Halaman

23 Februari 2011

Susunan Kepengurusan KREATif Sementara (Januari-Juli 2011)

Ketua : Noval Kurniadi

Wakil Ketua : Febianza Mawaddah Putri

Sekretaris I : Nenden Ayu Wulandari

Sekretaris II : Ahmad Roziqi

Bendahara I : Nita Oktaviya

Bendahara II : Dita Aljelia

Tim Pengasuh Website, Blog, Buletin, Facebook, & Twitter :

- I Gusti Ayu Sri Gayatri Kancana Dewi,

- Astari Maghfira,

- Gabrielle Tatia,

- Bunga Nieta Putri Vidanska

Para Pembimbing:

Pelindung dan Penanggung Jawab : Ibunda Winarti Sukaesih

Pembina dan Penasehat : Ibunda Susan Siregar

Keuangan : Mbak Aya

Pendamping : Kak Ayu

MEMBACA, MENJADI COLUMBUS MASA KINI

KREATif DKI Jakarta : Noval Kurniadi


Columbus dilahirkan di Genoa, Italia, pada 1451. Tatkala berangkat dewasa, dia menjadi nahkoda kapal dan navigator. Ia pernah membujuk Ratu Isabella I untuk menyediakan anggaran demi memudahkannya melakukan ekspedisi ke Asia Timur.

Columbus adalah sang penjelajah dunia. Terbukti ia telah mengarungi berbagai negara dan menemukan Benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Mungkin kita berpikir pada era globalisasi di saat harga barang melonjak naik dan minimnya perekonomian rakyat semacam ini menandakan betapa mustahilnya kita bisa berkeliling dunia seperti Columbus. Nyatanya, siapa saja bisa berkeliling dunia secara gratis, tanpa kapal, tanpa pesawat, bahkan lebih cepat ketimbang apa yang dilakukan Columbus. Yang harus kita lakukan hanyalah satu, yakni membaca.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, membaca berasal dari kata ‘baca’ yang berarti memahami arti tulisan. Ibarat sebuah pisau, maka membaca adalah tindakan mengasah otak agar tidak tumpul dimakan waktu. Membaca merupakan kegiatan yang positif karena kita bisa menambah wawasan serta mengembangkan daya imajinasi. Membaca lebih dari sekadar mempersiapkan mata dan memperhatikan tulisan saja, melainkan adalah sarana untuk berkeliling dunia secara gratis. Sebab kita bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dunia tanpa harus keliling dunia. Membaca tak harus selalu berkaitan dengan buku pelajaran. Memahami arti tulisan yang tertera pada sastra, internet bahkan hingga Al-Quran juga bisa diartikan membaca.

Sungguh ironis. Banyak orang yang setuju dengan pepatah, “buku adalah jendela dunia”. Namun realitanya, perhatian generasi muda masa kini terhadap minat baca tergolong rendah. Terbukti Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 menyatakan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id). Sementara UNESCO pada 2005 menyatakan bahwa mahasiswa di negara maju memiliki rata-rata membaca selama delapan jam per hari. Sedangkan di Indonesia hanya dua jam per hari. Belum lagi laporan Human Development Report 2008/2009 yang dikeluarkan UNDP menyatakan bahwa minat membaca Indonesia berada di peringkat 96 dari negara di seluruh dunia, sejajar dengan Bahrain, Malta dan Suriname. Miris sekali bukan?

Sebaliknya, pola hidup remaja masa kini malah kurang memberikan manfaat, seperti hang out misalnya yang cukup diminati. Sebenarnya Columbus pun demikian, ia juga suka hang out. Bedanya, hang out yang dilakukan Columbus tidak sekadar ‘mencuci mata’ saja, tetapi bernilai positif. Terbukti perjalanannya dalam menjelajahi dunia banyak menginspirasi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sama halnya dengan membaca, maka itulah hang out yang positif. Sebab hanya bermodalkan bahan bacaan dan mata saja, kita sudah bisa berkeliling dunia secara gratis sehingga kita bisa menjadi orang berguna, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menurut saya, akar dari permasalahan ini adalah kesadaran. Tidak mungkin seseorang menggemari suatu hal tanpa adanya kesadaran dan kemauan dari manusia itu sendiri. Misalnya, seseorang menyukai matematika karena ia sadar betapa pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal bisnis, dalam hal arsitektur bahkan dalam hal astronomi sekalipun pasti dibutuhkan matematika. Sama halnya dengan membaca. Maka jika kita ingin meningkatkan angka minat baca, yang harus kita lakukan adalah membangun kesadaran masyarakat, terutama dari diri sendiri terlebih dahulu. Alangkah ruginya kita jika selama belasan tahun mempelajari A-I-U-E-O, ba-bi-bu-be-bo bahkan hingga ‘ini Budi, ini Ibu Budi’ tetapi kita tidak menyadari betapa pentingnya budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca bukanlah suatu pemaksaan mata, melainkan suatu kesenangan tersendiri. Jangan anggap sebagai suatu beban, tetapi anggaplah itu sebagai makanan yang lezat. Setiap kali kita membaca, maka setiap kali pulalah kita merasakan aroma yang nikmat. Resapilah rasanya yang manis, asem, asin dan pedas yang bercampur menjadi satu yang secara perlahan-lahan merasuki hidungmu. Cicipilah apa yang kamu baca lalu pahamilah artinya. Dengan begitu niscaya membaca tidak lagi menjadi ‘momok’ yang menjemukan, melainkan sebagai fantasi yang mengasyikkan.

Masa-masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Mereka cenderung mengikuti tren dan apa yang banyak diminati. Belakangan tren harajuku tenar di kalangan anak muda Indonesia. Jadi, andaikan kita berhasil mempengaruhi para remaja untuk gemar membaca, dengan membentuk suatu komunitas misalnya, tak mustahil kita bisa menjawab permasalahan ini.

Di samping itu keluarga juga turut berperan penting. Dalam buku Make Everything Well, khusus bab “Menciptakan Keluarga Sukses” (2005), Mustofa W. Hasyim menganjurkan agar tiap keluarga memiliki perpustakaan keluarga. Kalaupun tidak bisa, minimal orangtua mentradisikan budaya membaca kepada anak-anaknya sehingga akan tumbuh rasa cinta mereka terhadap membaca. Bayangkan, apa jadinya jika seluruh keluarga di negeri ini gemar membaca?

Pemerintah juga selayaknya melakukan pengadaan buku gratis, memberdayakan perpustakaan-perpustakaan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan demikian pemerintah tak hanya menyelesaikan PR-nya demi memberantas kebodohan tetapi juga menggiring bangsa ini menuju komunitas berbasis kultur.

Kiranya itulah solusi-solusi yang dapat saya kemukakan. Mungkin terdengar sepele, namun akan berarti besar jika kita mau mulai melakukannya. Saya tak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika semua generasi penerus bangsa mencintai kegiatan membaca. Namun yang terpenting, saya selaku penulis akan puas karena ada Columbus-Columbus masa kini yang akan berkeliling dunia secara gratis.*

10 Januari 2011

NYANYIAN ALAM YANG TERABAIKAN

KREATif Bima: Nurul Khusnul Khotimah (The Best Indonesian Young Writer 2008)


Dasar kau keong racun

Baru kenal eh ngajak tidur

Ngomong nggak sopan santun

Kau anggap aku ayam kampung

Siapa yang tidak kenal dengan syarir lagu yang sangat populer berkat komat-kamitnya Shinta dan Jojo di dunia maya, yang sekaligus melambungkan namanya menjadi selebritis dadakan. Lirik lagu, dan keseluruhan lagu mencerminkan jamannya. Alam dan lingkungannya tampaknya dalam dasa wasa terakhir sudah tidak lagi menarik perhatian para musisi dan penyanyi. Dan apabila kita cermati lirik lagu dan aransemen lagu saat ini sebagaian besar, praktis mudah dicerna, meriah tidak terlalu detail, dan yang jelas nyaris tidak peduli, cuek dengan lingkungan alam sekitar. Simak lagu ngetop lainnya, Cinta Satu Malam yang dinyanyikan Melinda, tidak jauh berbeda dengan keong racun.

Tidak mengherankan pula apabila kejadian alam, musibah bencana alam mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Jogja, lumpur Lapindo, banjir di Wasior, tsunami di Mentawai sampai meletusnya merapi tidak banyak menarik musisi, penyanyi untuk menjadikan tema lagu-lagunya.

Padahal sepuluh tahun terakhir ini kejadian alam, khususnya bencana alam semakin sering terjadi dan cenderung dampaknya semakin dahsyat. Kesadaran akan pentingnya peduli dan mencintai lingkungan alam seharusnya pula menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk para penyanyi dan musisi.

Menengok ke Belakang

Apabila kita membaca ensiklopedia musik Indonesia, lagu-lagu bertemakan alam dan lingkungannya telah lama memberikan inspirasi kepada musisi, penyanyi menjadi tema lirik lagu yang menarik bahkan bertengger di puncak tangga lagu musik pop Indonesia, sekaligus menjadikan penyanyinya tenar, tersohor di seluruh Indonesia. Grup musik Koes Plus dengan lagu Nusantaranya mampu menggugah rasa cinta alam dan lingkungannya. “Beribu pulau tergabung menjadi satu; bagaikan ratna mutu manikam… dst.”. Koes Plus kemudian tidak sendirian ada Gombloh dengan lantunannya “Lestari alamku, lestari negeriku… dst” dengan puncaknya lagu “Gebyar-gebyar” yang melegenda sampai saat ini dalam momen-momen tertentu lagu “Gebyar-gebyar” masih berkumandang.

Sampai generasi 70--80-an “nyanyian alam” masih merdu disenandungkan penyanyi-penyanyi kita. Ada penyanyi kakak beradik Franky and Jane dengan lagu hit-nya musim petik bunga, “Pada musim petik bunga; digunung jadi riang; dan berseri; sehari-hari riang dan berseri; berseri menyambut panen datang semusim sekali; yang sedang pergi lari pulang keladang kembali dst”. Bukan itu saja lagu menumental “Kemesraan” yang diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali oleh Iwan Fals juga tema lagu Franky and Jane yang mengangkat tema alam dan lingkungannya yang tetap dikenang sampai sekarang.

Tema alam dan lingkungannya ‘dimanjakan’ para penyanyi dan musisi sekaligus pecinta musik Indonesia di tahun 80-an. Nama-nama Ritta Ruby Hardland dengan lagu lagunya: Kepada Alam dan Pecintanya, Nyanyian Sawah secara jelas mencerminkan kepeduliannya kepada alam dan lingkungannya. Simak saja lagu Kepada Alam dan Pecintanya: “Pendaki gunung sahabat alam sejati; Jaketmu penuh lambing; lambang kegagahan; Memproklamirkan dirimu pencinta alam; Sementara maknanya belum kau miliki; Ketika aku daki dari gunung ke gunung; Di sana kutemui kejanggalan makna; Banyak pepohonan meritih kepedihan; Dikuliti pisauanmu yang tak pernah diam; Batu-batu cadas meritih kesakitan ditikam belatimu yang tak pernah ayal;
Hanya untuk mengumumkan pada khalayak; Bahwa di sana ada kibar benderamu
Oh alam… korban keakuan Oh alam.. korban keangkuhan Maafkan mereka yang tak mau mengerti Arti kehidupan… ". Lagu manis yang dinyanyikan bersama Anggun C. Sasmi (ketika masih anak-anak) dapat menyentuh nurani pendengarnya sekaligus dia sukses mengkomunikasikan idenya dalam lagu. Demikian juga lagu Nyanyian Sawahnya.

Menelusuri ensiklopedia ‘nyanyian alam’ nama Ebiet G Ade adalah ‘empu-nya’, maestronya, pakarnya. Betapa tidak nyaris seluruh lagunya, baik secara implisit, maupun eksplisit akrab, sarat dengan bait-bait, kata-kata yang berkaitan dengan alam. Ungkapan puitis ‘Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang’ tersohor dan melekat di hati penggemarnya sampai saat ini. Alam dan lingkungannya seperti: embun, hujan, gerimis, kali, telaga, bening, gemercik air, mega, mendung, cakrawala, langit, bulan, matahari, bintang. Demikian pula kata-kata: laut, biduk, bahtera, geladak, kapal, ombak, gelombang, buih, pasir, angin. Kita simak salah satu lagu hit-nya Berita Kepada Kawan (1980). Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan; Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan; Banyak cerita yang mestinya kau saksiskan; D itanah kering bebatuuan; ho…….; Tubuhku tergoncang; Dihempas batu jalanan; Hati tergetar menampak kering rerumputan; Perjalanan inipun seperti jadi saksi; Gembala kecil menangis sedih ho….; Kawan coba dengar apa jawabnya; Ketika ia kutanya mengapa; Bapak ibunya telah lama mati; Ditelan bencana tanah ini; Sesampainya dilaut kukabarkan semuanya; Kepada karang kepada ombak kepada matahari; Tetapi semua diam; Tetapi semua bisu; Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit; Barangkali disana ada jawabnya; mengapa ditanahku terjadi bencana; Mungkin Tuhan mulai bosan; Melihat tingkah kita; Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa; Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita ; Coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang …dst.

Sangat disayangkan jaman keemasan senandung merdu nyanyian alam telah lewat. Memasuki era 90-an lambat laun terdengar sayup-sayup, ‘tergusur’ hinggar-bingar musik pop masa kini. Era 2000-an tak jauh beda, kalah bersaing dengan Keong Racun dan Cinta Satu Malam.

Siapa Peduli Lingkungan Alam?

Pelestarian lingkungan sesungguhnya permasalahan kita bersama, termasuk para penyanyi dan musisi. Dengan demikian penyanyi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ‘mengkampanyekan’ kepedulian, pelestarian lingkungan alam sesuai bakat mereka. Sosok penyanyi, lagu memiliki pengaruh kuat pada fans dan pendengarnya. Dan apabila digarap secara serius, dengan kesungguhan, penuh totalitas maka tema pelestarian lingkungan, mencintai alam memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi lagu nge-hit. Sebagai pembuka babak baru, suara emas Gita Gutawa sangat pas apabila mau menyanyikan lagu bertemakan alam dan lingkungannya, dan kemudian diikuti penyanyi lainnya.

Semoga saja dengan sering terjadinya bencana alam di negeri tercinta ini juga akan menggugah para penyanyi untuk berkarya, mendendangkan lagu nyanyian alam tentu sesuai perkembangan jamannya.

24 Desember 2010



Komunitas Remaja Pena Anak Kreatif (KREATif) mengucapkan

SELAMAT NATAL
DAN
TAHUN BARU 2011
Semoga kita semua selalu dalam
lindungan Yang Maha Kuasa



09 Desember 2010

Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia

Sekelumit kata dari penulis :

Puisi ini ditujukan bagi para koruptor yang sudah menyengsarakan rakyat Indonesia sekaligus guna memperingati hari anti korupsi dunia yang jatuh pada 9 Desember. Tak sadarkah kalian setitik uang haram yang kalian makan itu membuat kami menderita? Anak-anak kelaparan, tidak bisa sekolah bahkan tidak bisa hidup layak itu semua gara-gara kalian! Asal kalian tahu, kami capek, tikus berdasi! Kami capek! Cukup sudah kami bungkam! Dan kini saatnya kami berbicara, menguak sebuah kebenaran yang selalu kalian tutup-tutupi! Saya tidak berharap banyak, namun semoga dengan adanya goresan pena ini kalian dapat tersadar dari ‘nina bobonya’ hasrat setan dan anak-anak bangsa dapat kembali hidup layak sebagaimana biasanya.


Ketika Century Jadi Misteri

KREATif DKI Jakarta : Noval Kurniadi

Ketika century jadi misteri…

Pihak terkait naik ferarri

Membuat masalah jadi siri

Nasabah pun bak biri-biri

Bingung, lalu berlari-lari

Bertanya-tanya kesana kemari

Dimanakah uang kami, century?

Ketika century memotong tali…

Pihak terkait mendadak tuli

Hingga akhirnya tak peduli

Lalu pergi dengan naik heli

Tapi nasabah tercebur kali

Bingung berkali-kali

Hingga berkata, uang kami harus kembali!

Ketika century berbadan bohai…

Pihak terkait jadi lemah gemulai

Sementara nasabah bak makan cabai,

Yang tersiram sekuah gulai

Namun pedas tak pakai selai

Yang kata orang janganlah ‘lebai’

Hingga terkesan jadi lalai

Sudahlah, tak usah ditutupi lagi

Apakah mau menjadi ragi?

Kejujuran harus dibagi

Jika tidak, siaplah merugi

Sudahlah, tak usah berbohong

Apakah mau hatimu bolong?

Sudah tahu dirimu ompong

Maka jujur harus disokong

Sudahlah, tak usah mengumpat

Apakah mau gigi tinggal empat?

Kami tahu kau tutup rapat-rapat

Maka janganlah jago bersilat

Century, kemanakah 6,7 Triliun?

Sadarlah, kalian sudah jadi culun!

Yang bersembunyi di balik alun-alun…

Hanya untuk membeli su’un

Dan membeli rumah-rumah susun

Namun masih tetap diayun-ayun

Entahlah, siapa yang melepaskan busur

Yang terlalu sering memakan bubur

Hingga membuat perut jadi subur

Dan jadikan kalian sang tuan takur

Oh, sang pelaku, kami bersyukur

Jika kalian tidak main ubur-ubur

Bukan maksud untuk menggusur

Tapi hanya ingin kalian jujur

Daripada kalian gugur dan hancur lebur

Ketika masuk ke alam kubur

Ditulis : Jakarta, Jumat, 1 Januari 2010 pukul 20.35 - 21.03 WIB

02 Desember 2010

Sobat KREATif Nusantara dan Mancanegara (updated: 27 November 2010)

SUMATRA

Nangroe Aceh Darussalam
Mukhyar
Raisa Kamila Humam

Bengkulu
Adhiah Juliarti Harahap

Palembang
Neva Arsita


BANGKA BELITUNG

Pangkal Pinang
Stevy Liura

Belinyu

Devi Yulia


DKI JAKARTA
Aditya Gilank Pratama
Ahmad Bachtiar (RK)
Ahmad Wiza Walady
Ahmad Roziqi
Andrian Kurnia (RK)
Anisa Wulandari
Ardiansyah Putra
Arif M (RK)
Dede Ahmad Junaidi (RK)
Dhika Alfianti
Dian Bastiar
Dita Aljelia
Fathiyah
Febriyadi
Ignatia Japri
Janita
Khalisa Herning
Laili Ramadini
Liony Permatasari
Lita Ardena
Mathesa Rasvi Riminda
Muhammad Akmal
Muhammad Reza
Muhammad Yaumil Pasha
Nenden Ayu Wulandari
Nita Oktaviya
Noval Kurniadi
Puti Rosdina Alif
Reza Firmansyah
Rifqi Adhitya
Sarah Elyzabeth Gultom
Siti Nur Rezki Maesyaroh
Siti Rokhmah
Tri Wahyu Resi Sugih Arti


JAWA BARAT

Bogor
Ni Luh Putu Ayu Eka Kartika Sari
Kurnia Sandi Girsang

Depok
Bimo Indraprasta A
Nityaningrum Duatibumi

Bekasi
Anggun
Astari Maghfira
Bastianto Ario Perwiro
Bondan Ario Prasetyo
Brisbania Ayu Saraswati Bhakti
Cory Michellin
Denik Laila Nur Islami
Fadhil Alkafi Wiratama
Febianza Mawaddah Putri
Nora Viali
Rafdhito Mahadika
Raisa Aurora
Stella Cynara Putri Amandara
Veneranda Dinda Putri Natalia Desire

Cirebon
Gabrielle Tatia

Bandung
Aida Yuni Kusumawardhani
Asep Ramdhani
Bima Syahab Hifmawan
Fionna Susilo
Rahadian Muslim
Suhaili Nazir
Tiffani Deshiant Pawestri


JAWA TENGAH

Semarang
Azmi Farah Fairuzia
Ingerawi Sekaring Bumi
Kiki Sosali Aziz
Rifqi Jundi
Vera Astuti

Purworejo
Karina Langit Rinesti

Pati
Gadis

Salatiga
Ratri Ika Pratiwi


JOGJAKARTA
Gladistria Putri Paputungan
Joko Sukamto Josuke
Rahadian Wahyuaji
Suryo Hapsoro
Vierna Tasya Wensatama
Winner Indi Manega
Yolanda Reptami Putri
Yudistira Riyadi Timothius


JAWA TIMUR

Surabaya
Nadia Ilmi
Nicky Putri Santoso
Sri Andiani
Vicko Gestantyo Anugraha

Jember
Citi Rahmati Serfiyani


KALIMANTAN

Pontianak
Ivana

Banjarmasin
Robby Adwa Fahlepi


BALI

Denpasar
Nuri Mandan Sari

Singaraja
I Gusti Bagus Ngurah Satya Wibawa

Tabanan
Ni Putu Ayu Ardania Setiawati

Karangasem
Made Dewinta Cahyaningtyas


MALUKU

Ambon
Yuni Tahuhey


SULAWESI

Menado
Michelle Carolane


NUSA TENGGARA

Bima (NTB)
Nurul Khusnul Khotimah

Mataram (NTB)
I Gusti Ayu Sri Gayatri Kancana Dewi
Dini
Eva
Rilnia Metha Sofia


PAPUA

Manokwari (Papua Barat)
Bunga Nieta Putri Vidanska


Mancanegara

Kuala Lumpur (Malaysia)
Dela Nila Wijaya

Perth (Australia)
Alfinda Agy Putri


Translokasi
Ni Luh Putu Ayu Eka Kartika Sari = Denpasar ke Bogor
Tiffani Deshiant Pawestri= Jogjakarta ke Bandung
Bima Syahab Hifmawan =Jogjakarta ke Bandung
Suhaili Nazir = Bangka Belitung ke Bandung
Nicky Putri Santoso = Bekasi ke Surabaya
Aida Yuni Kusumawardhani = Bekasi ke Bandung
Vicko Gestantyo Anugraha = Palembang ke Surabaya
Alfinda Agyputri = Jakarta ke Australia
Dela Nila Wijaya = Semarang ke Malaysia
Vera Astuti = Jakarta ke Semarang

Contact Person:
Sumatra, Babel, & Kalimantan: Adhiah Juliarti Harahap
DKI Jakarta: Call KREATif Centre
Jawa Barat: Suhaili Nazir
Jawa Tengah & Jogjakarta: Joko Sukamto Josuke
Jawa Timur: Nadia Ilmi
Bali, Nusa Tenggara, Maluku, & Sulawesi: I Gusti Ayu Gayatri Kancana Dewi
Papua: Bunga Nieta Putri Vidanska

KREATif Call & SMS Centre: 0817 82 82 30
email: penulismuda.ina@gmail.com

Ingin gabung?? Kirimkan emailmu melalui email KREATif yang ditujukan kepada Contact Person masing-masing daerah ^_^