Halaman

13 Desember 2008

Tabrakan Gelombang Bunyi "Antara Ibu dan Aku"

Oleh: Rilnia Metha Sofia

Ibu. Berbagai Kata-kata pernah saya dengar dan baca tentang rajutan tiga huruf itu-ibu, antara lain :
“Seorang ibu bisa memelihara dan merawat 10 orang anak, tapi 10 orang anak, belum tentu bisa merawat dan memelihara seorang ibu.”
“Ibuku cerewet banget. Sering marah-marah. Kalo udah ngomel, nggak putus-putus, bikin pusing!”

Saya setuju dengan kedua pernyataan itu. Saya sendiri pastinya punya ibu. Dulu saya tak jarang bertengkar dengan ibu. Ibu saya sosok yang telaten sekaligus cerewetnya minta ampun. Semua itu membuat saya malas pulang ke rumah. Akhirnya, saya putuskan untuk mengikuti banyak ekskul sekolah sehingga saya selalu pulang maghrib tiap hari. Yah, cukup melelahkan. Tapi, tetap saja, sesampai di rumah, ibu menghujani saya dengan omelan-omelan panjang plus pedas. Bahan omelannya cukup banyak: meja belajar yang berantakan, buku-buku yang berserakan di tempat tidur, sampai pakaian kotor yang belum sempat saya cuci. Tapi, semua itu hanya singgah beberapa saat di hati.

Omelan-omelan ibu tentang kerapian memang sudah lumrah. Saya memang sok sibuk dan tidak memedulikan kerapian kamar saya sendiri. Saya tahu, saya salah. Tapi, bukan itu yang membuat saya selalu menangis sendiri tiap malam.Membaca Alquran merupakan rutinitas saya setelah shalat magribh. Sedangkan, menonton TV dengan volume keras merupakan rutinitas ibu saya setelah shalat magribh. Karena itulah, tak jarang juga saya mengeraskan suara membaca Alquran dan tak jarang juga ibu marah karena itu. Tiap malam, seolah ada tabrakan gelombang bunyi di rumah, antara gelombang bunyi TV dengan bacaan Alquran. Tiap kali hal itu terjadi, saya selalu menangis lalu memeluk erat Alquran, sangat erat. Kemudian, membacanya lagi dengan suara berat, setengah berbisik.

Suatu sore, saya lupa hari itu hari libur atau tidak, saat itu saya sedang membaca Alquran di rumah sendirian, ibu dan ayah sedang pergi belanja. Tiba-tiba, ibu pulang membawa oleh-oleh,”omelan-omelan yang amat pedas.” Parahnya, semua itu untuk saya karena saya sibuk membaca Alquran sementara ayah telah mengalami kecelakaan kecil. Padahal waktu kecil, ibu sering mengajar saya membaca Alquran. Saya heran, sejak kapan ibu seperti itu. Hati saya terasa pedih. Sejak saat itu, saya tidak mau lagi membaca Alquran di rumah.

Bulan demi bulan terlewati tanpa ada tabrakan bunyi lagi di rumah. Ayah sempat bertanya tentang rutinitas yang hilang itu. Tapi, saya hanya diam. Saat itu, frekuensi omelan ibu berkurang. Saya pun menjadi pendiam. Saya sering menyendiri di kamar. Sejak saat itu, hidup saya hampa. Waktu berputar terasa begitu cepat. Kebagiaan kesedihan tak bisa saya rasakan lagi. Tiap saya bangun tidur, saya membuka jendela lalu melihat langit dan bergumam,”Untuk apa saya hidup? Semua ini, untuk apa ada?”

“Ibu”, saya sering mendengar kata-kata sayang teman-teman di sekolah untuk ibu mereka. Saya menganggap semua itu hanya omong kosong. Entah apa itu ibu di mata mereka. Tapi, saya menginginkan sosok ibu seperti ibu-ibu mereka. Ibu tempat berkeluh-kesah, ibu yang tiap hari menyambut mereka dengan kata-kata hangat saat pulang sekolah, ibu yang membelai haru mereka saat mereka meraih prestasi, ibu...ibu...ibu...ibu....

Seiring perjalanan waktu, ibu saya sakit. Penyakitnya aneh. Penyakit yang membuatnya tidak mengenal saya, tidak mengenal ayah, tidak mengenal siapapun. Penyakit itu sangat menakutkan. Ayah membawa ibu berobat kemana-mana, tapi belum kunjung sembuh. Hal itu menjadi pukulan terberat dalam hidup saya. Detik-detik yang saya lewati terasa perih. Melihat ibu yang sakit dan Ayah yang begitu terpukul dengan keadaan ibu membuat saya begitu pedih. Saya rindu semuanya: rindu keluarga saya yang dulu, rindu omelan-omelan ibu, dan rindu Alquran. Saat itu, saya mulai membaca Alquran lagi di rumah. Tiap hari, saya membaca Alquran di dekat ibu.
Bumi memang terus berputar sebagai sunatullah yang akan terus berlaku. Perlahan, ibu mulai sembuh, lalu mengingat semuanya. Kini, omelan ibu menjadi bagian hidup saya lagi. Saya tak iri lagi dengan ibu teman-teman, karena saya juga punya ibu yang penuh kasih sayang. Yahh, meski sayang itu ia ekspresikan dengan omelan-omelan panjang lebar. Bagaimana pun, ibu adalah ibu. Oh, iya, sekarang tak ada lagi pertengkaran gelombang bunyi di rumah, karena setelah shalat maghrib, saya dan ibu membaca Alquran bersama dan setelah shalat Isya, saya dan ibu nonton TV bersama juga, “Ha..ha...ha...!”

Selamat Hari Ibu Untuk Semua Ibu
For my Mom, Keep Ngomel Yeahhh!!!
I Love You Ibu...

Tidak ada komentar: