Laman

Quotation of the Day

03 Oktober 2013

Indonesia (Bukan) Hutan Rimba

Indonesia (Bukan) Hutan Rimba
KREATif Magelang - Judha Jiwangga
 
Pada masa awal kolonialisme ketika Belanda datang ke Indonesia muncul anggapan bahwa bangsa Hindia Belanda atau Indonesia adalah bangsa bar-bar atau tidak beradab. Mereka menganggap kehidupan orang-orang pribumi yang tradisional sebagai hal yang rendah dibandingkan dengan kehidupan bangsa Belanda. Tetapi masa itu sudah lama berlalu. Saat ini bangsa kita sudah merdeka dan sudah mengeyam kemajuan-kemajuan dunia. Indonesia sudah berkembang pesat dengan keadaan ketika penjajah menginjakkan kakinya ke Indonesia pertama kali.
 
Sebuah kenyataan bahwa Indonesia selalu mengalami dinamika dalam pengembangan dirinya sebagai suatu negara dan bangsa. Pembangunan digiatkan untuk memajukan Indonesia. Tetapi marilah kita melihat realita yang terjadi pada Indonesia dewasa ini. Mungkin kita dapat menyebut Indonesia sebagai “hutan rimba”. Mengapa hutan rimba? Didalam hutan rimba, hukum alam masih menjadi pedoman yang mutlak dan absolut sebagai instrumen seleksi alam. Hukum itu menyatakan siapa yang kuat, ia akan dapat bertahan. Apalagi dalam pelaksanaan hukum alam itu tak jaarang menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapainya. Lalu apa yang menjadi korelasi antara hutan rimba dengan hukum alamnya dengan Indonesia?

Realita di Indonesia pada dewasa ini menggambarkan proses dehumanisasi yang kemudian membawa distorsi pada struktur sosial masyarkat. Sebut saja kasus-kasus korupsi para petinggi negara yang menggerogoti uang rakyat. Kekuasaan diciptakan bukan untuk menindas rakyat tetapi untuk mensejahterakan rakyat. Penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat negara ini yang membawa pemiskinan bagi rakyat Indonesia. Dengan kasus itu juga menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan dapat digunakan untuk melanggengkan kepentingannya dan mengenyampingkan kepentingan umum.

Peristiwa lain yang muncul adalah maraknya kekerasan di lingkungan masyarakat. Pola masyarakat yang bersifat paguyuban mulai bergeser menjadi masyarakat individualis dan anarkis. Lihat saja akhir-akhir ini banyak sekali kasus-kasus pembunuhan yang terjadi. Seakan-akan membunuh itu adalah hal yang tidak ditakuti dan menjadi sebuah penyelesaian masalah. Padahal pembunuhan secara keras dikecam karena merenggut hak hidup seseoran dan tidak sesuai dengan landasan hukum yang ada di Indonesia.

Melihat semua peristiwa itu, marilah kita bercermin kembali. Apakah memang layak Indonesia disebut sebagai hutan rimba? Apakah kita akan hidup tanpa ada dialog antar individu dan tanpa peradaban? Manusia diciptakan oleh Tuhan memiliki akal dan budi untuk dapat berpikir dan menimbang tentang hal yang baik atau buruk. Itu sudah menjadi hal yang mendasar dalam hidup kita untuk bisa memilih sesuatu yang terbaik. 

Tetapi kita cenderung mendahulukan ego kita bahkan hingga kadang kita menjatuhkan orang-orang di sekitar kita demi melanggengkan kepentingan kita. Kita bukan hewan yang hanya mengandalkan nalurinya. Kita dituntut untuk dapat menyelaraskan pikiran dan perasaan yang kemudian dapat dijadikan landasan dalam interaksi sosial. Dengan dasar interaksi sosial yang kuat dan baik maka akan terwujud masyarakat yang harmonis dan beradab. Itulah tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab bukan menjadi negara hutan rimba Indonesia.

03 November 2012

Jenis-jenis Paragraf Itu Apa Saja Sih?


Dalam membaca kita sering sekali menemukan paragraf. Begitu pula dengan menulis, justru kitalah yang akan membuatnya. Kita sering sekali mendengar istilah 'paragraf'. Tapi sebenarnya kita tau tidak sih apa pengrtian dan jenis-jenis dari paragraf itu sendiri?

#Paragraf (alinea) ==> bagian karangan => Himpunan kalimat yang bertalian satu sama lain. Terdapat pikiran utama dan penjelas. #Paragraf kadang jg disebut alinea; yakni ganti garis / garis baru dalam tulisan.

Oya, ngomong2 sobat @KREATifINA tau tidak ada berapa tipe yang terdapat dalam paragraf?

Sekadar informasi, paragraf terbagi ke dalam 4 tipe. Mereka adalah ===> deduktif, induktif, repitif dan terbagi.

1.     #Deduktif ===> Uraian | Kalimat utama diletakkan di awal karena akan diuraikan lewat kalimat-kalimat penjelas setelah itu.

Contoh : (1) Luar biasa bencana Tsunami di Aceh. (2) Ombak yang semula kecil di laut tiba-tiba menggunung, menerjang apa saja di depannya. (3) Ribuan bangunan hancur sedangkan hektaran sawah punah (4) Ratusan ribu orang meregang nyawa (5) Kerugian materil diperkirakan ratusan milyar rupiah.

Nah, dari sebuah paragraf yang adadi atas,sobat @KREATifINA sudah bisa menebak kan ada di kalimat nomor berapa kalimat utamanya? :D

Yap! Benar sekali! Kalimat utama tulisan tadi ada pada kalimat no. 1 yakni "Luar biasa bencana Tsunami di Aceh".

Sedangkan pikiran utamanyanya adalah : Bencana tsunami yang dahsyat dan kalimat penjelas terdapat pada kalimat no. 2, 3, 4 & 5.

Nah, itulah mengapa paragraf tadi disebut sebagai paragraf deduktif. Sebab kalimat utamanya ada di kalimat nomor 1.

Kebalikan dari #deduktif , kini kita akan mengenal yang namanya paragraf #Induktif. Apakah itu? Ada yang tahu? :D

2.     #Induktif ==> Kesimpulan | Jika deduktif kal. utamanya ada di awal, maka paragraf induktif memiliki kalimat utama di akhir paragraf.

Karena terletak di akhir paragraf, maka kalimat utama pada paragraf induktif juga sering disebut sebagai 'kesimpulan'

contoh : (1) Gelandangan itu beranak empat, dua laki-laki dan dua perempuan. (2) Suaminya sudah lama tiada. (3) Keluarga yang dipimpinnya kini tinggal di kolong jembatan yang kotor & sempit. (4) Sebagian bedengnya malah harus dia sewa dari preman lokal. (5) Sungguh, kehidupan keluarga ini sangat mengharukan.

Nah, dr paragraf tersebut teman-teman sudah paham kan dimana letak kal. utamanya? :D

Yap! Benar! Kalimat utama pada paragraf tersebut ada di kalimat no. 5, yakni "Sungguh, kehidupan keluarga ini sangat mengharukan"

Karena paragraf #induktif = kesimpulan. Maka bisa kita katakan bahwa kalimat utama pada #induktif = kesimpulan.

Jika kal. utama ===> kal. no. 5, maka kebalikan dari #deduktif, pada #induktif, kal. penjelas ===> kal. nomor 1 - 4.

Sedangkan pikiran utama pada paragraf tadi adalah : gelandangan miskin. Deduktif sudah, induktif sudah, hmm.. apalagi ya? Oh ya! Repitif!

3.     #Repitif ==> Diulang | Sesuai namanya, kalimat utama pada paragraf ini terdapat di awal dan di akhir paragraf.

Contoh : (1) Tahun 1998 adalah transisi bersejarah dalam kehidupan bernegara di Indonesia. (2) Pada tahun itu rezim Soeharto ambruk. (3) Banyak elit politik yang munafik berjatuhan dari kursi jabatan mereka. (4) Meski banyak presiden jatuh dan bangun setelah itu, demokrasi dan kedaulatan rakyat lebih kental berperan. (5) Tahun 1998 adalah awal dari era Indonesia baru. 

Sesuai pengertian repitif, maka kal. utama pada paragraf repitif ada pada kal. no. 1 dan 5 (diulang lagi di akhir). yakni, "(1) Tahun 1998 adalah transisi bersejarah dalam khdpn bernegara di Indonesia" dan "(5) Tahun 1998 adalah awal dari era Indonesia baru".

Sedangkan pikiran utama dari paragraf barusan adalah ==> Tahun 1998 adalah masa transisi Indonesia baru. Sampai sini ada yg mau bertanya? :D

#deduktif, #induktif dan #repitif sudah. Ada satu lagi nih yang kurang. Apalagi kalau bukan paragraf terbagi! :DDD

4.     #Terbagi ==> Tidak bertumpuk pada satu kalimat saja, melainkan pada semua kalimat atau beberapa kalimat.

Contoh : (1) Di sebuah kota kecil di Belanda terdapat tempat prostitusi terbuka. (2) Tak jauh dari situ terdapat pula pusat transaksi ganja yang legal. (3) Tentu saja masih tersedia ruang publik yang lumayan steril untuk anak-anak Anda. (5) Bahkan di seberang pulau kota itu terdapat perpustakaan daerah yang konon dibangun sejak abad ke-19.

Berbeda dengan #deduktif (awal), #induktif (akhir )& #repitif (awal & akhir), pd paragraf lebih 'membingungkan' atau kompleks.

Terus bagaimana dong cara mencari tahu pikiran utamanya? Caranya simpel! Cari bagian2 yg penting!

Yuk kita ingat2 & perhatikan kal. 2 tadi! Di sana ada tempat prostitusi terbuka, transaksi ganja, ruang publik bagi anak-anak dan perpustakaan daerah. Nah, kata-kata yang KREATif sebutkan barusan adalah pikiran utama dari #repitif.

Mengapa disebut pikiran utama? Karena kata2 tersebut "PENTING". Nah, sisanya, adalah pikiran penjelas.

Paragraf #terbagi biasa digunakan oleh seorang penulis ketika ia menganggap semuanya penting & ia tidak bisa meletakkan pikiran utama di awal/akhir/awal+akhir. Maka dari itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh seorang penulis adalah dengan meletakkan pikiran utama pada beberapa atau justru semua kalimat suatu paragraf. Oya @KREATifINA -ers, kalau mau cari yang mana kal. utama, carilah kalimat yang lebih umum atau belum spesifik ya. Biasanya kalimat yang lebih umum adl kal. Utama

Kesimpulan =>
#Deduktif (Kal. utama - Kal. penjelas ==> Awal)  
#Induktif (kal. penjelas - kal. utama ==> akhir)
#Repitif (Kal. utama - Kal. penjelas - kal. utama ==> Awal+akhir)  
#Terbagi (tergantung)

Nah, sampai sini ada yang masih bingung atau mau bertanya? Kalau ada, jangan sungkan-sungkan ya ^_______^

Follow & pantau terus TL @KREATifINA ya… :D

NB : Diambil dari #Kultwit KREATif #1 edisi 22/10/12

13 Juli 2012

Kawanan Bocah

Kawanan Bocah
KREATif DKI Jakarta – Noval Kurniadi

Berbondong-bondong kawanan bocah
Dengan pakaian apa adanya
Dan rambut klimis tak tersisir rapi
Merajut harap demi sebuah impian

Berkerumunlah mereka di sebuah sekolah
Mengutip kata-kata sang guru
Lalu mengintip tinta di papan tulis
Dengan mencuri dan bersembunyi ‎
Agar tiada yang mengetahuinya

Berharap suatu hari ada mukjizat
Yang tak hanya membawa nikmat
Tetapi juga berkat dan rahmat
Mudah-mudahan, kata mereka

Dan di kala siang menerpa
Mentari sedang di atas singgasananya
Bergegas pulanglah para bocah
Dengan langkah hati-hati

Agar tidak ketahuan maksudnya

Beginilah kehidupan mereka
Tiap hari selalu demikian
Harus mencuri ilmu di sekolah itu
Lantaran terkekang biaya yang tak beri ‎izin
Meski terkadang harus teteskan air mata,‎
Para bocah tak pernah putus asa
Mereka terus berjuang demi dapat setitik ‎ilmu

28 Juni 2012

Selamat Gya!! :D

KREATif (Komunitas Remaja Pena Anak KREATif) mengucapkan "SELAMAT" kepada :
I Gusti Ayu Sri Gayatri Kancana Dewi  
alias Gya dari KREATif Mataram
atas terpilihnya sebagai juara utama Tunas Muda Pemimpin Indonesia (TMPI) 2012. Sekali lagi SELAMAT!! :)))

18 April 2012

Save Our Papers Jakarta

Pada hari Minggu aku pergi ke pantai. Saya pergi ke pantai menaiki mobil saya. Saat di mobil saya melihat pemandangan bagus sekali. Saya melihat sawah, pegunungan dan juga kerbau. Saya tiba di pantai senang sekali. Dan saya bermain pasir dan saya bermain air di sana. Saya melihat kerang dan melihat ikan yang indah. Saat pulang saya menaik mobil saya. Saya melihat pemandangan yang lebih bagus. Saya melihat ikan yang dijual di jalan raya.

***

Itulah salah satu karangan yang ditulis oleh salah seorang peserta Save Our Papers alias SOP Jakarta seusai pemberian materi menulis. Tulisannya khas anak-anak. Polos, lucu dan apa adanya.

Well, inilah serangkaian aksi Save Our Papers yang terakhir setelah sebelumnya diselenggarakan di 3 kota besar di Indonesia : Bengkulu, Mataram dan Palembang. Jakarta yang dahulunya bernama Jayakarta akhirnya menjadi tempat terakhir penyelenggaran dari aksi nasional ini.

Sekitar dua bulan kami melakukan pengumpulan buku dan kertas-kertas bekas. Setelah terkumpul cukup banyak, kami pun ‘menyulap’ kertas-kertas dan buku-buku bekas tersebut menjadi buku-buku layak pakai. Untuk cover, kami memakai karton dan kalender bekas. Sebagai tindak lanjutnya, kami memanfaatkan buku-buku yang sudah kami ‘sulap’ menjadi barang yang lebih berguna dengan mengadakan workshop mini seputar menulis. Apalagi kalau bukan Save Our Papers.

Dari sekian banyaknya tempat anak di kota Jakarta, entah itu panti asuhan ataupun sekolah, SD Al-Anwar, Cilandak, Jakarta Selatan lah yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan aksi SOP (Save Our Papers) KREATif Jakarta. Ada beberapa keputusan yang kami pertimbangkan mengapa kami memilih sekolah ini sebagai lokasi acara.

Pertama, dari segi sumber dana sekolah itu. Bayangkan, demi kelancaran proses belajar-mengajar, dana sekolah didapatkan dari sumbangan yang didapatkan dari rumah ibadah (baca : masjid) terdekat. Belum lagi mayoritas pelajar di sekolah itu juga merupakan anak yatim. Jangankan memiliki lapangan untuk berupacara setiap Senin tiba, perpustakaan pun juga tiada. Kendati demikian, setidaknya sekolah berlantai 2 itu masih lebih beruntung ketimbang sekolah dasar lainnya di pelosok daerah yang masih jauh dari kata layak. Keterbatasan tidak menjadi penghalang. Meski tak memiliki ruang, setidaknya ada satu hingga tiga rak buku yang ditempatkan di koridor di lantai atas sekolah secara terbuka.

Kembali soal SOP, SOP Jakarta diselenggarakan pada Minggu, 15 April 2012. Namun meskipun acara baru akan dimulai pada pukul 10.00 WIB, antusiasme para peserta untuk mengikuti workshop mini SOP tak surut. Terbukti sejam sebelum acara dimulai yakni sejak pukul 09.00 WIB, anak-anak yang terdiri dari kelas 3, 4 dan 5 sudah hadir terlebih dahulu di sekolah. Ditemani dengan beberapa guru pendamping, mereka menunggu kami dengan sabar.

Ternyata benar saja, Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Begitu kami hendak memulai acara pada pukul 10.00 WIB, dengan segera adik-adik naik ke lantai atas lalu menempati tempat duduk masing-masing di sebuah kelas tak ubahnya semut yang mengantri pembagian gula. Mereka senang, kami yang hendak mengadakan acara juga senang.

Seharusnya ada 30 anak yang akan mengikuti workshop mini yang kami adakan. Tetapi entah mengapa hanya ada 19 anak saja yang hadir. Entah kemana 11 anak lainnya. Namun begitu ditanya tentang temannya yang tidak hadir, seorang anak mengatakan bahwa temannya masih tertidur pulas sehingga tidak datang ke acara SOP. Sebagian lainnya mungkin ada yang lupa, ada juga yang mendadak berhalangan begitu hari H. Tapi ya sudah lah, show must go on! Apapun kondisinya kami tetap harus melanjutkan acara. Dengan 19 adik pun kami juga sudah bisa membuka acara.

Acara diawali dengan perkenalan. Mulanya kami memperkenalkan masing-masing personal dari kami serta sekilas tentang apa sih KREATif itu. Kami menjelaskan bahwa KREATif adalah komunitas penulis muda yang peduli akan hak-hak anak yang dinaungi oleh YKAI dan UNICEF. Kami menjelaskan bahwa ada loh organisasi anak yang peduli dengan keberadaan anak-anak! Tak lama berselang kini giliran bagi adik-adik Al-Anwar untuk berdiri sembari memperkenalkan diri masing-masing. Tak hanya memperkenalkan diri, mereka juga harus bercerita kepada kami kira-kira kalau sudah dewasa nanti ingin jadi apa sih? Begitu masing-masing dari mereka melontarkan jawaban, seketika kami takjub. Tak dinyana, jawaban mereka tak kami duga-duga. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, arsitek bahkan hingga pemain sepak bola!

Tepuk hak anak! Prok prok prok! Hak Hidup! Prok prok prok! Tumbuh Kembang! Prok prok prok! Perlindungan! Prok prok prok! Partisipasi

Lanjut... Oya, sebelum acara inti dimulai, kami melakukan tepuk hak anak terlebih dahulu lho... Adik-adik kami pinta untuk berdiri lalu dipimpin oleh Noval, ketua KREATif, kami melakukan tepuk hak anak secara bersama. Salutnya, pemahaman mereka bisa dikatakan cukup cepat. Begitu ditanya siapa yang berani mempraktekkan tepuk hak anak di depan, seorang anak mengajukan diri dan mencontohkan tepuk hak anak di hadapan teman-temannya yang lain. Sontak tepuk tangan bergemuruh di seisi ruangan kelas. Sebagai apresiasi atas keberaniannya, KREATif pun memberikannya sebuah bingkisan menarik.

Noval KREATif memberikan materi seputar menulis kepada adik-adik Al-Anwar

Beranjak ke acara berikutnya, kini tiba waktunya pemberian materi alias sharing bersama. Namun sebelum itu, Febi, Dini dan Ilman membagikan alat tulis berupa pensil, buku SOP, rautan dan penghapus terlebih dahulu kepada masing-masing peserta. Lalu bermodalkan sebuah papan tulis dan sebuah spidol, kami pun berbagi ilmu kepada adik-adik.

Kami sharing kepada mereka bahwasanya untuk menulis itu tidaklah sulit, asalkan ada kemauan, kita pasti bisa menulis. Masalahnya, apakah kita tau bagaimana caranya? Nah, di sinilah fungsinya workshop mini. Kami saling berbagi pengetahuan agar kami bisa belajar satu sama lain.

Dalam sharing, kami menjelaskan bahwa pertama kali yang perlu dilakukan sebelum menulis adalah memahami apa pengertian dari menulis. Jika kita saja tidak mengerti apa itu pengertian menulis, lantas bagaimana kita bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan? Tetapi jika kita sudah mengerti apa itu menulis, kita bisa langsung menentukan tema. Kira-kira apa sih gambaran besar atau apa sih yang ingin kita bahas dalam tulisan kita?

Setelah menentukan tema langkah selajutnya adalah langsung menulis. Dalam sharing ini, kami tidak ingin terlalu banyak teori karena sasaran kami masih SD sehingga kalau teori yang kami sampaikan terlalu banyak, kami khawatir jika mereka mengalami kesulitan dalam mencerna apa yang kami sampaikan. Maka setelah menentukan tema, kami menjelaskan bahwa kita bisa langsung menulis. Namun jika adik-adik mengalami kesulitan, kami menjelaskan bahwa agar lebih mudah, kita bisa menentukan inti-inti alias poin-poin apa saja yang ingin kita tulis dalam tulisan kita. Setelah inti-intinya sudah disusun, barulah kita bisa mengembangkan poin-poin tersebut menjadi sebuah tulisan utuh. Oya, judul juga tak kalah penting. Kami juga menjelaskan kepada adik-adik bahwa tulisan tanpa judul ibarat orang tak punya nama dan betapa pentingnya menulis judul. Bahkan demi lebih memperkuat tulisan adik-adik, kami juga berbagi ilmu tentang penggunaan huruf kapital dan tanda baca secara benar dan tepat.

Pukul 11.30 WIB. Tak terasa workshop mini sudah berjalan selama 1 jam. Nah, ini dia waktu yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan lomba menulis! Ya, lomba menulis! Sayang-sayang dong sudah mendapatkan materi tetapi tidak melakukan praktek nyata? Maka inilah wadah yang tepat bagi mereka untuk menuangkan kreativitas mereka dalam bentuk tulisan. Temanya terserah, yang penting tentang pengalaman pribadi. Bagi 3 terbaik berhak mendapatkan hadiah. Kami ingin tahu kira-kira bagaimana sih adik-adik Al-Anwar menuangkan pengalaman yang mereka alami dalam bentuk tulisan?

Beberapa menit berlalu. Adik-adik yang sudah menyelesaikan tulisannya boleh menerima makanan sembari menuliskan kesan-kesan mereka terhadap acara ini pada selembar post it untuk ditempelkan di kertas karton yang sudah kami pasang di dinding. Lalu seiring berjalannya waktu, satu per satu peserta bangkit dari kursinya, mengumpulkan buku, menempelkan post it pada karton lalu sembari menunggu teman-teman yang lain, mereka dipersilakan untuk makan makanan yang tersedia.

Akhirnya semua peserta selesai menulis. Kami pun melakukan penjurian. Penjurian dilakukan oleh Febi, Noval dan Dini (hendak bergabung di KREATif) di ruang terpisah dengan ruang tempat workshop mini dan lomba menulis dilaksanakan. Kami melakukan penilaian berdasarkan isi, gaya bahasa dan judul. Nah, poin terbanyak yang didapatkan dialah yang akan menjadi pemenangnya. Di saat bersamaan, guna mengisi kekosongan selagi penjurian, Kak Dede, Wiza dan Ilman yang sedari tadi stay di tempat melakukan games interaktif kepada adik-adik Al-Anwar. Selain melatih konsentrasi, games ini juga melatih kemampuan motorik anak.

Finish! Tak terasa sudah satu jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan puku 13.00 WIB. Itu artinya kami bertiga (Noval, Febi dan Dini) harus kembali ke atas untuk mengumumkan siapa 3 pemenang dari lomba menulis ini. Setibanya kami disana, kami membagikan buku terlebih dahulu secara acak. Jadi bagi adik-adik yang tidak merasa bahwa buku yang ada padanya bukan miliknya harus mengembalikan kepada yang empunya. Ada 16 buku yang kami bagikan. Artinya, ada 3 buku yang sengaja kami sembunyikan. Nah, 3 buku yang kami sembunyikan inilah karya para pemenang dalam lomba ini. Kami sengaja menyembunyikan ketiga buku itu karena kami ingin membuat kejutan.

Sebelum mengumumkan hasil lomba, kami bertanya terlebih dahulu siapa saja yang tidak kebagian buku. 3 orang mengaku kepada kami bahwa mereka tidak kebagian buku. Nah, di saat inilah kami mengerjai mereka. Kami menuduh bahwa ketiga orang tersebut tidak mengumpulkan buku. Kami beranggapan bahwa mereka ceroboh. Nah, sebagai dampak dari perbuatan mereka, kami menyuruh 3 orang yang kehilangan buku tersebut itu untuk maju ke depan untuk menuliskan masing2 dua kalimat di atas papan tulis. Mulanya tidak ada yang mau. Mereka merasa malu di satu sisi mereka merasa sudah mengumpulkan buku kepada kami. Sampai-sampai mata mereka berkaca-kaca seolah tak percaya bahwa buku mereka hilang. Akhirnya setelah kami dorong untuk berlaku berani, seorang di antara mereka memberanikan diri menulis di papan tulis. Keberaniannya membuat dua orang temannya juga turut memberanikan diri. Akhirnya mereka bertiga menuliskan masing-masing dua kalimat di atas papan tulis.

Setelah selesai, kami bertanya nama mereka masing-masing kemudian kami menuliskan nama mereka satu per satu pada sebuah buku. Di saat bersamaan kami seakan menyudutkan mereka dengan berkata bahwa mereka seolah tidak mengumpulkan buku. Sampai pada akhirnya ada di antara mereka yang mau menangis, barulah kami membeberkan kepada mereka bahwa tiga orang yang kehilangan bukunya adalah 3 pemenang dalam lomba ini. Kami juga menjelaskan kepada mereka bahwa kami hanya bercanda dan hanya bermaksud membuat kejutan. Sontak mereka kaget. Seketika tepuk tangan bergemuruh, tak menyangka bahwa ternyata 3 orang yang kehilangan bukunya adalah pemenang dalam lomba ini. Mereka adalah Nur Fitriah (Juara 1), Irza (Juara 2) & (Juara 3).

KREATif berpose dengan adik-adik Al-Anwar usai Save Our Papers Jakarta pada Minggu, 15 April 2012

Tak lama selang pembacaan hasil lomba, para peserta yang dinyatakan pemenang membacakan karyanya secara bergiliran di depan kelas. Setelah itu kami melakukan pembagian hadiah. Hadiah diberikan secara bergiliran dari juara terendah hingga tertinggi (juara 3, 2, 1) oleh Dini, Febi dan Noval. Hadiah yang kami berikan berupa keperluan sekolah yang dimasukkan ke dalam sebuah tas kertas. Kami memilih memasukkan hadiah ke dalam tas kertas ketimbang membungkusnya dengan kado sebab selain ramah lingkungan, tas kertas juga bisa digunakan dalam keperluan sehari-hari. Tak hanya kepada para peserta, kami pun juga memberikan sedikit pemberian kepada pihak sekolah berupa dua buah spidol whiteboard dan isi ulang tinta. Tak terasa sudah 3,5 jam waktu berlalu. Akhirnya setelah kami beres-beres terlebih dahulu, acara pun ditutup dengan doa dan berfoto bersama.* (NK)