Halaman

11 Juli 2009

Bunuh Diri di Kalangan Remaja... Pengaruh Depresi atau Sekedar Trend?

Belakangan, kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat. Data resmi di Kepolisian Daerah Metro Jaya menyatakan, selama 2003 tercatat 62 kasus bunuh diri. Jumlah ini merupakan kelipatan tiga kali lebih banyak daripada angka tahun 2002. Usia pelaku bunuh diri, tidak main-main, ada yang masih belasan tahun.

Apa sesungguhnya pemicu keinginan mengakhiri hidup sendiri itu? Ternyata semua kasus ”horor” tersebut dilandasi pada mood atau suasana hati seseorang. Dr. Ghanshyam Pandey beserta timnya dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Pandey mengetahui fakta tersebut setelah melakukan eksperimen terhadap otak 34 remaja yang 17 di antaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Archives of General Psychiatry menyatakan bahwa PKC merupakan komponen yang berperan dalam komunikasi sel, terhubung erat dengan gangguan mood seperti depresi di masa lalu.

Pandey dan timnya sangat tertarik untuk mengatahui kaitan lain antara PKC dengan kasus bunuh diri di kalangan remaja belasan tahun. Dari 17 remaja yang meninggal akibat bunuh diri, sembilan di antaranya memiliki sejarah gangguan mental. Delapan yang lain tidak mempunyai riwayat gangguan psikis namun dua di antaranya mempunyai sejarah kecanduan alkohol dan obat terlarang. Aktivitas PKC pada otak para remaja tersebut jumlahnya sangat kecil dibanding dengan remaja yang meninggal bukan karena bunuh diri. Dari sini disimpulkan bahwa kondisi abnormal PKC bisa menjelaskan mengapa sebagian remaja memiliki keinginan bunuh diri.

(http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1644082-suasana-hati-pengaruhi-keinginan-bunuh)

Mengapa Bunuh Diri

Beberapa study telah menunjukan bahwa bunuh diri merupakan gejala yang timbul akibat gejolak sosial masyarakat. Diantaranya seorang Sosiolog ternama, Emile Durkheim (1858-1917) dalam bukunya yang berjudul Suicide menjelaskan tentang empat tipe bunuh diri. Semua tipe itu berkaitan erat dengan gejala sosial masyarakat.

Pertama adalah tipe bunuh diri dikarenakan ikatan kuat dalam sebuah kelompok masyarakat. Kasus bunuh diri ini bisa dijumpai pada peristiwa bunuh diri massal sebuah aliran kepercayaan misalnya di Guyana dan pada tahun 1990-an.

Kedua, yang biasa terjadi di kalangan masyarakat modern. Di dalam tipe ini Durkheim mengambil contoh kasus bunuh diri di kalangan Protestan di negeri Barat yang lebih besar dibandingkan dengan kalangan Katholik dan Yahudi. Itu terjadi, menurut Durkheim, semata-mata karena sifat hidup individual kalangan Protestan lebih tinggi daripada kalangan Katholik.

Ketiga adalah fatailstic suicide, Durkheim memberi contoh pada kasus bunuh diri para budak.

Keempat adalah anomic suicide, bunuh diri tipe ini terjadi ketika keadaan sosial berubah drastis. Sebagai contoh adalah ketika keadaan ekonomi di masyarakat kacau- balau, keamanan tidak terjamin. Artinya, orang ingin melepaskan diri dari penderitaan hidup, kesulitan ekonomi dan kekacauan itu dengan cara bunuh diri.

(http://www.lkts.org/pelita-online/index.php?option=com_content&view=article&id=91:ketika-hidup-bukan-lagi-menjadi-pilihan-&catid=59:maret-2008&Itemid=27)


Kasus Aneh Trend Bunuh Diri Di Inggris

Di suatu kota di welsh town, wales, terjadi Fenomena yang membingungkan aparat kepolisian, yaitu adanya serangkaian kasus bunuh diri oleh 6 remaja. Polisi menduga ini ada kaitan dengan kebiasaan sang korban bunuh diri dengan sebuah online social networking Beebo.

Bridgend MP Madeleine Moon mengatakan bahwa bunuh diri diduga oleh motivasi remaja tersebut dalam mendapatkan perhatian besar di kalangan teman-teman sebayanya agar namanya masuk dalam halaman memorial pages. Halaman online memorial pages diakses oleh jutaan remaja diseluruh dunia.

