sedunia di Purwokerto Jawa Tengah (Jateng) diwarnai aksi keprihatinan. Sebab tenaga buruh masih dihargai dengan upah murah, Massa yang menamakan diri Aliansi Rakyat Banyumas Bersatu menuntut pemerintah untuk mensejahterakan buruh dengan upah yang wajar.

"Realitasnya buruh di Purwokerto mendapat upah dibawah UMK," kata Koordinator Aliansi, Handika Febrian, dalam aksinya Jumat (1/5).

Hasil survei yang dilakukan aliansi terhadap upah buruh pada buruh toko dan buruh tani di Kabupaten Banyumas. Untuk buruh toko, dalam sebulannya mereka hanya mendapat Rp 350-612 ribu. Sedangkan buruh jasa upahnya Rp 350-450 ribu per bulan.

"Lebih memprihatinkan lagi upah buruh tani, tenaga mereka hanya dihargai Rp 250-350 ribu. Upah tersebut tidak sesuai dengan SK Gubernur yang menyebutkan UMK Banyumas sebesar Rp 612.500. Ini jelas memprihatinkan," katanya.

Dengan upah yang diterima buruh saat ini, kata Handika, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal, kebutuhan hidup minimal di Banyumas mencapai Rp 440 ribu.

Menurutnya, sudah seharusnya Pemkab Banyumas mendorong pengusaha untuk menaikan upah buruh. Mereka berharap agar kesejahteraan buruh menjadi prioritas program pemerintah.

(http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=72916)

02 Mei 2009

Catatan dari Bulan April: Kisruh terus!

KREATif NTB: Gayatri



Di bulan April 2009 yang baru saja kita lalui ini, banyak sekali terlaksana event nasional yang berkaitan juga dengan kehidupan anak. Berikut catatan saya berdasarkan apa yang memasuki panca indra saya…



Event 1: Pemilu Legislatif, Kamis, 9 April 2009


Event nasional yang super duper penting ini telah dihelat. Langsung untuk kedua kalinya dan di-declair sebagai “Pesta Demokrasi Rakyat” dan beberapa teman-teman KREATif ada juga yang telah berhak memilih, meskipun saya tidak. Tapi ternyata, menurut berita di sejumlah media terdapat sekitar 40% pemilih dinyatakan GOLPUT alias tidak menyumbangkan suara pada pemilu kali ini. Ada yang memang tidak bersedia, namun ada yang tragis bahwa mereka tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap meskipun sudah punya KTP! Salah seorang teman saya yang berusia 14 tahun bahkan mendapat undangan memilih meski orang tuanya tidak. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah pun hampir tidak jadi ikut pemilu lantaran tak tercantum di DPT. Ajaib!

Belum lagi soal logistik! Banyaknya surat suara yang tertukar di sejumlah daerah pemilihan, penyembunyian surat suara, kurangnya bolpoin atau spidol pencontrengan dan masih banyak lagi. Di beberapa TPS, sampai diadakan pemilu ulang.

Lain lagi kecurangan, di sebuah TPS, seorang Ibu mengaku ketika masuk TPS sudah diburu juru kampanye caleg yang “mengingatkan” untuk memilih caleg yang dikampanyeinya.. Gila, masa kampanye sudah selesai waktu itu, bukan?!?

Lagi. Banyaknya orang yang frustasi akibat hasil pemilu. Malang nian nasib bangsa ini kalau sampai orang seperti itu benar-benar jadi anggota dewan yang terhormat! Yang gila bahkan sampai rela mengambili semua sumbangannya saat kampanye door to door! Dengan kilah “saya nggak balik modal gara-gara kalah jadi caleg!” Balik modal? Memang jadi caleg itu buat nyari untung duit ya? Segala cara dilakukan deh buat jadi anggota legislatif!

Belum lagi partai-partai di pusat sana, lobi sana sini, atur strategi sana sini nggak inget sama penentu nasib mereka, rakyat!



2. Event 2: Ujian Nasional

Ini dia event yang selalu jadi topic of the year dari tahun 1960an saat pertama dicoba. Tapi sekarang masalah tambah, biasa! Mulai dari bocornya soal ujian, jawaban yang beredar via sms ke hape siswa (benar tidaknya belum tentu), jurus jitu nyontek dari para siswa sampai bandelnya pengawas. Dari yang garang sampai tidur di ruangan. Bahkan di sebuah SMP di kota blablabla sekitar 10 orang siswa-siswi kelas 8 diminta ‘membantu’ proses pengawasan Ujian kakak kelasnya dengan bayaran sekotak kue!

Ada juga peserta yang tidak ikut UN lantaran hal-hal yang cukup mengagetkan. Ada yang sudah menikah dengan teman satu sekolahnya dan malu ikut UN, sampai membantu orang tua ngerampek (:panen, bahasa sasak). Wah wah wah! Tinggal tunggu satu kisruh lagi, hasilnya. Pasti banyak yang stress karena tidak lulus! Banyak siswa yang saya tanyai dan merasa stress berat sebelum ujian lantaran pola belajar di sekolah yang sangat memforsir mereka selama setahun ini. Belum lagi tuntutan para guru, harus nilai rata-rata 8 lah, malu guru itu kalau mereka nggak lulus dan lain lain. Dan ini biasanya terjadi di sekolah favorit! Lantaran mereka sangat menjaga image dan gengsinya tanpa mau mengakui bahwa guru dan sistem sekolah itu dalam mengajarlah penyebab utama kegagalan bila terjadi nanti. Untuk apa ada sekolah kalau orang-orang sudah sangat pintar sampai tak perlu diajari lagi?



Jadi, teman-teman semoga saja kisruh-kisruh itu tak lagi terjadi di bulan ini ya. Semoga orang dewasa dan anak dapat menjaga kondisi dunia ini dengan baik! Semoga!

27 Maret 2009

Peringatan Hari Raya Nyepi

KREATif NTB : I.G.A. Gayatri K.D.

Teman-teman, pada tanggal 26 Maret lalu, umat Hindu telah merayakan Hari Raya Nyepi. Yang diawali oleh proses penyucian diri di laut atau sumber air (baca: Melasti atau Mekiis), kemudian pada tanggal 25 Maret, diadakan pula pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari prosesi Nyepi. Ogoh-ogoh secara sederhana merupakan perwujudan daripada setan pengganggu manusia. Di Lombok, Ogoh-ogoh kemudian diarak di jalan-jalan protokol Kota Mataram, lalu kembali ke Banjar (setingkat perkumpulan warga tingkat RW), kemudian dibakar. Setelah itu warga akan melakukan Persembahyangan bersama dan menghaturkan caru(mirip sesajen berupa nasi) dan sesajen buah juga bunga dengan tujuan memohon agar dapat melaksanakan Penyepian dengan baik. Ogoh-ogoh dibakar dengan tujuan mengubah keburukan/ hawa burk menjadi baik agar tak mengganggu prosesi penyepian pada keesokan harinya yang merupakan hari Introspeksi diri bagi umat Hindu.
Acara ini berlangsung semarak namun tertib meski hujan membasahi kota. Walau sempat pula dikhawatirkan bermasalah karena telah memasuki masa Kampanye TerbuakaPemilu, aparat kepolisian yang bersiaga berhasil mengamankan prosesi ini dengan baik dan lancar.

17 Maret 2009

Festival Bau Nyale

Legenda Putri Mandalika

Pada zaman dahulu kala, di bagian selatan Pulau Lombok terdapat sebuah Kerajaan bernama Sekar Kemuning. Dengan rajanya yang sangat bijaksana, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Sang raja mempunyai seorang putri bernama Putri Mandalika. Raja dan ratu sangat menyayanginya, mereka mau memberikan apa saja kepada sang putri. Harta, kemewahan dan lain-lain. Namun Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang putri yang amat cantik jelita dan juga selalu rendah hati.

Ketika ia beranjak dewasa, kecantikannya membuat para pangeran di Pulau Lombok ingin mempersuntingnya. Putri Mandalika kemudian diberitahu oleh kedua orang tuanya bahwa ada 6 orang pangeran dari 6 kerajaan yang melamarnya. Raja dan Ratu meminta Sang Putri menentukan pilihan siapa dari keenam pangeran itu yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Saat itu Putri Mandalika dihadapkan pada sebuah dilema. Di satu sisi dia butuh pendamping hidup dari kalangan yang sama dengannya. Caranya tentu dengan memilih satu di antara keenam pangeran yang sudah melamarnya. Namun, melihat kerasnya keinginan para pangeran untuk mendapatkan dirinya, sang putri khawatir jikalau nantinya terjadi permusuhan yang berakibat pertumpahan darah antar kerajaan di Lombok hanya karena dirinya memilih satu di antara para pengeran tersebut. Jelas ia hanya boleh memilih satu! Sementara para pangeran itu menginginkan dirinya.

Sang Putri akhirnya berdiam diri di istana, berdoa meminta petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Petunjuk jalan mana yang harus dia pilih demi mencegah pertumpahan darah di pulau yang amat dia cintai. Akhirnya setelah sekian lama, sang putri mengumumkan bahwa ia akan memberitahu keputusannya kepada para pangeran yang telah melamarnya pada malam bulan purnama di pantai Seger dan disaksikan oleh seluruh rakyat.

Pada malam bulan purnama, di pantai Seger, Putri Mandalika menepati janjinya. Dengan pengawalan pasukan, sang putri hadir di hadapan seluruh rakyatnya juga keenam pangeran yang telah menanti keputusannya sejak lama. Sang putrid kemudian berdiri di atas sebuah batu yang kemudian dikenal dengan nama Batu Mandalika dan hingga kini masih ada di Pantai Seger, Lombok Tengah. Sang Putri berbicara lantang kepada semua orang yang hadir di sana, kira-kira begini bunyinya,

“Wahai rakyatku yang amat aku cintai, beserta keenam pangeran yang juga telah hadir, inilah aku Putri Mandalika, orang yang kalian sayangi, yang kalian inginkan menjadi pendamping hidup. Pada malam yang indah ini, aku ingin mengucapkan bahwa aku mencintai kalian semua tanpa kecuali. Dan oleh karena aku mencintai kalain semua dan karena aku tahu kalian semua juga mencintaiku, aku takkan mungkin memilih satu di antara kalian sebagai pendamping hidupku. Aku tak ingin jika nantinya terjadi pertumpahan darah di pulau ini hanya karena aku memilih satu diantara kalian. Dan untuk mencegah itu semua, aku telah memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa sehingga kalian semua dapat memilikiku, tidak hanya pangeran, namun juga seluruh rakyat Lombok dan seluruh dunia ini. Terimakasih untuk mencintaiku, hiduplah selalu dengan damai tanpa pertumpahan darah! Selamat tinggal”

Setelah itu, secara tiba-tiba dan tanpa diduga, sang putri menceburkan diri ke laut. Spontan semua orang yang ada disana terjun ke laut untuk meyelamatkannya. Namun jangankan menyelamatkan, menemukan jazadnya saja tidak. Sang Putri lenyaptak berbekas bak ditelan ombak lautan. Walau demikian, beberapa saat setelah itu dengan kehendak Tuhan, Putri mandalika menepati janjinya. Muncullah pada saat itu ribuan bahkan jutaan cacing laut berwarna-warni yang dipercaya sebagai penjelmaan sang Putri. Cacing-cacing ini kemudian berbondong-bondong ditangkapi oleh rakyat kerajaan dan kemudian dikenal dengan nama nyale. Setiap tahunnya pada sekitar bulan februari dan maret cacing-cacing ini selalu muncul dan para warga sekitar selalu datang berbondong-bondong ke pantai untuk menangkap cacing-cacing itu dan kebanyakan dijadikan lauk, siapapun dapat melakukannya tanpa batasan status. Hal ini berlanjut hingga sekarang dan disebut dengan nama Festival Bau Nyale. Festival ini juga telah menjadi dipromosikan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Maka, sekarang tak hanya warga sekitar pantai Seger yang dapat “memiliki” sang Putri dalam wujud nyale, tetapi juga orang-orang di seluruh Indonesia dan dunia yang berkunjung ke sana pada saat festival.

KREATif Mataram: Gayatri & Metha

15 Maret 2009

KREATif dalam Bakti Sosial SMAN 78

Bakti Sosial merupakan salah satu program rutin OSIS-PK 78 yang setiap tahunnya selalu diadakan. Untuk tahun ini, program bakti sosial dilaksanakan pada 22 Februari 2009 lalu. Acara dilangsungkan di Yayasan Khasanah Kebajikan. Yayasan yang berlokasi didaerah Pos Pengumben-Jakarta Barat ini, selain memiliki panti Asuhan juga membuka TPA bagi anak-anak panti dan juga anak-anak sekitar yang masuk ke dalam golongan ekonomi rendah.
Bakti sosial yang satu ini bisa dibilang sebagai salah satu bakti sosial yang lain daripada yang lain. Serangkaian acara yang disuguhkan tidak semonoton konsep Bakti Sosial yang selama ini orang-orang awam kira. Terdapat berbagai hiburan yang membuat acara ini menjadi menyenangkan. Salah satunya adalah sesi menonton film. Sesi ini diisi dengan menonton film yang telah ditentukan panitia. Film tersebut adalah Wall-E yang dipilih atas pertimbangan kandungan pesan moral yang ada di film tersebut. Pesan moral yang diajarkan yaitu himbauan kepada umat manusia untuk tidak buang sampah sembarangan. Menghibur dan sarat akan makna.
Selain menonton film, terdapat juga sesi utama yang menambah bobot kualitas dari acara ini yaitu sesi pemberian materi tentang Hak Anak yang difasilitasi oleh saya sendiri (Aditya) yang mewakili KREATif.
Menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan Hak Anak seperti itu belum bisa terdengar tidak asing ditelinga masyarakat luas, terutama anak-anak itu sendiri. Salah satu alasan saya bisa beranggapan demikian karena melihat respon anak-anak saat itu yang terlihat asing. Mereka bertanya-tanya materi macam apa ini dan dengan begitu juga mereka menjadi serius mendengarkan materi ini karena penasaran akan apa isinya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua dari anak-anak itu dapat mencerna materi ini, karena memang masih ada beberapa yang umurnya masih terlampau muda.
Sesi penyampaian materi diperkaya oleh Bedah Kasus yang dilakukan diakhir-akhir waktu materi. Bedah kasus yang dimaksud adalah analisa mengenai contoh kasus yang berhubungan dengan materi yaitu Hak Anak. Masing-masing anak(yang bisa baca tulis) diberikan lembaran bedah kasus beserta soal kasus yang harus diisi. Nah, yang menyenangkan dalam bagian ini adalah pada saat mereka berlomba-lomba untuk maju dan menyampaikan jawaban mereka atas soal dari bedah kasus tersebut. Benar-benar menyenangkan karena respon seperti itulah yang saya harapkan dari anak-anak.
Respon baik juga datang dari ketua panitia kegiatan ini yaitu Adam. Mungkin beberapa teman-teman sekalian masih ingat dengan Adam? Ya, Adam adalah ketua panitia peringatan Hari Aids(17/12/08) SMA 78 yang di acara itu KREATif juga turut berpatisipasi.“Materi yang disampaikan sangat cocok untuk disampaikan di kegiatan ini. Karena menurut saya isi materi ini yaitu Hak Anak memang sudah sepantasnya untuk anak-anak pahami terutama anak-anak di panti ini. Kalau bukan di acara ini, belum tentu mereka bisa berkesempatan untuk mendengar tentang ini. Bahkan saya sendiri saja beru pertama kali mendengar tentang hal itu. Target yang pas! Salut untuk KREATif dan sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya”, Adam.

Oleh : Aditya Gilank Pratama

08 Maret 2009

Kemurnian Jiwa Sang Pangeran Kecil

Oleh : Raisa Aurora
Bagaimana orang dewasa memperlakukan anak kecil dan dunia sekitarnya, serta bagaimana anak kecil memandang dunia, menjadi tema menarik yang diangkat Antoine de Saint-Exupéry dalam buku The Little Prince. Sekian banyak hal menarik yang disampaikan Exupéry dalam buku tersebut. Perbedaan mencolok antara orang-orang dewasa dan anak-anak. Apakah tumbuh menjadi dewasa adalah sepenuhnya membuang pandangan kanak-kanak kita pada dunia? Itu patut direnungkan kembali.

Pelajaran pertama saat kita terbawa dalam alunan kisah The Little Prince adalah jangan mengecilkan hati seorang anak. Siapa di antara teman-teman yang pernah punya pengalaman diremehkan oleh orang tua? Atau diremehkan orang-orang dewasa? Pasti ada satu peristiwa kita di masa kecil yang berpengaruh pada kehidupan kita saat ini. Misalnya saat kecil gambar ayam kita ditertawakan oleh bapak, atau puisi kita diacuhkan oleh ibu, padahal sudah susah payah dibuat… tapi masih salah.

Masa kanak-kanak adalah anak tangga pertama seseorang mengenal dirinya, hendak jadi apa, apa yang disukainya, apa yang dibencinya, apa kemampuannya. Ketika seorang anak kecil ditertawakan dengan nada cemooh saat menyanyikan lagu “Balonku”, ia akan berpikir bahwa suaranya buruk, ia merasa malu, dan sadar bahwa dirinya (untuk selamanya) tidak memiliki kemampuan menyanyi. Apalagi jika cemoohan tersebut datang dari orang tuanya sendiri. Seorang anak mungkin tidak akan berkecil hati jika lingkungan luar bertentangan dengan dirinya, selama orang tua si anak membesarkan hatinya. Namun jika peran orang tua disalahgunakan dengan menjadi batu penghalang dan dinding yang membatasi kemampuan si anak, sangat telak akibatnya.

Dalam bukunya si penulis menceritakan pengalaman masa kecilnya, saat ia menggambar ular yang menelan gajah, sementara orang-orang dewasa di sekitarnya mengira gambar tersebut adalah topi. Saat si penulis menerangkan makna gambar buatannya, orang-orang dewasa justru menilai gambarnya tidak masuk akal. Tidak ada ular yang menelan gajah. Dan alih-alih memahami khayalan si penulis, orang-orang dewasa tersebut menganggapnya membuang waktu saja dengan menggambar sesuatu yang tidak masuk akal. Lebih baik pergunakan waktumu dengan mempelajari Sejarah, Matematika dan Geografi, demikian saran mereka. Akhirnya si penulis, dengan sedih membuang impiannya menjadi pelukis, dan belajar Sejarah, Geografi serta Matematika seperti yang disarankan. Namun ia tidak pernah melupakan pengalaman itu.

Kemudian cerita berlanjut melalui pengalaman si penulis terdampar di gurun Sahara setelah pesawatnya jatuh (penulis berperofesi sebagai penerbang), dan ia bertemu dengan Si Pangeran Kecil (The Little Prince). Dalam cerita ini Pangeran Kecil berwujud layaknya anak 10 tahun meski ia berasal dari planet lain, dan sama-sama terdampar di bumi. Selama ini sosok makhluk asing yang berasal dari planet lain digambarkan berbeda 180 derajat dengan manusia, namun Exupéry mengambil sudut pandang lain dengan menggambarkannya sebagai anak-anak biasa, lugu dan penuh khayalan. Ketika dalam perjumpaan pertama si penulis dengan Pangeran Kecil, si Pangeran meminta dibuatkan gambar biri-biri. Setelah si penulis hanya menggambarkan sebuah kotak dan penjelasan bahwa si biri-biri berada dalam kotak tersebut, si Pangeran Kecil mau menerimanya dengan sukacita.

Planet darimana si Pangeran Kecil berada adalah asteroid kecil bernama B 612 yang (dalam cerita ini) dahulu pernah dikemukakan seorang astronomer Turki pada dunia internasional. Namun karena sang astronomer mengungkapkan hasil temuannya dengan mengenakan pakaian nasional Turki, ia diacuhkan. Kemudian ia kembali lagi dengan mengenakan jas resmi, pakaian orang-orang Eropa, dan ia serta hasil temuannya disambut dengan baik.

Cerita ini mengingatkan kita pada pepatah “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Memang terdengar klise, namun cerita ini juga bermakna agar kita jangan menilai orang lain sesuai dengan keinginan kita. Si astronomer Turki tidak digubris karena ia tampil dengan mengenakan pakaian nasional Turki. Sementara banyak orang menilai bahwa seorang ilmuwan atau astronomer harus berpakaian resmi dengan jas dan celana panjang. Jika orang tersebut berbeda dari perkiraan kita, maka kita cenderung tidak mau mendengar apa yang diucapkannya.

Penilaian kita terhadap seseorang dipengaruhi seluas apa wawasan yang dimiliki dan sebanyak apa pengalaman yang dirasakan. Wawasan menjadi tolak ukur keingintahuan seseorang, sebesar apa kemampuan seseorang untuk memahami hal baru. Orang-orang seperti ini biasanya mau memahami perbedaan dari orang lain. Mengerti sudut pandang orang lain dalam suatu masalah. Pengalaman juga menunjang kemampuan hati kita untuk menyikapi perbedaan dari orang lain. Jadi otak dan hati bekerja sinergis dalam membuat penilaian yang obyektif.

Selama si penulis berusaha memperbaiki pesawatnya yang rusak di tengah gurun Sahara, si Pangeran Kecil menceritakan pengalamannya mengunjungi beberapa planet sebelum ke Bumi. Ia bertemu dengan orang-orang dewasa dari planet-planet tersebut, dan tidak memahami mereka.

Di suatu kisah ada orang dewasa yang sok berkuasa. Ia menyebut dirinya sebagai Raja dan suka memerintahkan hal-hal konyol. Ia senang akan kekuasaan karena dengan demikian dapat mengatur orang lain dan membuat hidup orang tersebut bergantung padanya. Inilah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan untuk menjadi pemimpin agar dapat menentukan tugas bawahannya, bersikap semena-mena tanpa si bawahan mampu menyela karena takut dipecat. Hasrat untuk selalu dijunjung oleh orang lain dan melihat segala hal dari atas. Padahal sosok pemimpin bukan orang yang duduk di kursi yang diangkat ramai-ramai oleh bawahannya, melainkan orang yang bersusah payah mengangkat beban bawahannya. Menjadi pemimpin bukan disediakan melainkan sibuk menyediakan untuk orang lain, sehingga ia mampu melihat dunia dari berbagai arah.

Satu pelajaran lagi yang didapat dari kisah The Little Prince tertuang dalam pengalaman si Pangeran Kecil bertemu rubah. Setibanya di bumi, Pangeran Kecil melihat banyak bunga mawar tumbuh di bumi, sementara di planet asalnya ia hanya memiliki satu mawar yang sangat berharga. Ia dulu mengira bahwa dirinya kaya karena memiliki sekuntum mawar yang cantik, ternyata mawar yang ia miliki hanya mawar biasa yang banyak jumlahnya di bumi. Kekecewaan ini terobati tatkala ia bertemu seekor rubah yang mengajarkan bahwa menghabiskan banyak hal bersama mawar yang ia miliki, membuatnya jauh lebih berharga daripada mawar-mawar lain di bumi. Ini memberikan kesan sendiri bagi saya, bahwa seseorang menjadi berharga dan berbeda dengan orang lainnya di mata kita, karena banyak hal yang telah kita lewati bersamanya.

Memandang kehidupan dengan kemurnian jiwa merupakan sesuatu yang kita terima dari buku ini. Kemurnian jiwa dimiliki oleh anak-anak. “Orang-orang dewasa menyukai angka-angka…” demikian yang ditulis Antoine de Saint Exupery. Lebih sulit menjelaskan arti keindahan dengan rangkaian kata-kata kepada orang dewasa daripada menjelaskan keindahan dari jumlah uang. Orang dewasa sulit dibuat berdecak kagum saat diterangkan mengenai gitar yang terbuat dari kayu mahogany, berwarna merah marun, dengan ukiran bunga di sisi kiri kanannya, dan bila dipetik mengeluarkan suara sebening air. Berbeda jika kita menjelaskan bahwa ada gitar seharga Rp 50 juta, nah orang-orang dewasa akan berpikir gitar itu tampak hebat tanpa tahu bentuknya.

Benarkah tumbuh dewasa berarti mengikis kemurnian jiwa kanak-kanak kita? Sepertinya tidak! Kita bisa tumbuh dewasa, bersikap dewasa, dengan memandang tulus kehidupan. Jangan buat hidup kita begitu sesak, karena akan menjadi sulit untuk menghirup keindahan dan kebaikan di sekitar kita.

04 Maret 2009

Segores Cerita Dari Cilincing

Cilincing, jika kita mendengar nama itu yang terbayang oleh kita adalah tempat truk-truk berlalu-lalang yang mengantarkan peti kemas untuk di Import keluar negeri atau memuat barang yang telah di kemas untuk di olah dan di perjual belikan di kota untuk memenuhi kebutuhan warga-warga kota. Bayangkan jika masih ada warga yang dapat tinggal di tempat yang bisa di sebut tidak layak untuk di tinggali oleh masyarakat pada umumya, tempat itu telah tecemari oleh asap-asap truk yang berlalu-lalang hampir setiap hari, tapi masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung tinggal di tempat itu, tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi truk-truk besar, sekarang menjadi pemukiman yang di tinggali banyak orang. Banyak balita yang masih kurang asupan gizi-nya berada di tempat itu, bayi yang masih rawan sekali terjangkit penyakit tinggal di tempat yang kotor dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah sekitar dan anak-anak usia sekolah menjadi supir Angkot. Itu mereka lakukan bukan karna kemauan mereka sendiri tapi atas desakan okonomi yang terus melonjak dan makin terpuruk. Ternyata pemerintah memang kurang perhatian pada daerah yang terpencil seperti itu, pemerintah hanya memikirkan kota-kota besar sebagai sumber devisa Negara, sedangkan orang yang tinggal di Cilincing menunggu janji-janji yang keluar dari mulut Capres yang mengatakan ini itu saat kampanye, dan sekarang apa buktinya? Hanya janji palsu yang membuat rakyat Indonesia menunggu, menunggu dan menunggu. Bagi mereka janji di ucapkan hanya saat kampanye yang dapa menarik hati-hati warga.
Seharusnya mereka mendapat tempat yang lebih layak untuk di huni, bukan tempat yang seperti itu, dan anak-anak seharusnya mereka mendapat pendidikan yang layak untuk bekal mereka saat dewasa nanti. Pendidikan sangatlah penting untuk bekal di kehidupan mereka yang akan datang.

oleh : Muhammad Akmal