Halaman

15 Agustus 2008

Perayaan HAN, Masihkah Semeriah Dahulu?

Hari Anak Nasional (HAN) yang dirayakan setiap tanggal 23 Juli, dimaknai dan dirayakan dengan berbeda-beda oleh setiap orang atau instansi. Ada yang menganggapnya sebagai hari dimana orang dewasa harus memberi perhatian lebih kepada anak-anak, hari dimana anak-anak dapat bebas berbuat sesuka hatinya, hari dimana para orang tua harus sibuk mempersiapkan anak mereka mengikuti pawai Hari Anak Nasional.
Berbagai cara memaknai HAN menimbulkan pula berbagai cara dalam perayaannya. Banyak cara dilakukan, misalnya dengan mengadakan pawai di jalan-jalan protokol, lomba untuk anak-anak, pemberian penghargaan terhadap siswa berprestasi, bakti sosial untuk anak-anak kurang mampu.
Di daerah saya, Mataram, NTB, sejak saya kecil dulu pemerintah setempat mengadakan Pawai Hari Anak. Tepat pada tanggal 23 Juli setiap tahunnya, ratusan bahkan ribuan siswa dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Selain pakaian adat, ada pula yang memakai pakaian sesuai profesi yang mereka cita-citakan, seperti pakaian polisi, tentara, pilot, pramugari, dokter, dan sebagainya. Selain itu, musik tradisional daerah yaitu Gendang, Beleq, serta tarian-tarian tradisional seperti Rudat dan Gandrung juga ditampilkan. Para orang tua turut mempersiapkan anaknya mengikuti pawai, sedangkan yang tidak menjadi peserta pawai biasanya mengajak anak mereka menyaksikannya.
Para pejabat daerah juga turut melepas rombongan pawai ini. Tak jarang pawai ini dilepas langsung oleh Gubernur NTB atau Walikota Mataram. Barisan para siswa ini pun melewati jalan-jalan protokol kota. Setiap barisan dari masing-masing sekolah membawa spanduk warna-warni yang berisikan nama sekolah dan slogan tentang anak. Misalnya, “Melalui HAN, kita wujudkan anak-anak Indonesia yang berprestasi dan beriman.” Akhirnya, acara pawai ini sendiri menjadi acara paling ditunggu segenap lapisan masyarakat setiap Hari Anak Nasional tiba.
Namun sayang, beberapa kali pawai HAN ini sempat tidak diselenggarakan di kota saya. Entah karena alasan apa yang saya sendiri pun tidak paham. Hal ini sempat membuat saya dan teman-teman melupakan tanggal 23 Juli tersebut. Ini juga dialami oleh anak-anak lain karena kurang semaraknya perayaan HAN di daerah. Serta kurangnya perlibatan anak-anak dalam acara ini. Padahal, HAN bisa dibilang merupakan “Hari ulang tahun kedua” anak-anak Indonesia.
Sekarang pawai HAN mulai diselenggarakan lagi di daerah saya, walaupun tidak lagi sesemarak dulu. Apakah karena kurangnya pemberitahuan ke sekolah-sekolah akan adanya pawai tersebut, tidak banyak pejabat penting yang menghadirinya, atau karena pawai HAN jarang dilaksanakan? Jelas saya merasa antusiasme untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam acara ini menurun.
Demikian pula hal yang saya rasakan ketika mengikuti acara perayaan HAN yang berbentuk forum diskusi masalah anak. Anak-anak seringkali dijadikan “boneka” oleh orang dewasa. Ank-anak diundang untuk menyampaikan pendapat, tapi dalam kenyataannya, orang dewasa lebih banyak berbicara dan memonopoli. Lalu anak-anak hanya bisa terdiam seperti boneka. Ketika seseorang berbicara dengan nada meninggi dan mengkritik pemerintah, maka semua orang akan bertepuk tangan tanpa ada tindak lanjut.
Apakah hal-hal seperti ini yang kita inginkan untuk mengisi acara HAN?
Bagi saya, apapun dan bagaimana pun cara seseorang memaknai dan merayakan HAN, tetap harus ada tujuan di dalamnya, yaitu mengingatkan orang dewasa _baik pemerintah maupun masyarakat luas_ serta anak-anak Indonesia sendiri akan keberadaan anak serta hak-haknya dalam kehidupan bermasyarakat. Perayaan ini juga bertujuan agar anak-anak memahami hak-haknya, agar mereka bisa menggunakan hak-haknya sesuai dengan batas kewajaran. Sehingga acara tidak langsung mengajak orang-orang dewasa untuk menghargai anak-anak sebagai bagian dari masyarakat serta berhenti memandangnya sebelah mata.

KREATif:
I Gusti Ayu Sri Gayatri K.D.
Mataram, Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar: