Halaman

01 Desember 2008

1 Desember: Hari AIDS sedunia


Terima Mereka Apa Adanya

Siapa yang mau tertimpa musibah, apalagi penyakit yang mematikan? Tentunya semua ingin menghindar , dan kalau bisa lari sekencangnya dari musibah itu. Tapi kalau dia sudah hadir di dalam diri kita dan ikut hidup bersama dalam darah, siapa yang bisa menjauhinya? Satu-satunya jalan adalah mengganggap dia sebagai teman dan menerima takdir. Itulah ungkapan derita salah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang kini mengidap penyakit mematikan HIV/AIDS.

Persoalan AIDS memang sangat kompleks. Isu seputar HIV/AIDS terus berkembang, dari isu yang sifatnya ilmiah dan rasional, sampai yang pada irasional dan mistis. Isu-isu ini kemudian memunculkan berbagai stigma serta moral judgement bagi orang-orang yang terinveksi HIV/AIDS. Yang lebih memprihatinkan lagi, perempuan selalu menjadi objek wacana AIDS, padahal virus ini pertama kali ditemukan justru pada pasangan homoseksual ( laki-laki).

Di Indonesia misalnya, meskipun 79,1% penderita HIV/AIDS adalah laki-laki, justru perempuan cenderung menjadi objek utama kampanye, sosialisasi, stigma serta vonis moral masyarakat. Mengherankan memang , meski mereka yang hanya 20,9% justru harus menanggung sanksi sosial yang maha berat itu.

Pada sebuah majalah terbitan Ibukota pernah diangkat kisah aktual Ani, seorang ODHA yang meninggal di Surabaya. Akibat informasi yang sangat minim, masyarakat (termasuk ketua RW dan staff) disekitarnya, menolak keberadaan Ani dilingkungan mereka. Jangankan mengunjungi tetangga yang sakit, mereka bahkan tidak mau memandikan dan menguburkan jenazah Ani, hanya dengan alasan tidak ingin tertular HIV/AIDS. Lebih dari itu, mereka juga tidak datang ketika diundang tahlilan oleh keluarga almarhumah. Untung saja ada yayasan yang concern dengan isu HIV/AIDS yang memperkuat almarhumah sejak sakitnya menjadi lebih parah hingga meninggal.

Kasus ini menjadi simbol betapa masyarakat memberi sanksi, bahkan vonis negatif kepada orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Memang perlu menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Sekalipun masyarakat melek HIV/AIDS, vonis yang dikhususkan bagi perempuan itu nampaknya tidak akan hilang. Alih-alih mempertanyakan mengapa vonis moral ini tidak ditunjukan pada laki-laki, menuntut treatment yang adil bagi ODHA laki-laki dan perempuan pun, sulit dilakukan.

Memang, ada dua perspektif yang digunakan dalam melihat masalah ini. Di Barat misalnya, memandang masalah ini sebagai persoalan duniawi dan alamiah, yang kemudian misalnya menawarkan kondom sebagai jalan yang rasional dan manusiawi tanpa perlu menitipkan pesan moral dibalik kampanyenya kondom. Bagi mereka sangat sederhana, dengan kondom semua aman.

Di masyarakat Indonesia lain lagi, khususnya kalangan agamawan. Masalah moral selalu diikutkan, sehingga yang terjadi adalah vonis benar salah atau baik buruk. Yang baik dan benar diterima, yang buruk dan salah ditolak. Bagi mereka, HIV/AIDS merupakan penyakit kutukan Tuhan. Siksa kiriman bagi masyarakat yang menghalalkan saja seks, serta bagi bangsa lainnya. Oleh karena itu, semua orang yang terinveksi HIV/AIDS dipukul rata, yaitu dengan menyematkam segala atribut asusila bagi mereka.

Secara medis misalnya, dikatakan bahwa HIV/AIDS hanya bisa tersebar dengan hubungan seksual \, transfusi darah dan jarum suntik, atau melalui ibu ODHA dan janinnya. Lalu apa hubungannya dengan mengunjungi tetangga yang terinveksi HIV/AIDS , memandikan dan menguburkan jenazah mereka, serta doa dan tahlilan bagi merka?. Dampak sosial ini bahkan telah memunculkan hysteria massal. Menyengsarakan banyak orang, melanggar HAM serta mencabik-cabik dua dimensi kemanusiaan sekaligus: jiwa dan jasad. Hampir tidak ada kalangan agamawan yang memberi penghargaan bagi mereka sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak asasi. Pendekatan yang lebih manusiawi, justru terkadang datang dari kalangan lain. Mereka misalnya risih dan tidak tega menyebut orang yang terinveksi HIV/AIDS dengan panggilan penderita/Korban HIV/AIDS. Mereka aslinya lebih senang dengan sebutan ODHA. Sementara itu, para keluarga dan relawan yang mau merawat ODHA disebut OHIDHA (orang yang hidup bersama ODHA).

Namum akhirnya, sebutan ini pun memunculkan dikotomi yang tetap menyakitkan. Dengan mengunakan istilah “ODHA” berarti ada yang tidak/bukan ODHA. Bahkan istilah ini kemudian menjadi objek pelecehan. Seorang ODHA perempuan yang baru bicara di depan publik di Sulewesi Selatan, akhirnya harus gigit jari menahan pedih, karena kemudian lebih dikenal dan dipanggil dengan panggilan “Ibu ODHA” daripada namanya sendiri. Sungguh memilukan. Mereka yang tertimpa musibah, bukannya dihibur malah harus menerima perlakuan yang tidak manusiawi. Seorang ODHA mungkin akan lebih cepat meninggal, bukan karena HIV/AIDSnya, tetapi justru oleh sikap masyarakat yang memojokkan mereka. Mungkin benar kata Jonathan Mann (aktivis HIV/AIDS dan mantan pembesar WHO) bahwa cara pandang kita mendefinisikan HIV/AIDS akan menentukan sikap dan cara kita menanggulangi HIV/AIDS. Jadi mulai sekarang mari kita buka mata hati untuk menerima mereka apa adanya. Jangan menghakimi atau mendiskriminasikan ODHA, karena bagaimanapun ODHA juga manusia. Setuju?!

Febri yadi_KREATif Jakarta

Tidak ada komentar: