Halaman

04 Januari 2009

Jika Suara Anak-Anak Itu Lebih Keras Dari Bom

Oleh : Raisa Aurora

Apa yang kita bayangkan mengenai hari esok? Mungkin kegiatan yang sama di pagi hari: mandi, sarapan, bersepeda, menyapa tetangga sebelah, menyapu halaman. Mungkin besok matahari bersinar cerah, atau awan mendung menumpahkan titik airnya. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tetapi pernahkah terlintas satu kemungkinan di benak kita bahwa besok hari saat tengah berjalan di trotoar, “BHAAAMM!!!”, terdengar bunyi yang begitu memekakkan telinga dan menjadi suara terakhir dalam hidup kita. Serangan bom entah darimana menewaskan ribuan orang di detik itu. Ini bukan sekedar kemungkinan, peristiwa mengerikan ini benar terjadi di belahan dunia lain, hampir setiap minggunya.

Berita yang tengah memanas di televisi hingga hari ini, tentunya turut memanaskan hati kita. Peristiwa serangan militer Israel ke Gaza, Palestina, selain “menuai” ratusan korban jiwa, juga menuai kecaman dari berbagai negara di penjuru dunia. Namun kecaman dan protes tidak cukup untuk menghentikan kedua negara tersebut saling berseteru. Bukan tanggal 27 Desember 2008 saja Israel melancarkan serangan bom ke Palestina. Sudah belasan tahun Israel-Palestina berperang memperebutkan wilayah kekuasaan. Padahal berbagai perjanjian dan gencatan senjata sudah dilakukan untuk mencapai perdamaian. Sayangnya, ego manusia tidak dapat ditekan jika menyangkut kekuasaan. Perjanjian damai dan gencatan senjata itu dilanggar dengan berbagai alasan. Meski nyawa-nyawa yang dikorbankan jauh lebih besar daripada luas wilayah yang diperebutkan.

Kedua negara tersebut, Israel dan Palestina, terus saling menyalahkan atas korban jiwa yang ditimbulkan. Ibarat lingkaran setan, akhirnya mereka terus melakukan serangan militer untuk saling membalas. Apa yang didapat dari balas dendam itu, selain korban yang lebih banyak lagi. Korban yang paling menderita adalah anak-anak. Kondisi perang membuat anak-anak itu jauh dari rasa aman. Secara fisik mereka lemah sehingga mudah menjadi sasaran senjata. Apalagi kondisi kejiwaan mereka yang polos dan rapuh. Seolah tangisan mereka tidak cukup untuk menyadarkan akal sehat orang-orang dewasa yang berperang, anak-anak itu turut diajarkan untuk saling benci.

Dari lahir anak-anak Israel sudah disuapi kebencian pada Palestina, begitu pun sebaliknya. Banyak tentara-tentara dan pasukan berani mati dari kedua belah pihak adalah anak-anak. Salah satu dari kita tentu pernah melihat anak-anak Israel atau Palestina memegang senjata lengkap dengan amunisi dililit ke tubuhnya berbaris dengan bangga. Bahkan pemandangan anak-anak turut melempar granat ke arah musuh dalam peperangan tidak asing lagi bagi kedua negara. Kemurnian hati anak-anak dalam memahami dunia dirusak oleh keganasan perang.

Seharusnya anak-anak itu bermain dengan teman-teman mereka di lapangan terbuka, belajar di sekolah, bahagia bersama keluarganya. Lazimnya anak-anak di sekitar kita yang tumbuh untuk tidak saling memukul, tidak bermain-main dengan benda tajam dan segala sesuatu yang berbahaya. Anak-anak yang tumbuh di daerah konflik belajar sebaliknya. Dari kecil mereka paham ketakutan dan ancaman, belajar untuk membela diri dengan senjata, menanam kebencian untuk melawan. Apalagi yang bisa diharapkan jika generasi penerus negaranya juga meneruskan peperangan. Hanya omong kosong bicara perjanjian damai jika para orang tua bicara kedengkian pada anak-anaknya terhadap negara lawan.

Berikut adalah sepenggal kisah nyata mengenai tentara clik di Palestina.
Tiga bocah itu mengemas tas mereka sepulang sekolah Selasa sore itu di distrik Sheikh Rudwan, di kota Gaza. Mereka beritahu orang tua kalau mereka akan pergi ke rumah teman, dan mereka merancang sebuah serangan ke satu pemukiman ilegal Yahudi di dekat Gaza.

Senjata mereka hanyalah empat pisau, sebuah kampak dan bahan peledak rakitan yang masih kasar. Bahkan, mereka belum tahu jarak serangan bom itu, dan tentara Israel keburu menghajar bocah-bocah itu hingga tewas di tengah malam yang sepi. Tiga sekawan muda itu terkapar bersimbah darah sewaktu merangkak masuk menuju pemukiman. Too young too die?

Ketiga anak itu ingin menyusup masuk pemukiman ilegal Netzarim yang dihuni warga Yahudi Israel. Ketiga bocah, Youssef Zaqout, Anwar Hamdouna dan Ismail Abu Nadi berjalan enam kilometer menuju pemukiman berpenduduk 6.000 Yahudi, tapi dijaga 10.000 tentara Israel.

Dalam pesan perpisahan, Zaqout menulis kepada ibunya: “Oh Ummi, berbahagialah bersamaku. Aku minta anda berdoa kepada Allah semoga operasi syuhadaku sukses. Aku persembahkan jiwaku karena Allah dan tanah air.”

Siapa yang menangis, siapa yang tertawa? Para orang tua sedih, sebelia itu mereka sudah berjihad karena tak lagi tahan dengan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan: penindasan brutal Israel di bumi Palestina merdeka.

(diambil dari Kisah Bocah-Bocah Martir di eBook, dengan ringkasan seperlunya)

Ada ratusan bocah-bocah martir (juga disebut tentara cilik) di Palestina dan Israel. Mereka berkorban nyawa sia-sia tanpa pernah ada hasil untuk kedua belah negara. Penulis bahkan membaca di salah satu situs internet bahwa ada 3000 tentara cilik Palestina yang diculik tentara Israel. Sebenarnya tentara-tentara cilik ini dapat ditemui di setiap daerah yang berkonflik, seperti Negara-negara di Afrika.

Sesungguhnya siapa yang patut dipersalahkan atas peristiwa ini?? Kita tidak perlu berpihak pada salah satu negara, baik Israel atau Palestina. Kita harus bepihak pada orang-orang tidak bersalah, terutama anak-anak, karena peperangan ini tidak lebih dari sekedar perang ego orang-orang yang menyebut dirinya “Pembela Tanah Air”. Siapa yang sesungguhnya mereka bela? Bukankah mereka justru mengorbankan tanah air mereka sendiri?

Andai orang-orang dewasa yang berperang itu tidak melihat tentara-tentara cilik dengan rasa bangga, melainkan sebagai ‘tamparan’ yang menyadarkan mereka untuk berdamai, mungkin seteru Palestina-Israel sudah berakhir! Anak-anak sebelia itu telah memiliki semangat besar untuk merelakan nyawanya membela tanah air. Seharusnya semangat mereka dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan bagi negaranya, bukan meneruskan kerusakan bagi negaranya. Seharusnya mereka berlatih di sekolah bukan medan perang, belajar menyelesaikan dengan damai bukan kekerasan.

Perang Israel-Palestina HARUS DIHENTIKAN!!! Ajak, bukan… tapi paksa orang-orang yang berperang itu melihat ke mata anak-anak di negara mereka. Dari mata itulah akan terbaca pikiran yang masih jernih untuk mengakhiri perseteruan ini. Seringkali anak-anak punya pandangan dan cara yang indah mengatasi masalah. Dengarkanlah anak-anak itu sebelum jiwa mereka dirusak, maka pesan perdamaian yang kekal akan sampai di telinga kita.

Tidak ada komentar: