Sekelompok anak muda berkumpul tepat di penghujung batas titik-titik embun kekerdilan hati yang sudah pergi satu jam lalu. Selembar kain berwarna putih dibentang melambangkan perdamaian abadi dan pena-pena mereka mereka mulai menari. Kedatangan para remaja ini cukup terorganisasi. Mereka didukung oleh YKAI dan UNICEF, organisasi sipil anak nasional dan internasional. Para remaja ini datang untuk menunjukkan pada dunia, mereka juga ikut peduli.
Teman-teman, pada tanggal 26 Maret lalu, umat Hindu telah merayakan Hari Raya Nyepi. Yang diawali oleh proses penyucian diri di laut atau sumber air (baca: Melasti atau Mekiis), kemudian pada tanggal 25 Maret, diadakan pula pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari prosesi Nyepi. Ogoh-ogoh secara sederhana merupakan perwujudan daripada setan pengganggu manusia. Di Lombok, Ogoh-ogoh kemudian diarak di jalan-jalan protokol Kota Mataram, lalu kembali ke Banjar (setingkat perkumpulan warga tingkat RW), kemudian dibakar. Setelah itu warga akan melakukan Persembahyangan bersama dan menghaturkan caru(mirip sesajen berupa nasi) dan sesajen buah juga bunga dengan tujuan memohon agar dapat melaksanakan Penyepian dengan baik. Ogoh-ogoh dibakar dengan tujuan mengubah keburukan/ hawa burk menjadi baik agar tak mengganggu prosesi penyepian pada keesokan harinya yang merupakan hari Introspeksi diri bagi umat Hindu. Acara ini berlangsung semarak namun tertib meski hujan membasahi kota. Walau sempat pula dikhawatirkan bermasalah karena telah memasuki masa Kampanye TerbuakaPemilu, aparat kepolisian yang bersiaga berhasil mengamankan prosesi ini dengan baik dan lancar.
Pada zaman dahulu kala, di bagian selatan Pulau Lombok terdapat sebuah Kerajaan bernama Sekar Kemuning. Dengan rajanya yang sangat bijaksana, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Sang raja mempunyai seorang putri bernama Putri Mandalika. Raja dan ratu sangat menyayanginya, mereka mau memberikan apa saja kepada sang putri. Harta, kemewahan dan lain-lain. Namun Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang putri yang amat cantik jelita dan juga selalu rendah hati.
Ketika ia beranjak dewasa, kecantikannya membuat para pangeran di Pulau Lombok ingin mempersuntingnya. Putri Mandalika kemudian diberitahu oleh kedua orang tuanya bahwa ada 6 orang pangeran dari 6 kerajaan yang melamarnya. Raja dan Ratu meminta Sang Putri menentukan pilihan siapa dari keenam pangeran itu yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Saat itu Putri Mandalika dihadapkan pada sebuah dilema. Di satu sisi dia butuh pendamping hidup dari kalangan yang sama dengannya. Caranya tentu dengan memilih satu di antara keenam pangeran yang sudah melamarnya. Namun, melihat kerasnya keinginan para pangeran untuk mendapatkan dirinya, sang putri khawatir jikalau nantinya terjadi permusuhan yang berakibat pertumpahan darah antar kerajaan di Lombok hanya karena dirinya memilih satu di antara para pengeran tersebut. Jelas ia hanya boleh memilih satu! Sementara para pangeran itu menginginkan dirinya.
Sang Putri akhirnya berdiam diri di istana, berdoa meminta petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Petunjuk jalan mana yang harus dia pilih demi mencegah pertumpahan darah di pulau yang amat dia cintai. Akhirnya setelah sekian lama, sang putri mengumumkan bahwa ia akan memberitahu keputusannya kepada para pangeran yang telah melamarnya pada malam bulan purnama di pantai Seger dan disaksikan oleh seluruh rakyat.
Pada malam bulan purnama, di pantai Seger, Putri Mandalika menepati janjinya. Dengan pengawalan pasukan, sang putri hadir di hadapan seluruh rakyatnya juga keenam pangeran yang telah menanti keputusannya sejak lama. Sang putrid kemudian berdiri di atas sebuah batu yang kemudian dikenal dengan nama Batu Mandalika dan hingga kini masih ada di Pantai Seger, Lombok Tengah. Sang Putri berbicara lantang kepada semua orang yang hadir di sana, kira-kira begini bunyinya,
“Wahai rakyatku yang amat aku cintai, beserta keenam pangeran yang juga telah hadir, inilah aku Putri Mandalika, orang yang kalian sayangi, yang kalian inginkan menjadi pendamping hidup. Pada malam yang indah ini, aku ingin mengucapkan bahwa aku mencintai kalian semua tanpa kecuali. Dan oleh karena aku mencintai kalain semua dan karena aku tahu kalian semua juga mencintaiku, aku takkan mungkin memilih satu di antara kalian sebagai pendamping hidupku. Aku tak ingin jika nantinya terjadi pertumpahan darah di pulau ini hanya karena aku memilih satu diantara kalian. Dan untuk mencegah itu semua, aku telah memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa sehingga kalian semua dapat memilikiku, tidak hanya pangeran, namun juga seluruh rakyat Lombok dan seluruh dunia ini. Terimakasih untuk mencintaiku, hiduplah selalu dengan damai tanpa pertumpahan darah! Selamat tinggal”
Setelah itu, secara tiba-tiba dan tanpa diduga, sang putri menceburkan diri ke laut. Spontan semua orang yang ada disana terjun ke laut untuk meyelamatkannya. Namun jangankan menyelamatkan, menemukan jazadnya saja tidak. Sang Putri lenyaptak berbekas bak ditelan ombak lautan. Walau demikian, beberapa saat setelah itu dengan kehendak Tuhan, Putri mandalika menepati janjinya. Muncullah pada saat itu ribuan bahkan jutaan cacing laut berwarna-warni yang dipercaya sebagai penjelmaan sang Putri. Cacing-cacing ini kemudian berbondong-bondong ditangkapi oleh rakyat kerajaan dan kemudian dikenal dengan nama nyale. Setiap tahunnya pada sekitar bulan februari dan maret cacing-cacing ini selalu muncul dan para warga sekitar selalu datang berbondong-bondong ke pantai untuk menangkap cacing-cacing itu dan kebanyakan dijadikan lauk, siapapun dapat melakukannya tanpa batasan status. Hal ini berlanjut hingga sekarang dan disebut dengan nama Festival Bau Nyale.Festival ini juga telah menjadi dipromosikan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Maka, sekarang tak hanya warga sekitar pantai Seger yang dapat “memiliki” sang Putri dalam wujud nyale, tetapi juga orang-orang di seluruh Indonesia dan dunia yang berkunjung ke sana pada saat festival.
Bakti Sosial merupakan salah satu program rutin OSIS-PK 78 yang setiap tahunnya selalu diadakan. Untuk tahun ini, program bakti sosial dilaksanakan pada 22 Februari 2009 lalu. Acara dilangsungkan di Yayasan Khasanah Kebajikan. Yayasan yang berlokasi didaerah Pos Pengumben-Jakarta Barat ini, selain memiliki panti Asuhan juga membuka TPA bagi anak-anak panti dan juga anak-anak sekitar yang masuk ke dalam golongan ekonomi rendah. Bakti sosial yang satu ini bisa dibilang sebagai salah satu bakti sosial yang lain daripada yang lain. Serangkaian acara yang disuguhkan tidak semonoton konsep Bakti Sosial yang selama ini orang-orang awam kira. Terdapat berbagai hiburan yang membuat acara ini menjadi menyenangkan. Salah satunya adalah sesi menonton film. Sesi ini diisi dengan menonton film yang telah ditentukan panitia. Film tersebut adalah Wall-E yang dipilih atas pertimbangan kandungan pesan moral yang ada di film tersebut. Pesan moral yang diajarkan yaitu himbauan kepada umat manusia untuk tidak buang sampah sembarangan. Menghibur dan sarat akan makna. Selain menonton film, terdapat juga sesi utama yang menambah bobot kualitas dari acara ini yaitu sesi pemberian materi tentang Hak Anak yang difasilitasi oleh saya sendiri (Aditya) yang mewakili KREATif. Menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan Hak Anak seperti itu belum bisa terdengar tidak asing ditelinga masyarakat luas, terutama anak-anak itu sendiri. Salah satu alasan saya bisa beranggapan demikian karena melihat respon anak-anak saat itu yang terlihat asing. Mereka bertanya-tanya materi macam apa ini dan dengan begitu juga mereka menjadi serius mendengarkan materi ini karena penasaran akan apa isinya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua dari anak-anak itu dapat mencerna materi ini, karena memang masih ada beberapa yang umurnya masih terlampau muda. Sesi penyampaian materi diperkaya oleh Bedah Kasus yang dilakukan diakhir-akhir waktu materi. Bedah kasus yang dimaksud adalah analisa mengenai contoh kasus yang berhubungan dengan materi yaitu Hak Anak. Masing-masing anak(yang bisa baca tulis) diberikan lembaran bedah kasus beserta soal kasus yang harus diisi. Nah, yang menyenangkan dalam bagian ini adalah pada saat mereka berlomba-lomba untuk maju dan menyampaikan jawaban mereka atas soal dari bedah kasus tersebut. Benar-benar menyenangkan karena respon seperti itulah yang saya harapkan dari anak-anak. Respon baik juga datang dari ketua panitia kegiatan ini yaitu Adam. Mungkin beberapa teman-teman sekalian masih ingat dengan Adam? Ya, Adam adalah ketua panitia peringatan Hari Aids(17/12/08) SMA 78 yang di acara itu KREATif juga turut berpatisipasi.“Materi yang disampaikan sangat cocok untuk disampaikan di kegiatan ini. Karena menurut saya isi materi ini yaitu Hak Anak memang sudah sepantasnya untuk anak-anak pahami terutama anak-anak di panti ini. Kalau bukan di acara ini, belum tentu mereka bisa berkesempatan untuk mendengar tentang ini. Bahkan saya sendiri saja beru pertama kali mendengar tentang hal itu. Target yang pas! Salut untuk KREATif dan sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya”, Adam.
Bagaimana orang dewasa memperlakukan anak kecil dan dunia sekitarnya, serta bagaimana anak kecil memandang dunia, menjadi tema menarik yang diangkat Antoine de Saint-Exupéry dalam buku The Little Prince. Sekian banyak hal menarik yang disampaikan Exupéry dalam buku tersebut. Perbedaan mencolok antara orang-orang dewasa dan anak-anak. Apakah tumbuh menjadi dewasa adalah sepenuhnya membuang pandangan kanak-kanak kita pada dunia? Itu patut direnungkan kembali.
Pelajaran pertama saat kita terbawa dalam alunan kisah The Little Prince adalah jangan mengecilkan hati seorang anak. Siapa di antara teman-teman yang pernah punya pengalaman diremehkan oleh orang tua? Atau diremehkan orang-orang dewasa? Pasti ada satu peristiwa kita di masa kecil yang berpengaruh pada kehidupan kita saat ini. Misalnya saat kecil gambar ayam kita ditertawakan oleh bapak, atau puisi kita diacuhkan oleh ibu, padahal sudah susah payah dibuat… tapi masih salah.
Masa kanak-kanak adalah anak tangga pertama seseorang mengenal dirinya, hendak jadi apa, apa yang disukainya, apa yang dibencinya, apa kemampuannya. Ketika seorang anak kecil ditertawakan dengan nada cemooh saat menyanyikan lagu “Balonku”, ia akan berpikir bahwa suaranya buruk, ia merasa malu, dan sadar bahwa dirinya (untuk selamanya) tidak memiliki kemampuan menyanyi. Apalagi jika cemoohan tersebut datang dari orang tuanya sendiri. Seorang anak mungkin tidak akan berkecil hati jika lingkungan luar bertentangan dengan dirinya, selama orang tua si anak membesarkan hatinya. Namun jika peran orang tua disalahgunakan dengan menjadi batu penghalang dan dinding yang membatasi kemampuan si anak, sangat telak akibatnya.
Dalam bukunya si penulis menceritakan pengalaman masa kecilnya, saat ia menggambar ular yang menelan gajah, sementara orang-orang dewasa di sekitarnya mengira gambar tersebut adalah topi. Saat si penulis menerangkan makna gambar buatannya, orang-orang dewasa justru menilai gambarnya tidak masuk akal. Tidak ada ular yang menelan gajah. Dan alih-alih memahami khayalan si penulis, orang-orang dewasa tersebut menganggapnya membuang waktu saja dengan menggambar sesuatu yang tidak masuk akal. Lebih baik pergunakan waktumu dengan mempelajari Sejarah, Matematika dan Geografi, demikian saran mereka. Akhirnya si penulis, dengan sedih membuang impiannya menjadi pelukis, dan belajar Sejarah, Geografi serta Matematika seperti yang disarankan. Namun ia tidak pernah melupakan pengalaman itu.
Kemudian cerita berlanjut melalui pengalaman si penulis terdampar di gurun Sahara setelah pesawatnya jatuh (penulis berperofesi sebagai penerbang), dan ia bertemu dengan Si Pangeran Kecil (The Little Prince). Dalam cerita ini Pangeran Kecil berwujud layaknya anak 10 tahun meski ia berasal dari planet lain, dan sama-sama terdampar di bumi. Selama ini sosok makhluk asing yang berasal dari planet lain digambarkan berbeda 180 derajat dengan manusia, namun Exupéry mengambil sudut pandang lain dengan menggambarkannya sebagai anak-anak biasa, lugu dan penuh khayalan. Ketika dalam perjumpaan pertama si penulis dengan Pangeran Kecil, si Pangeran meminta dibuatkan gambar biri-biri. Setelah si penulis hanya menggambarkan sebuah kotak dan penjelasan bahwa si biri-biri berada dalam kotak tersebut, si Pangeran Kecil mau menerimanya dengan sukacita.
Planet darimana si Pangeran Kecil berada adalah asteroid kecil bernama B 612 yang (dalam cerita ini) dahulu pernah dikemukakan seorang astronomer Turki pada dunia internasional. Namun karena sang astronomer mengungkapkan hasil temuannya dengan mengenakan pakaian nasional Turki, ia diacuhkan. Kemudian ia kembali lagi dengan mengenakan jas resmi, pakaian orang-orang Eropa, dan ia serta hasil temuannya disambut dengan baik.
Cerita ini mengingatkan kita pada pepatah “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Memang terdengar klise, namun cerita ini juga bermakna agar kita jangan menilai orang lain sesuai dengan keinginan kita. Si astronomer Turki tidak digubris karena ia tampil dengan mengenakan pakaian nasional Turki. Sementara banyak orang menilai bahwa seorang ilmuwan atau astronomer harus berpakaian resmi dengan jas dan celana panjang. Jika orang tersebut berbeda dari perkiraan kita, maka kita cenderung tidak mau mendengar apa yang diucapkannya.
Penilaian kita terhadap seseorang dipengaruhi seluas apa wawasan yang dimiliki dan sebanyak apa pengalaman yang dirasakan. Wawasan menjadi tolak ukur keingintahuan seseorang, sebesar apa kemampuan seseorang untuk memahami hal baru. Orang-orang seperti ini biasanya mau memahami perbedaan dari orang lain. Mengerti sudut pandang orang lain dalam suatu masalah. Pengalaman juga menunjang kemampuan hati kita untuk menyikapi perbedaan dari orang lain. Jadi otak dan hati bekerja sinergis dalam membuat penilaian yang obyektif.
Selama si penulis berusaha memperbaiki pesawatnya yang rusak di tengah gurun Sahara, si Pangeran Kecil menceritakan pengalamannya mengunjungi beberapa planet sebelum ke Bumi. Ia bertemu dengan orang-orang dewasa dari planet-planet tersebut, dan tidak memahami mereka.
Di suatu kisah ada orang dewasa yang sok berkuasa. Ia menyebut dirinya sebagai Raja dan suka memerintahkan hal-hal konyol. Ia senang akan kekuasaan karena dengan demikian dapat mengatur orang lain dan membuat hidup orang tersebut bergantung padanya. Inilah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan untuk menjadi pemimpin agar dapat menentukan tugas bawahannya, bersikap semena-mena tanpa si bawahan mampu menyela karena takut dipecat. Hasrat untuk selalu dijunjung oleh orang lain dan melihat segala hal dari atas. Padahal sosok pemimpin bukan orang yang duduk di kursi yang diangkat ramai-ramai oleh bawahannya, melainkan orang yang bersusah payah mengangkat beban bawahannya. Menjadi pemimpin bukan disediakan melainkan sibuk menyediakan untuk orang lain, sehingga ia mampu melihat dunia dari berbagai arah.
Satu pelajaran lagi yang didapat dari kisah The Little Prince tertuang dalam pengalaman si Pangeran Kecil bertemu rubah. Setibanya di bumi, Pangeran Kecil melihat banyak bunga mawar tumbuh di bumi, sementara di planet asalnya ia hanya memiliki satu mawar yang sangat berharga. Ia dulu mengira bahwa dirinya kaya karena memiliki sekuntum mawar yang cantik, ternyata mawar yang ia miliki hanya mawar biasa yang banyak jumlahnya di bumi. Kekecewaan ini terobati tatkala ia bertemu seekor rubah yang mengajarkan bahwa menghabiskan banyak hal bersama mawar yang ia miliki, membuatnya jauh lebih berharga daripada mawar-mawar lain di bumi. Ini memberikan kesan sendiri bagi saya, bahwa seseorang menjadi berharga dan berbeda dengan orang lainnya di mata kita, karena banyak hal yang telah kita lewati bersamanya.
Memandang kehidupan dengan kemurnian jiwa merupakan sesuatu yang kita terima dari buku ini. Kemurnian jiwa dimiliki oleh anak-anak. “Orang-orang dewasa menyukai angka-angka…” demikian yang ditulis Antoine de Saint Exupery. Lebih sulit menjelaskan arti keindahan dengan rangkaian kata-kata kepada orang dewasa daripada menjelaskan keindahan dari jumlah uang. Orang dewasa sulit dibuat berdecak kagum saat diterangkan mengenai gitar yang terbuat dari kayu mahogany, berwarna merah marun, dengan ukiran bunga di sisi kiri kanannya, dan bila dipetik mengeluarkan suara sebening air. Berbeda jika kita menjelaskan bahwa ada gitar seharga Rp 50 juta, nah orang-orang dewasa akan berpikir gitar itu tampak hebat tanpa tahu bentuknya.
Benarkah tumbuh dewasa berarti mengikis kemurnian jiwa kanak-kanak kita? Sepertinya tidak! Kita bisa tumbuh dewasa, bersikap dewasa, dengan memandang tulus kehidupan. Jangan buat hidup kita begitu sesak, karena akan menjadi sulit untuk menghirup keindahan dan kebaikan di sekitar kita.
Cilincing, jika kita mendengar nama itu yang terbayang oleh kita adalah tempat truk-truk berlalu-lalang yang mengantarkan peti kemas untuk di Import keluar negeri atau memuat barang yang telah di kemas untuk di olah dan di perjual belikan di kota untuk memenuhi kebutuhan warga-warga kota. Bayangkan jika masih ada warga yang dapat tinggal di tempat yang bisa di sebut tidak layak untuk di tinggali oleh masyarakat pada umumya, tempat itu telah tecemari oleh asap-asap truk yang berlalu-lalang hampir setiap hari, tapi masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung tinggal di tempat itu, tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi truk-truk besar, sekarang menjadi pemukiman yang di tinggali banyak orang. Banyak balita yang masih kurang asupan gizi-nya berada di tempat itu, bayi yang masih rawan sekali terjangkit penyakit tinggal di tempat yang kotor dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah sekitar dan anak-anak usia sekolah menjadi supir Angkot. Itu mereka lakukan bukan karna kemauan mereka sendiri tapi atas desakan okonomi yang terus melonjak dan makin terpuruk. Ternyata pemerintah memang kurang perhatian pada daerah yang terpencil seperti itu, pemerintah hanya memikirkan kota-kota besar sebagai sumber devisa Negara, sedangkan orang yang tinggal di Cilincing menunggu janji-janji yang keluar dari mulut Capres yang mengatakan ini itu saat kampanye, dan sekarang apa buktinya? Hanya janji palsu yang membuat rakyat Indonesia menunggu, menunggu dan menunggu. Bagi mereka janji di ucapkan hanya saat kampanye yang dapa menarik hati-hati warga. Seharusnya mereka mendapat tempat yang lebih layak untuk di huni, bukan tempat yang seperti itu, dan anak-anak seharusnya mereka mendapat pendidikan yang layak untuk bekal mereka saat dewasa nanti. Pendidikan sangatlah penting untuk bekal di kehidupan mereka yang akan datang.
Bulan apa sekarang? Februari. Tanggal 14 ada apa? Valentine.Tepat sekali!
Bulan Februari memang selalu identik dengan Valentine alias Hari Kasih Sayang. Banyak sekali kegiatan yang biasa dilakukan pada hari tersebut terutama oleh remaja seusia kita. Benar bukan? Seperti membagi coklat, bunga sampai dating dan menyatakan perasaan. Sweet…. Aapalagi kalender menunjukkan hari Valentine jatuh pada hari sabtu, tahun ini. Asyik!
Biasanya, di hari ini, kita pasti bersikap manis pada semua orang yang kita temui (Kalau masih galak, kemungkinan besar orang itu tidak punya kalender!). Ramah, murah senyum, memberi hadiah dan sederet kata kerja baik lainnya yang sangat dianjurkan untuk dilakukan hari itu. Entah siapa yang menganjurkan. Hal ini tentu membuat orang-orang di sekitar kita bahagia. Apalagi jika biasanya kita bersikap dingin lalu jadi penuh cinta kasih bak disihir Harry Potter. Meskipun tidak tahu siapa yang mulaii duluan, saya setuju sekali jika kita melakukan ini di hari valentine. Making everybody happy!
Tapi hal ini akan jadi salah, jika pada tanggal 15, 16, 17 dan seterusnya kita kembali jadi orang yang tidak menyenangkan. Buat apa kita bersikap manis seharian lalu bersikap buruk pada 364 hari berikutnya? Sia-sia saja,kan? Inilah yang banyak dikeluhkan orang-orang. Mengapa hari valentine hanya sehari? Bukan sepanjang hari agar semua orang punya alasan untuk berbuat baik dan penuh kasih sayang setiap harinya.
Rasanya harapan di atas benar, saya pernah mendengar sebuah quote begini bunyinya: Kita hidup karena kasih sayang. Jangan beritahu ini pada darah dan udara yang masuk ke paru-paru kita karena mereka bisa putus asa dan dianggap tidak berguna! Tapi lebih dari itu, kata-kata di atas ada benarnya. Kita terbentuk dari pertemuan kasih sayang ayah-ibu kita. Kita lahir karena orang tua menyayangi kita. Kalau tidak? Kita mungkin sudah dibunuh di dalam kandungan bukan? Kita diberikan berbagai kebutuhan hingga masih hidup sekarang karena kasih sayang orang tua. Kita diberi ilmu oleh para guru di sekolah karena sayangnya mereka pada kita (Terlepas dari kewajiban kita yang juga membayar biaya-biaya kepada sekolah dan guru diberi gaji). Kita dibantu orang lain karena sayang melihat kita susah. Namun ada yang lebih penting, yaitu kasih sayang Tuhan kepada kita, masih memberi kita udara dan kesempatan untuk hidup sampai detik ini.
Sekarang coba bayangkan jika semua kasih sayang tersebut hanya ada pada tanggal 14 Februari? Apakah teman-teman masih bisa membaca tulisan ini sekarang? Tidak! Lalu masih pantaskah jika kasih sayang hanya kita berikan kepada orang lain di tanggal 14 Februari? Semestinya jawabannya juga:Tidak!
Kebanyakan dari kita hanya mengetahui hari-hari raya Hindu seperti Nyepi dan Galungan. Mengapa? Ini karena kedua hari tersebut diperingati secara meriah dan semarak di sejumlah daerah terutama Bali yang masih kental ke-Hinduannya dan juga Lombok, pulau di sebelahnya. Ya, pengaruh Hindu di Lombok memang masih cukup kental terutama di kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, mengingat kedua wilayah ini pernah menjadi “commonwealth” Kerajaan Bali selama puluhan tahun. Maka jangan heran jika banyak Pura di sini. Dan dari segi tempat tinggal, penduduk-penduduk yang merupakan ‘imigran’ puluhan tahun dari Bali letak permukimannya selalu berdampingan dengan penduduk asli, suku Sasak.
Salah satu hari raya Hindu (selain Nyepi dan Galungan), yaitu Siwa Ratri juga diperingati di sini. Siwa Ratri jatuh pada Purwaning Tilem sasih Kepitu atau sehari sebelum bulan mati yang ketujuh yang biasanya terjadi pada bulan Januari pada kalender masehi. Dan tahun ini, hari tersebut jatuh pada 24 Januari 2009. Berbeda dengan Galungan yang bersifat suka cita, atau Nyepi yang menyambut tahun baru Saka, Siwa Ratri merupakan ‘Hari Penebusan Dosa’ dengan melakukan 3 macam puasa, yaitu: 1. Tidak berbicara (Mona Brata) selama 12 jam (Pukul 6 pagi sampai pukul 18 sore hari yang sama) 2. Tidak makan dan minum (Upawasa) 24 jam (Pukul 6 pagi sampai pukul 6 pagi esoknya) 3. Tidak tidur (Jagra) 36 jam (Pukul 6 pagi sampai 18 esok sorenya)
Namun, ketiga puasa tersebut bukan ‘harga mati’, sebagai anak apalagi yang baru pertama mencoba, kita diperbolehkan untuk melaksanakan secara bertahap. Yang penting tulus. Apalagi, hari itu tidak termasuk dalam agenda libur nasional, jadi cukup sulit ‘menahan godaan-godaan’ jika kita harus beraktivitas seperti biasa.
Pada Siwa Ratri tahun ini, OSIS bidang Kerohanian Hindu di SMPN 2 Mataram, NTB mengadakan kegiatan ‘menginap’ di Pura Muter untuk melakukan puasa-puasa di atas pada 24 januari malam. Seluruh siswa yang beragama Hindu dari kelas 7 sampai 9 diminta hadir dan melaksanakan Brata alias puasa bersama setelah pukul 18 sore. Tentunya agar teman-teman dan para guru dapat mengikuti lomba-lomba yang telah disediakan panitia yang ‘membutuhkan’ suara kita. Ada lomba Dharma Widya (Cerdas-Cermat Agama), Pembacaan Sloka (‘Ayat-Ayat’ dalam Weda), Dharma Wacana (Ceramah Agama), menghafal doa juga membuat sarana persembahyangan dari daun kelapa. Setiap kelas wajib mengirimkan perwakilan pada setiap lomba. Dan untuk para pemenang, panitia tentu menyiapkan hadiah-hadiah menarik. Lomba-lomba ini membuat kita tidak terlalu berat dalam puasa terutama tidak tidur. Bayangkan jika kita hanya duduk diam selam 36 jam! Ngantuk sekali, bukan?
Setiap tahunnya, Siwa Ratri merupakan hari yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Bukan hanya para siswa karena bisa berlomba antar anggota ekstrakulikuler, tapi juga maknanya. Dengan tidak bicara, tidak makan-minum dan tidak tidur, kita diharapkan bisa melatih diri untuk tahan dalam berbagai kondisi hidup yang akhir-akhir ini semakin banyak saja godaannya.
Nah, teman-teman semoga informasi di atas dapat memperkaya wawasan teman-teman tentang agama dan kepercayaan di negeri ini yang bervariasi. Tulisan ini saya buat semata-mata untuk memberi informasi, bukan menggurui atau kepentingan-kepentingan pihak manapun. Informasi adalah hal yang penting. Mungkin masih teringat di benak kita bahwa banyak sekali kerusuhan yang terjadi di negeri ini karena mempermasalahkan perbedaan agama yang dimulai dari hal-hal sepele seperti saling mengejek tradisi atau cara-cara setiap agama. Bahkan membanding-bandingkan agama lain dengan agama sendiri yang tentulah memiliki perbedaan. Mengapa bisa demikian? Ini karena informasi yang salah yang menyebabkan pandangan yang salah juga terhadap hal sesensitif ini. Semoga informasi ini dapat bermanfaat mencegah teman-teman dari tindakan-tindakan merugikan di atas.
Tanggal 1 Muharam, setiap umat Islam merayakan Tahun Baru Islam (Tahun Baru Hijriah). Lain halnya di Provinsi Bengkulu, tepatnya di ibukota Provinsi Bengkulu, Kota Bengkulu yang sejak zaman dahulu kala mengadakan festival tabot setiap tahunnya.
Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu yang bernuansa religius untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad saw., Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharam setiap tahun. Perayaan tabot dianggap sacral oleh masyarakat Bengkulu karena apabila perayaan ini tidak dilaksanakan niscaya akan mendapatkan malapetaka.
Perlu teman-teman ketahuibahwa Festival Tabot 1429 H menjadi agenda pertama Visit Indonesia Year 2008, lho!
Nah, lagu daerah Bengkulu ciptaan Bapak Halimi di atas menceritakan tentang upacara tabot. Lagu ini biasa dinyanyikan anak-anak sekolah di Bengkulu pada Pelajaran Kesenian Daerah. Bahkan anak-anak di Provinsi Bengkulu diajarkan musik-musik tabot. Irama musik yang dibuat baku turun-temurun ini dipelajari agar tidak punah di matta generasi muda. Misalnya not-not nyanyian tabot yang baku dimainkan dengan pianika atau recorder (re re sol fa mi mi, sol fi sol la sol fa mi………. Tabuhan dol, tamatam, suwena, suwari (=alat musik seperti gendang dari Bengkulu) pun memiliki ketukan, irama, dan cara tersendiri dalam memainkannya. Jadi, dari nenek moyang sampai sekarang, irama dari beberapa musik tabot yang dimainkan itu baku dan tidak pernah berubah.
Selain itu juga, terdapat tarian tabot yang mengunakan jari-jari (=sebuah benda yang dibuat dari rotan deperti tongkat yang memiliki jari 3 dengan bulat-bulat di setiap ujungnya dan dihias sedemikian rupa). Tarian ini adalah tarian tradisional tabot. Konon katanya Hasan dan Husein yang gugur dalam berperang membela Islam ini, jari-jarinya dipotong.
Festival tabot dari tanggal 1-10 Muharam ini diadakan di Lapangan Tugu. Selama 10 Muharam ini, keluarga Tabot (=keluarga turun-temurun yang melaksanakn upacara tabot), membuat tabot sedemikian rupa di lapangan tugu ini. Tabot bentuknya umumnya aga seperti Candi Prambanan. Bertingkat-tingkat, terbuat dari berbagai macam bahan-bahan prakarya seperti kardus, triplek, atau karton. Kemudian dihias dengan kertas minyak, kertas jagung, kain, dan bunga-bungaan sedemikian rupa sehingga tabot terlihat bagus dan mewah. Kalau dibayangin, ya seperti kue tart. Memang memerlukan waktu yang lama dalam membuat tabot ini, Karen ukurannya juga sangat besar. Tingginya kira-kira bisa mencapai 10-15 meter. Bahkan ada juga tabot yang dihias dengan patung kuda-kudaan atau burung rajawali.
Di Lapangan Tugu di mana seharian selama 10 hari itu orang-orang membuat tabot, ada juga berbagai pameran dari beberapa kabupaten yang membuat stan-stan. Di dalam stan tersebut terdapat berbagai kebudayaan atau makanan khas, kerajinan khas, batik khas (Batik Bengkulu=Batik Besurek), dsb dari masing-masing kabupaten. Jadi, tidak sedikit masyarakat Provinsi Bengkulu yang datang langsung ke ibukota hanya untuk menikmati megahnya Festival Tabot ini.
Tanggal 10 Muharam, hari-hari penutupan, tabot-tabot itu diarak ke Padang Karabela (=sebuah nama tempat di Kelurahan Kebun Tebeng). Di sana adalah tempat pembuangan tabot. Selanjutnya tabot-tabot tadi dibuang ke sana. Demikian pula untuk pameran yang pada hari itu mengadakan penutupan. Biasanya, didatangkan pawang hujan sebab hari tiu sangat sakral agar upacara pembuangan tabot bisa berlangsung dengan baik. Pembuangan tabot ini diiringi oleh Kaum Sipai, Keluarga Tabot, mengigat upacara ini sangat sakral dan religius.
Nah, teman-teman! Begitulah cerita Festival Tabot yang dapat saya sampaikan. Seorang teman kita dari SMA Negeri 2 Kota Bengkulu, Ramadita Fetrianggi memenangkan lomba kerajinan tangan tingkat Nasional dalam Olimpiade Seni Nasional 2008 (OSN 2008) yang diadakan di Bandung. Dita yang waktu itu membuat Replika Tabot, mendapat Juara III.
Yang membuat Dita menang dalam lomba ini, karena kekreatifannya dalam mengangkat seni budaya Bengkulu melalui limbah. Replika tabot ini dibuat dari voucher-voucher bekas isi ulang Handphone yang dipotong dengan cutter dan dibentuk sedemikian rupa menjadi miniature tabot. Dita menghabiskan 30 keping voucher bekas untuk membuat sebuah miniatur.
”Sebuah replika tabot tidaklah lengkap jika tidak dimasukkan ke dalam kotak kaca. Maka dari itu, saya membuat sebuah kotak kaca yang saya modifikasi dari limbah juga, yaitu kardus bekas, plastik transparan, dan kulit lantung,”, ujar Dita yang mampu menyingkirkan 30 provinsi lainnya ini.
Kulit lantung adalah kulit kayu yang berasal dari pohon lantung. Pohon lantung merupakan tanaman liar khas Bengkulu dan jarang terdapat di Provinsi lain, apalgi dimanfaatkan. Biasanya di Bengkulu, kulit lantung ini digunakan untuk membuat kerajinan tanga seperti gantungan kunci, bingkai foto, dll. Bahkan telah dimanfaatkan dalam industri rumah tangga yang membuat kulit lantung tersebut menjadi tas, kotak pensil, topi, atau yang lainnya yang tentunya sangat antik, berharga tinggi, dan hilang sifat limbahnya. Biasanya wisatawan sering membelinya untuk kenang-kenangan atau oleh-oleh.
Adapun tujuan pembuatan Replika Tabot ini, yaitu:
Menghasilkan inovasi Replika Tabot Bengkulu yang terbuat dari limbah dan SDA Bengkulu.
Menghasilkan sebuah suvenir yang bernuansakan nilai-nilai budaya/religius dan estetika.
Mengangkat nilai-nilai budaya dan SDA Bengkulu ke dalam pentas nasional dan internasional.
Manfaat Replika Tabot ini, yaitu:
Sebagai souvenir untuk hiasan di rumah yang bernilai estetis.
Sebagai sarana mengenang nilai-nilai religius cucunda Rasulullah, Hasan dan Husein r.a.
Memanfaatkan limbah dan SDA utamanya di Bengkulu.
Tentunya kita sebagai manusia yang berulang tahun setiap tahunnya memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai. Nah, di tahun baru Hijriah ini, apa harapan teman-teman? Mmmmm......, yang pasti kita menginginkan yang terbaik untuk diri kita. Menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya, dan mewujudkan impian yang belum terwujud sebelumnya. Semoga kita menjadi insani yang kreatif dan berpandangan ke depan. Amiiiin!
Hari ini kulihat lagi di televisi, peristiwa yang memilukan!
Saudara-saudaraku di Ibukota kembali terkena musibah banjir. Kembali, bukan pertama kali saat musim hujan di Januari.
Rumah mereka terendam, harta benda mereka lenyap, keluarga mereka hilang terseret arus.
Mereka terjebak genangan air, bantuan tidak kunjung datang! Mereka lapar, mereka kedinginan!
Januari 2008,
Diary,
Mengapa lagi harus kuulang tulisan tahun lalu.Ibukota Negaraku kembali dirundung duka.
Banjir dan Banjir lagi di musim hujan ini.
Semestinya semua orang malu, seperti diriku!
Jakarta, Ibukota Negara, tak seharusnya ia berubah menjadi ‘kubangan’lagi tahun ini!
Apalagi Ia turut mengajak Pasuruan di akhir bulan ini!
Ya, Pasuruan banjir juga!
Mengapa Jawa harus jadi langganan banjir? Siap yang salah? Hutan yang lenyap, pemerintah yang tak tanggap atau masyarakat kita yang tidak peduli lingkungan?
Mei 2008,
Diary,
Banjir bergeser ke barat. Kali ini Sumatera Utara!
Mengapa dalam hal ini harus disusulnya Ibukota? Mengapa?
Jawa khususnya Jakarta memang pusatnya Negara ini. Kejadian di sana pasti berdampak pada daerah.
Tapi haruskah sampai bencana di-share nya pada daerah lain?
November 2008,
Diary,
Banjir bergeser ke timur!
Samarinda dan Kalimatan Selatanjuga terserang ‘penyakit musiman’ ini!
Rasanya pengalaman daerah lain tak cukup memberi pelajaran bagi kita dan mereka yang belum terkene!
Ini kah tanda banjir akan mampir ke daerahku juga?
10 Januari 2009,
Tidak Diary!
Mengapa banjir harus hadir di daerahku. Setelah Denpasar diterjang pula di awal musim penghujan ini, Mataram mengekor!
Sentra penjualan mutiara kami di Sekarbela, Mataram, terendam banjir setinggi dada orang dewasa! Banyak temnn-temanku ikut mengungsi juga…..
Diary,
salahkah topografi pulau Lombok yang menempatkan daerah selatan pada titik yang rendah?
Atau salah kami yang tak sadar arti kebersihan lingkungan
12 januari 2009,
Ahhh Diary,
Kutemukan jawabannya!
Aku harus berbuat! Cukup Jakarta yang jadi langganan banjir, tak usah daerahku ikut-ikutan!
Aku dan teman-temanku membersihkan selokan depan rumah dari sampah agar aliran air lancer. Kami gali sedikit agar lebih dalam.
Ahhh….
Di langit sana,
Awan kelabu masih menggantung, siap membombardir kami dengan hujan lebat tampaknya!
Bolehkah aku marah? Ketika kini yang kulihat hanyalah peperangan dan pertikaian. Ketika kusaksikan banyak bocah menjadi korban. Ketika orang - orang tidak lagi peduli pada indahnya perdamaian.
Bolehkah aku marah? Memang, aku hanyalah seorang anak dari Indonesia. Aku hanyalah seorang pelajar SMA. Tapi aku juga manusia. Aku adalah manusia yang menginginkan kedamaian.
Bolehkah aku marah? Walau aku hanya mampu melihat tanpa bisa bertindak. Tapi aku tidak mati rasa. Sungguh, hatiku sakit mendengar banyaknya media yang memberitakan tentang korban akibat adanya perang. Hatiku menjerit saat mengetahui banyak anak - anak sepertiku yang meregang nyawa. Hatiku pedih membaca selarik berita tentang bertambahnya jumlah korban, terutama dari kalangan anak - anak.
Bolehkah aku marah? Aku tidak ingin berpihak pada pemerintah manapun. Aku hanya ingin berpihak pada anak - anak. Anak - anak di seluruh penjuru dunia. Anak - anak korban perang ataupun anak - anak yang hidup damai d wilayahnya. Anak - anak yang ingin sekali kutemui dan ingin kukatakan pada mereka kalau aku peduli. Tidak hanya aku, tetapi semua anak lainnya juga turut peduli. Bagaimanapun dan apapun kondisi mereka. Tertawa atau menangis. Berlarian riang di taman atau bersembunyi di barak pengungsian.
Bolehkah aku marah? Ketika dulu orang - orang dewasa bersidang untuk membela anak - anak. Ketika banyak pihak melindungi hak anak - anak. Ketika sejumlah undang - undang diberlakukan demi kepentingan anak - anak. Masih adakah arti dari itu semua? Masih tersisakah kepedulian itu? Masih berlakukah semua yang telah diputuskan dan disetujui bersama? Karena kini bagiku semua peraturan itu tidak berarti lagi. Itu semua hanyalah serangkaian kata rumit yang tertulis di atas kertas putih tanpa kekuatan hukum apapun. Bagiku aturan itu tercipta hanya untuk memenuhi buku perundang- undangan.
Bolehkah aku marah?Para orang dewasa yang budiman, haruskah perang ini terus berlanjut? Berapa ribu lagi korban anak - anak yang engkau minta? Berapa ribu lagi saudara kami di sana harus melepas mimpi dan harapan? Berapa banyak lagi dari kami harus memohon seperti ini? Berapa lagi?
Adalah kami yang merupakan satu dari pengakuan kedaulatan hukum baur buai.
Adalah kami yang terlihat begitu terpedang dalam jejaring kaku pendewasaan jiwa.
Namun kami..
sesungguhnya adalah suara Tuhan yang hinggap pada telinga manusia untuk memberi efek cinta yang begitu magis pada sekalian alam..
Maka, biarlah kami membahanakan suara-suara yang telah lama terbungkam ataupun dibungkam oleh keruh pekat debu kefakiran jiwa!