Halaman

08 Juli 2009

1, 2, 3 Mau Pilih Siapa?

KREATif_Jakarta: Alfinda Agyputri

Satu, satu

Megawati-Prabowo

Dua, dua

SBY-Boediono

Tiga, tiga

Jusuf Kalla-Wiranto

Satu, dua, tiga

Mau pilih siapa?


Pilpres 2009 tinggal dalam hitungan hari, sudahkah kamu menentukan siapa yang akan kamu contreng nanti? Jika sudah, bagus sekali. Jika belum, sebaiknya kamu berpikir keras hari ini. Saya mengerti, bagi anak seusia kita, memilih makanan di restoran saja sulit, apalagi memilih pemimpin. Tetapi lebih baik sulit tapi bisa daripada bisa tapi sulit, iya kan? (silakan tafsirkan sendiri maknanya). Karena saya mengerti betapa sulitnya memilih, maka saya rasa tidak ada salahnya jika kita bertukar pikiran tentang ketiga pasangan capres-cawapres yang ada. Mudah-mudahan pertukaran pikiran ini dapat membantu dalam mempertimbangkan pemimpin yang akan kita pilih tanggal 8 Juli nanti.


Nomor urut 1:

Megawati-Prabowo

Positif:
• Prabowo memiliki pemikiran dan ide yang cukup baik untuk menyelesaikan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh negara kita.
• Latar belakang militer Prabowo membuatnya bersikap tegas dan cekatan dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Perlu diperhatikan:

• Megawati tidak memberikan teladan yang baik sebagai seorang pemimpin dan politisi. Sebagai seorang pemimpin, beliau tidak cukup lapang dada untuk menerima kekalahannya dari SBY pada Pilpres 2004. Sebagai seorang politisi, beliau membiarkan “dendam pribadi” terhadap SBY mempengaruhi sikapnya dalam berpolitik. Selama menjadi oposisi, sikapnya terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan SBY tidak objektif. Hampir semua kebijakan yang dikeluarkan SBY, baik ataupun buruk, ditanggapinya dengan tentangan dan ejekan. Pada saat kampanye Pilpres 2009 pun beliau sering melancarkan “serangan” untuk menjatuhkan rival politiknya tersebut. Dalam berbagai pertemuan, misalnya debat capres dan wawancara capres, beliau bahkan enggan berjabat tangan dengan SBY. Hal ini membuat rakyat bertanya, apakah beliau maju di Pilpres 2009 sungguh-sungguh karena ingin membangun bangsa atau hanya untuk “membalas” kekalahannya dari SBY pada Pilpres 2004?

• “Kebersihan” Prabowo masih diragukan. Perlu diingat bahwa Prabowo masih merupakan “sisa-sisa” pemerintahan Orde Baru yang penuh dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Fakta bahwa beliau pernah menjadi anggota Keluarga Cendana dan catatan kekayaan pribadinya yang luar biasa “wah” perlu mendapat perhatian.


Nomor urut 2:

SBY-Boediono

Positif:
• SBY sudah menunjukkan pemerintahan yang cukup bersih serta sikap yang tegas terhadap praktik KKN. Boediono terkenal sebagai “pejabat yang paling tidak bisa disuap”. Catatan kekayaan pribadi keduanya pun cukup menjadi bukti “kebersihan” mereka.

• SBY menunjukkan sikap seorang pemimpin yang tidak haus kekuasaan. Hal ini terlihat pada saat pemilihan cawapres. Di saat capres-capres yang lain sibuk memilih cawapres berdasarkan pertimbangan koalisi partai, SBY justru memilih cawapres berdasarkan pertimbangan kompetensi. Nama-nama yang sempat ada dalam daftar bakal calon wapres SBY sebagian besar merupakan para profesional di bidang masing-masing, bukan para pembesar partai.

• Boediono rela meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, yang notabene adalah jabatan paling tinggi dan bergengsi di dunia profesional ekonomi, untuk menjadi wapres. Hal ini menunjukkan komitmennya untuk sungguh-sungguh membangun bangsa. (catatan: penghasilan dan wewenang Gubernur BI lebih besar daripada wapres)


Perlu diperhatikan:

• SBY cenderung terlalu berhati-hati dalam bertindak sehingga terkesan lamban, plin-plan, dan tidak tegas.

• Boediono juga tidak termasuk dalam “daftar pemimpin tegas”.


Nomor urut 3:

Jusuf Kalla-Wiranto

Positif:
• Jusuf Kalla dan Wiranto memiliki pemikiran yang cukup baik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi negara kita.

• Jusuf Kalla adalah orang yang sangat cekatan dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Perlu diperhatikan:

• Jusuf Kalla tidak memberi teladan seorang pemimpin yang baik. Selama menjadi wapres pada pemerintahan SBY, beliau mendukung kebijakan-kebijakan SBY. Namun, begitu maju sebagai capres pada Pilpres 2009, beliau justru menyerang balik dan hendak menjatuhkan SBY. Dalam kampanye, beliau menunjukkan hal-hal apa saja yang sudah beliau kerjakan selama menjadi wapres dan seolah-oleh berusaha mengatakan bahwa beliaulah yang lebih banyak bekerja daripada SBY. Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan pemimpin yang bermuka dua?

• Wiranto masih termasuk “sisa-sisa” pemerintahan Orde Baru yang penuh KKN.


Demikianlah penilaian saya terhadap ketiga pasangan capres-cawapres yang ada. Perlu diingat, penilaian di atas hanya penilaian saya semata. Dan siapakah saya? Saya bukan politisi, bukan juga pengamat politik, apalagi ahli ilmu politik. Saya hanya anak Indonesia berusia 17 tahun yang sangat ingin menggunakan hak pilih saya dan suka sekali menonton debat capres-cawapres. Jadi, kamu perlu berpikir berkali-kali sebelum menjadikan penilaian saya pertimbangan dalam menentukan pilihanmu. Ingat, kita hanya bertukar pikiran, jangan sampai pikiran kita benar-benar tertukar. Selamat menimbang-nimbang, selamat memilih!


P.S. Siapa tahu kutipan ini dapat membantu:

“When you hire people, you look for 3 qualities: integrity, intelligence, and energy. If they don’t have the first, the other two will kill you.”


Berikut beberapa opini dan komentar teman-teman mengenai 3 pasangan Capres-Cawapres kita (dihimpun oleh Rara, KREATif Jkt):


Ayu DRS, KREATif Jakarta :

Pilih capres & cawapres ramah anak tentunya!


Brisbania Ayu, KREATif Jakarta :

Pasangan no.1

Repotnya krn Prabowo dulu diduga terlibat kasus pelanggaran HAM dan penculikan aktivis saat era Orde Baru

Pasangan no. 2

Kurang kompak karena mereka pada dasarnya orang yang introvert, kurang bisa bekerja sama.

Pasangan no.3

Lumayan kompak, karena mereka orang yang suka terjun langsung ke lapangan. Jadi lebih sigap dan lebih realistis


Gayatri, KREATif NTB :

Kalau menurut aku dari apa yang sering lihat di media, program-program para capres sudah cukup baik. Bahkan pada beberapa kesempatan, ada yang mengemukakan perhatiannya kepada pendidikan dan kesejahteraan anak-anak dan keluarga.

Meskipun sekali tidak memilih, namun sekali juga mengharapkan perubahan bagi bangsa ini.


Elisa, Parlemen Remaja 2008 :

Wah kalau melihat capres-cawapres kita, sekarang makin panas aja. Mulai dari iklan-iklan tv, poster, pokoknya segala upaya dilakukan demi kesuksesan jagoannya. Tapi oke lah, semoga pemilu LANCAR!



Tidak ada komentar: