Halaman

Tampilkan postingan dengan label Save Our Papers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Save Our Papers. Tampilkan semua postingan

18 April 2012

Save Our Papers Jakarta

Pada hari Minggu aku pergi ke pantai. Saya pergi ke pantai menaiki mobil saya. Saat di mobil saya melihat pemandangan bagus sekali. Saya melihat sawah, pegunungan dan juga kerbau. Saya tiba di pantai senang sekali. Dan saya bermain pasir dan saya bermain air di sana. Saya melihat kerang dan melihat ikan yang indah. Saat pulang saya menaik mobil saya. Saya melihat pemandangan yang lebih bagus. Saya melihat ikan yang dijual di jalan raya.

***

Itulah salah satu karangan yang ditulis oleh salah seorang peserta Save Our Papers alias SOP Jakarta seusai pemberian materi menulis. Tulisannya khas anak-anak. Polos, lucu dan apa adanya.

Well, inilah serangkaian aksi Save Our Papers yang terakhir setelah sebelumnya diselenggarakan di 3 kota besar di Indonesia : Bengkulu, Mataram dan Palembang. Jakarta yang dahulunya bernama Jayakarta akhirnya menjadi tempat terakhir penyelenggaran dari aksi nasional ini.

Sekitar dua bulan kami melakukan pengumpulan buku dan kertas-kertas bekas. Setelah terkumpul cukup banyak, kami pun ‘menyulap’ kertas-kertas dan buku-buku bekas tersebut menjadi buku-buku layak pakai. Untuk cover, kami memakai karton dan kalender bekas. Sebagai tindak lanjutnya, kami memanfaatkan buku-buku yang sudah kami ‘sulap’ menjadi barang yang lebih berguna dengan mengadakan workshop mini seputar menulis. Apalagi kalau bukan Save Our Papers.

Dari sekian banyaknya tempat anak di kota Jakarta, entah itu panti asuhan ataupun sekolah, SD Al-Anwar, Cilandak, Jakarta Selatan lah yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan aksi SOP (Save Our Papers) KREATif Jakarta. Ada beberapa keputusan yang kami pertimbangkan mengapa kami memilih sekolah ini sebagai lokasi acara.

Pertama, dari segi sumber dana sekolah itu. Bayangkan, demi kelancaran proses belajar-mengajar, dana sekolah didapatkan dari sumbangan yang didapatkan dari rumah ibadah (baca : masjid) terdekat. Belum lagi mayoritas pelajar di sekolah itu juga merupakan anak yatim. Jangankan memiliki lapangan untuk berupacara setiap Senin tiba, perpustakaan pun juga tiada. Kendati demikian, setidaknya sekolah berlantai 2 itu masih lebih beruntung ketimbang sekolah dasar lainnya di pelosok daerah yang masih jauh dari kata layak. Keterbatasan tidak menjadi penghalang. Meski tak memiliki ruang, setidaknya ada satu hingga tiga rak buku yang ditempatkan di koridor di lantai atas sekolah secara terbuka.

Kembali soal SOP, SOP Jakarta diselenggarakan pada Minggu, 15 April 2012. Namun meskipun acara baru akan dimulai pada pukul 10.00 WIB, antusiasme para peserta untuk mengikuti workshop mini SOP tak surut. Terbukti sejam sebelum acara dimulai yakni sejak pukul 09.00 WIB, anak-anak yang terdiri dari kelas 3, 4 dan 5 sudah hadir terlebih dahulu di sekolah. Ditemani dengan beberapa guru pendamping, mereka menunggu kami dengan sabar.

Ternyata benar saja, Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Begitu kami hendak memulai acara pada pukul 10.00 WIB, dengan segera adik-adik naik ke lantai atas lalu menempati tempat duduk masing-masing di sebuah kelas tak ubahnya semut yang mengantri pembagian gula. Mereka senang, kami yang hendak mengadakan acara juga senang.

Seharusnya ada 30 anak yang akan mengikuti workshop mini yang kami adakan. Tetapi entah mengapa hanya ada 19 anak saja yang hadir. Entah kemana 11 anak lainnya. Namun begitu ditanya tentang temannya yang tidak hadir, seorang anak mengatakan bahwa temannya masih tertidur pulas sehingga tidak datang ke acara SOP. Sebagian lainnya mungkin ada yang lupa, ada juga yang mendadak berhalangan begitu hari H. Tapi ya sudah lah, show must go on! Apapun kondisinya kami tetap harus melanjutkan acara. Dengan 19 adik pun kami juga sudah bisa membuka acara.

Acara diawali dengan perkenalan. Mulanya kami memperkenalkan masing-masing personal dari kami serta sekilas tentang apa sih KREATif itu. Kami menjelaskan bahwa KREATif adalah komunitas penulis muda yang peduli akan hak-hak anak yang dinaungi oleh YKAI dan UNICEF. Kami menjelaskan bahwa ada loh organisasi anak yang peduli dengan keberadaan anak-anak! Tak lama berselang kini giliran bagi adik-adik Al-Anwar untuk berdiri sembari memperkenalkan diri masing-masing. Tak hanya memperkenalkan diri, mereka juga harus bercerita kepada kami kira-kira kalau sudah dewasa nanti ingin jadi apa sih? Begitu masing-masing dari mereka melontarkan jawaban, seketika kami takjub. Tak dinyana, jawaban mereka tak kami duga-duga. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, arsitek bahkan hingga pemain sepak bola!

Tepuk hak anak! Prok prok prok! Hak Hidup! Prok prok prok! Tumbuh Kembang! Prok prok prok! Perlindungan! Prok prok prok! Partisipasi

Lanjut... Oya, sebelum acara inti dimulai, kami melakukan tepuk hak anak terlebih dahulu lho... Adik-adik kami pinta untuk berdiri lalu dipimpin oleh Noval, ketua KREATif, kami melakukan tepuk hak anak secara bersama. Salutnya, pemahaman mereka bisa dikatakan cukup cepat. Begitu ditanya siapa yang berani mempraktekkan tepuk hak anak di depan, seorang anak mengajukan diri dan mencontohkan tepuk hak anak di hadapan teman-temannya yang lain. Sontak tepuk tangan bergemuruh di seisi ruangan kelas. Sebagai apresiasi atas keberaniannya, KREATif pun memberikannya sebuah bingkisan menarik.

Noval KREATif memberikan materi seputar menulis kepada adik-adik Al-Anwar

Beranjak ke acara berikutnya, kini tiba waktunya pemberian materi alias sharing bersama. Namun sebelum itu, Febi, Dini dan Ilman membagikan alat tulis berupa pensil, buku SOP, rautan dan penghapus terlebih dahulu kepada masing-masing peserta. Lalu bermodalkan sebuah papan tulis dan sebuah spidol, kami pun berbagi ilmu kepada adik-adik.

Kami sharing kepada mereka bahwasanya untuk menulis itu tidaklah sulit, asalkan ada kemauan, kita pasti bisa menulis. Masalahnya, apakah kita tau bagaimana caranya? Nah, di sinilah fungsinya workshop mini. Kami saling berbagi pengetahuan agar kami bisa belajar satu sama lain.

Dalam sharing, kami menjelaskan bahwa pertama kali yang perlu dilakukan sebelum menulis adalah memahami apa pengertian dari menulis. Jika kita saja tidak mengerti apa itu pengertian menulis, lantas bagaimana kita bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan? Tetapi jika kita sudah mengerti apa itu menulis, kita bisa langsung menentukan tema. Kira-kira apa sih gambaran besar atau apa sih yang ingin kita bahas dalam tulisan kita?

Setelah menentukan tema langkah selajutnya adalah langsung menulis. Dalam sharing ini, kami tidak ingin terlalu banyak teori karena sasaran kami masih SD sehingga kalau teori yang kami sampaikan terlalu banyak, kami khawatir jika mereka mengalami kesulitan dalam mencerna apa yang kami sampaikan. Maka setelah menentukan tema, kami menjelaskan bahwa kita bisa langsung menulis. Namun jika adik-adik mengalami kesulitan, kami menjelaskan bahwa agar lebih mudah, kita bisa menentukan inti-inti alias poin-poin apa saja yang ingin kita tulis dalam tulisan kita. Setelah inti-intinya sudah disusun, barulah kita bisa mengembangkan poin-poin tersebut menjadi sebuah tulisan utuh. Oya, judul juga tak kalah penting. Kami juga menjelaskan kepada adik-adik bahwa tulisan tanpa judul ibarat orang tak punya nama dan betapa pentingnya menulis judul. Bahkan demi lebih memperkuat tulisan adik-adik, kami juga berbagi ilmu tentang penggunaan huruf kapital dan tanda baca secara benar dan tepat.

Pukul 11.30 WIB. Tak terasa workshop mini sudah berjalan selama 1 jam. Nah, ini dia waktu yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan lomba menulis! Ya, lomba menulis! Sayang-sayang dong sudah mendapatkan materi tetapi tidak melakukan praktek nyata? Maka inilah wadah yang tepat bagi mereka untuk menuangkan kreativitas mereka dalam bentuk tulisan. Temanya terserah, yang penting tentang pengalaman pribadi. Bagi 3 terbaik berhak mendapatkan hadiah. Kami ingin tahu kira-kira bagaimana sih adik-adik Al-Anwar menuangkan pengalaman yang mereka alami dalam bentuk tulisan?

Beberapa menit berlalu. Adik-adik yang sudah menyelesaikan tulisannya boleh menerima makanan sembari menuliskan kesan-kesan mereka terhadap acara ini pada selembar post it untuk ditempelkan di kertas karton yang sudah kami pasang di dinding. Lalu seiring berjalannya waktu, satu per satu peserta bangkit dari kursinya, mengumpulkan buku, menempelkan post it pada karton lalu sembari menunggu teman-teman yang lain, mereka dipersilakan untuk makan makanan yang tersedia.

Akhirnya semua peserta selesai menulis. Kami pun melakukan penjurian. Penjurian dilakukan oleh Febi, Noval dan Dini (hendak bergabung di KREATif) di ruang terpisah dengan ruang tempat workshop mini dan lomba menulis dilaksanakan. Kami melakukan penilaian berdasarkan isi, gaya bahasa dan judul. Nah, poin terbanyak yang didapatkan dialah yang akan menjadi pemenangnya. Di saat bersamaan, guna mengisi kekosongan selagi penjurian, Kak Dede, Wiza dan Ilman yang sedari tadi stay di tempat melakukan games interaktif kepada adik-adik Al-Anwar. Selain melatih konsentrasi, games ini juga melatih kemampuan motorik anak.

Finish! Tak terasa sudah satu jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan puku 13.00 WIB. Itu artinya kami bertiga (Noval, Febi dan Dini) harus kembali ke atas untuk mengumumkan siapa 3 pemenang dari lomba menulis ini. Setibanya kami disana, kami membagikan buku terlebih dahulu secara acak. Jadi bagi adik-adik yang tidak merasa bahwa buku yang ada padanya bukan miliknya harus mengembalikan kepada yang empunya. Ada 16 buku yang kami bagikan. Artinya, ada 3 buku yang sengaja kami sembunyikan. Nah, 3 buku yang kami sembunyikan inilah karya para pemenang dalam lomba ini. Kami sengaja menyembunyikan ketiga buku itu karena kami ingin membuat kejutan.

Sebelum mengumumkan hasil lomba, kami bertanya terlebih dahulu siapa saja yang tidak kebagian buku. 3 orang mengaku kepada kami bahwa mereka tidak kebagian buku. Nah, di saat inilah kami mengerjai mereka. Kami menuduh bahwa ketiga orang tersebut tidak mengumpulkan buku. Kami beranggapan bahwa mereka ceroboh. Nah, sebagai dampak dari perbuatan mereka, kami menyuruh 3 orang yang kehilangan buku tersebut itu untuk maju ke depan untuk menuliskan masing2 dua kalimat di atas papan tulis. Mulanya tidak ada yang mau. Mereka merasa malu di satu sisi mereka merasa sudah mengumpulkan buku kepada kami. Sampai-sampai mata mereka berkaca-kaca seolah tak percaya bahwa buku mereka hilang. Akhirnya setelah kami dorong untuk berlaku berani, seorang di antara mereka memberanikan diri menulis di papan tulis. Keberaniannya membuat dua orang temannya juga turut memberanikan diri. Akhirnya mereka bertiga menuliskan masing-masing dua kalimat di atas papan tulis.

Setelah selesai, kami bertanya nama mereka masing-masing kemudian kami menuliskan nama mereka satu per satu pada sebuah buku. Di saat bersamaan kami seakan menyudutkan mereka dengan berkata bahwa mereka seolah tidak mengumpulkan buku. Sampai pada akhirnya ada di antara mereka yang mau menangis, barulah kami membeberkan kepada mereka bahwa tiga orang yang kehilangan bukunya adalah 3 pemenang dalam lomba ini. Kami juga menjelaskan kepada mereka bahwa kami hanya bercanda dan hanya bermaksud membuat kejutan. Sontak mereka kaget. Seketika tepuk tangan bergemuruh, tak menyangka bahwa ternyata 3 orang yang kehilangan bukunya adalah pemenang dalam lomba ini. Mereka adalah Nur Fitriah (Juara 1), Irza (Juara 2) & (Juara 3).

KREATif berpose dengan adik-adik Al-Anwar usai Save Our Papers Jakarta pada Minggu, 15 April 2012

Tak lama selang pembacaan hasil lomba, para peserta yang dinyatakan pemenang membacakan karyanya secara bergiliran di depan kelas. Setelah itu kami melakukan pembagian hadiah. Hadiah diberikan secara bergiliran dari juara terendah hingga tertinggi (juara 3, 2, 1) oleh Dini, Febi dan Noval. Hadiah yang kami berikan berupa keperluan sekolah yang dimasukkan ke dalam sebuah tas kertas. Kami memilih memasukkan hadiah ke dalam tas kertas ketimbang membungkusnya dengan kado sebab selain ramah lingkungan, tas kertas juga bisa digunakan dalam keperluan sehari-hari. Tak hanya kepada para peserta, kami pun juga memberikan sedikit pemberian kepada pihak sekolah berupa dua buah spidol whiteboard dan isi ulang tinta. Tak terasa sudah 3,5 jam waktu berlalu. Akhirnya setelah kami beres-beres terlebih dahulu, acara pun ditutup dengan doa dan berfoto bersama.* (NK)

20 Maret 2012

Save Our Papers Palembang

SAVE OUR PAPERS PALEMBANG

Kak Adhiah & Yepe (KREATif Palembang) berpose sembari membentangkan kain batik bertuliskan Save Our Papers

***

Setelah Bengkulu dan Mataram, kini #SaveOurPapers sukses di Palembang! Disponsori oleh Pertamina, Save Our Papers Palembang berhasil dilaksanakan pada Minggu, 18 Maret 2012 di Desa Selabranti. Aksi ini merupakan hasil karya KREATif featuring berbagai relawan (ESQ, SMAN Sumsel, Perpasultan & BPPM Ibnu Sina FK UNSRI).

Mungkin teman-teman bertanya mengapa kita memilih Desa Selabranti sebagai target operasi Save Our Papers. Alasannya karena menurut data yang kami terima, rata-rata anak-anak yang berdomisili di desa itu (bisa dikatakan 90%) sudah tidak menempuh pendidikkan formal lagi (baca : sekolah). Ironisnya lagi bahkan ada yang benar-benar tidak sempat untuk bersekolah. Selain jarak desa mereka yang sangat jauh, sarana dan prasarana di desa itu juga tidak mencukupi (tidak ada bahkan)..

Seperti Save Our Papers di daerah lainnya, dalam Save Our Papers Palembang juga ada pembagian buku tulis. Tetapi tidak hanya itu saja lho.,, Selain pembagian buku tulis yang didapat dari kertas-kertas sumbangan, kita (KREATif Palembang) juga membagikan buku bacaan (mulai dari buku pelajaran hingga komik), pulpen, makanan bahkan hingga ilmu agama.

Di samping itu kita juga mengadakan acara yang sangat menarik. Di antaranya ada lomba makan kerupuk, lomba mengambil koin di pepaya bahkan hingga lomba balap karung. Lebih dari itu, lombanya juga tidak hanya diikuti oleh anak-anak di desa itu tetapi semua anggota keluarga yang tinggal di desa itu juga ikut memeriahkan. Dari yang paling belia hingga yang tua, semuanya berbaur menjadi satu. Meski sederhana, acara tersebut mendapatkan antusias yang sangat tinggi.

Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman tersebut. Intinya kita tidak boleh menyia-nyiakan semua yang ada pada diri kita. Masih banyak yang harus diperbaiki dari negeri ini. Masa depan negeri ini ada di tangan kita sahabat. Ayo kita sama-sama berjuang!

Salam KREATif \(^_^)/

02 Februari 2012

Save Our Papers Bengkulu : Perdana di Bumi Rafflesia

SOP BENGKULU : Perdana di Rafflesia
Adhiah Juliarti Harahap - KREATif Bengkulu

KREATif Bengkulu bekerjasama dengan IKMABIRA+Osis SMAN 6 berfoto bersama dalam SOP Bengkulu di Panti Asuhan Yayasan Swasta Mandiri, Bengkulu pada 30 Jan 12.

***

"Jujur banyak sekali pelajaran yang didapat. Saya jadi lebih dekat dengan teman-teman, padahal sebelumnya tidak terlalu dekat." (Lathifah-relawan)

"Ega senang dan merindukan masa-masa ini. Nggak sia-sia capek dari kemarin-kemarin," (Ega-relawan)

***


Bumi Rafflesia, 30 Januari 2012....

Hari yang bersejarah bagi Bengkulu. Setelah 2 minggu lamanya pengumpulan kertas buku tulis bekas layak pakai beserta pengerjaan teknis pembuatan buku-buku tulis, akhirnya 857 buku telah berhasil dibagikan kepada adik-adik kita yang kurang beruntung. Menurut perhitungan terakhir, buku tersebut kembali mendapatkan tambahan sehingga lebih dari 857 buku tulis yang dibagikan pada hari itu.

857 buku siap dibagikan!


Kertas-kertas yang dirangkai sebanyak 40 lembar per bukunya merupakan hasil karya KREATif Bengkulu bekerja sama dengan IKMABIRA (Ikatan Mahasiswa Bumi Rafflesia)+Osis SMAN 6 Bengkulu.

Berhari-hari teman-teman kita meluangkan waktunya untuk pembuatan buku ini. Kulit buku ini sendiri diambil dari kulit buku bekas yang tidak terpakai. Kulit buku yang jelek lalu diakali dengan disampul agar terlihat bagus dan rapi. Sementara itu, kulit buku lain juga dibuat dengan menggunakan kalender bekas yang tak terpakai.

Hari itu, tim tiga serangkai (KREATif Bengkulu, IKMABIRA & Osis SMAN 6) mulai beraksi, dengan lokasi sasaran Panti Asuhan Yayasan Swasta Mandiri. Keadaan panti ini tidak seperti namanya. Dinding papan dan lantai papan rasanya belum layak untuk menampung sekitar 50 anak. Konon kabarnya panti ini sempat mengalami kebakaran tahun lalu karena hubungan arus pendek listrik.

Sebelumnya, kami berempat, saya (Adhiah), Rangga, Ega, dan Yudhis ke perkampungan nelayan "Berkas" terlebih dahulu untuk membagi-bagikan buku kepada anak-anak. Ada sekitar 300 buku yang kami bawa ke sana. Tapi setibanya disana keadaannya sungguh memprihatinkan. Betapa tidak, baru saja kami menginjakkan kaki kami, tiba-tiba saja bapak-bapak dan ibu-ibu datang berbondong-bondong. Mereka berebut tak sabaran. Begitu bagasi mobil dibuka, mereka mulai berlarian tidak tertib. Sampai-sampai ada seorang bapak yang sedang menjala ikan rela meninggalkan pekerjaannya sesaat hanya demi mendapatkan buku untuk anaknya di rumah. Pembagian buku pun menjadi ricuh sehingga kami tidak sempat mendokumentasikannya.

Oh ya, ada pengalaman unik disana. Tak lama berselang pembagian, seorang ibu turut berterima kasih kepada kami namun secara tak langsung ia menyindir pejabat setempat yang tak pernah memperdulikan mereka. Ini membuat kami merasa prihatin. Dengan mata kepala kami melihat masyarakat yang kehidupannya sungguh memprihatinkan, baik ekonomi maupun sosial. Inikah keadaan Indonesia yang sesungguhnya?

Pemenang lomba mengarang membacakan karyanya


Pembagian buku di kampung nelayan selesai. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Panti Asuhan Swasta Mandiri menyusul teman-teman dan adik-adik yang telah menunggu di sana. Tim OSIS SMAN 6 Bengkulu telah merangkai acara ramah tamah, menyanyi bersama, dan yang lainnya. Ada pembagian snack, perlombaan mengarang, doorprize untuk yang berani tampil dan yang bisa menjawab pertanyaan seputar pengetahuan umum. Kegiatan ini ditutup dengan pembagian buku 1 anak 10 buku yang telah dipak dan saling menyalami satu sama lain, baik itu sesama panitia, adik-adik, dan pengurus panti.

Kegiatan ini menimbulkan kesan tersendiri dan rindu, sebab adik-adik secara langsung menyampaikan kepada panitia untuk sering berkunjung ke panti ini. Panitia sendiri mendapatkan pelajaran berharga dari melihat nasib anak-anak panti yang memprihatinkan, tanpa kasih sayang orang tua kandung, dan keadaan yang amat sederhana.

Save Our Papers Bengkulu diakui oleh tim kerja telah membawa banyak pengalaman dan pelajaran. Lebih mendekatkan dan mengakrabkan teman-teman satu sama lain.* (AJH)

25 Oktober 2011

Save Our Papers


Kamu percaya minat menulis anak - anak Indonesia itu rendah? Kami sih tidak sepenuhnya percaya.

Budaya tulis tangan hampir ditinggalkan oleh sebagian dari kita yang tinggal di kota besar dimana kemajuan teknologi berkembang sedemikian pesatnya sehingga nyaris semua kegiatan tulis menulis cukup dikerjakan dengan komputer.

Namun, tak semua anak seberuntung kita, masih banyak anak yang memiliki keterbatasan dalam mendapatkan alat tulis, terutama yang tinggal di daerah pelosok dan masih jauh dari kehidupan modern.

Kebutuhan kertas tidak pernah berkurang, tapi malah terus bertambah.

Di sinilah masalahnya: bagaimana mau meningkatkan dan menggalakkan minat menulis jika masih banyak kalangan yang tidak memiliki akses pada kertas dan pena? Vonis rendahnya minat tulis menulis dalam sejumlah kasus, seringkali tidak memperhitungkan kurangnya pasokan buku dan pena.

Itulah sebabnya kami merancang gerakan "SAVE OUR PAPERS"
Prinsipnya: kami siap menerima, mentabulasi, mengelola, mengkoordinir dan menyalurkan distribusi kertas serta pena yang disumbangkan.

Kami juga berharap partisipasi teman-teman dan komunitas lain, dengan cara:
1. mengumpulkan kertas-kertas sisa buku tulis yang tidak terpakai

2. mengumpulkan covernya saja juga boleh jika seluruh halaman bukunya sudah penuh tulisan,
3. mengumpulkan pena dan pensil (baik bekas maupun baru)

Kertas - kertas yang terkumpul, nantinya kita jilid menjadi beberapa buku tulis yang akan disumbangkan.

Ini memang sepele. Daripada kertas-kertas sisa buku menumpuk dijual kiloan ke tukang loak keliling, lebih baik sedikit demi sedikit diberikan kepada mereka mereka yang membutuhkan.

Terus terang, buku dan pena sebenarnya masih menjadi barang mahal di negeri ini. Berbeda dengan India yang entah bagaimana Pemerintahnya bisa memenuhi kebutuhan buku warganya dengan harga yang sangat murah.

Sekali lagi, JANGAN TUMPUK KERTAS-KERTASMU DI RUMAH, BERGABUNGLAH DALAM GERAKAN INI!!

Tak ada yang lebih menyenangkan selain bisa berbagi dengan sesama. Siapa tahu kelak ada penulis terkenal bangsa ini yang datang dari anak-anak penerima kertas donasimu.

Sepele, berkat kertas yang urung kamu buang, kamu telah menjadi bagian dalam mencerdaskan bangsa ini ^_^

Info hubungi : KREATif Centre : 0817828230 atau Noval (KREATif DKI Jakarta)