Kasus terakhir adalah meninggalnya Natasha Randall 17 tahun. Dia diketemukan tewas gantung diri dikamarnya minggu lalu. Dalam kurun waktu 24 jam, 2 teman dekatnya diketahui juga berusaha bunuh diri, akan tetapi berhasil diselamatkan oleh keluarganya. Kepolisian wales mengadakan penyelidikan pada komputer Natasha, dan diketahui bahwa natasha pernah mengirimkan pesan ke Liam Clark 20 tahun (Liam Clark adalah orang kelima di welsh town yang melakukan bunuh diri).

Polisi Wales mengkhawatirkan adanya kehadiran halaman memorial sites di Beebo merupakan alasan bagi remaja-remaja tersebut untuk bunuh diri. Mungkin bagi mereka, halaman memorial tersebut adalah cool, dikunjungi oleh jutaan orang, tindakan bunuh diri dianggap tindakan cool, heroik dan mengesankan.

Bila di Indonesia, pelaku bunuh diri banyak dikarenakan oleh himpitan ekonomi, di wales sana, Remaja bunuh diri karena alasan ingin dikenang di halaman website suatu jaring sosial, apakah masuk akal?

(http://www.disitu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2161)



08 Juli 2009

1, 2, 3 Mau Pilih Siapa?

KREATif_Jakarta: Alfinda Agyputri

Satu, satu

Megawati-Prabowo

Dua, dua

SBY-Boediono

Tiga, tiga

Jusuf Kalla-Wiranto

Satu, dua, tiga

Mau pilih siapa?


Pilpres 2009 tinggal dalam hitungan hari, sudahkah kamu menentukan siapa yang akan kamu contreng nanti? Jika sudah, bagus sekali. Jika belum, sebaiknya kamu berpikir keras hari ini. Saya mengerti, bagi anak seusia kita, memilih makanan di restoran saja sulit, apalagi memilih pemimpin. Tetapi lebih baik sulit tapi bisa daripada bisa tapi sulit, iya kan? (silakan tafsirkan sendiri maknanya). Karena saya mengerti betapa sulitnya memilih, maka saya rasa tidak ada salahnya jika kita bertukar pikiran tentang ketiga pasangan capres-cawapres yang ada. Mudah-mudahan pertukaran pikiran ini dapat membantu dalam mempertimbangkan pemimpin yang akan kita pilih tanggal 8 Juli nanti.


Nomor urut 1:

Megawati-Prabowo

Positif:
• Prabowo memiliki pemikiran dan ide yang cukup baik untuk menyelesaikan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh negara kita.
• Latar belakang militer Prabowo membuatnya bersikap tegas dan cekatan dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Perlu diperhatikan:

• Megawati tidak memberikan teladan yang baik sebagai seorang pemimpin dan politisi. Sebagai seorang pemimpin, beliau tidak cukup lapang dada untuk menerima kekalahannya dari SBY pada Pilpres 2004. Sebagai seorang politisi, beliau membiarkan “dendam pribadi” terhadap SBY mempengaruhi sikapnya dalam berpolitik. Selama menjadi oposisi, sikapnya terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan SBY tidak objektif. Hampir semua kebijakan yang dikeluarkan SBY, baik ataupun buruk, ditanggapinya dengan tentangan dan ejekan. Pada saat kampanye Pilpres 2009 pun beliau sering melancarkan “serangan” untuk menjatuhkan rival politiknya tersebut. Dalam berbagai pertemuan, misalnya debat capres dan wawancara capres, beliau bahkan enggan berjabat tangan dengan SBY. Hal ini membuat rakyat bertanya, apakah beliau maju di Pilpres 2009 sungguh-sungguh karena ingin membangun bangsa atau hanya untuk “membalas” kekalahannya dari SBY pada Pilpres 2004?

• “Kebersihan” Prabowo masih diragukan. Perlu diingat bahwa Prabowo masih merupakan “sisa-sisa” pemerintahan Orde Baru yang penuh dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Fakta bahwa beliau pernah menjadi anggota Keluarga Cendana dan catatan kekayaan pribadinya yang luar biasa “wah” perlu mendapat perhatian.


Nomor urut 2:

SBY-Boediono

Positif:
• SBY sudah menunjukkan pemerintahan yang cukup bersih serta sikap yang tegas terhadap praktik KKN. Boediono terkenal sebagai “pejabat yang paling tidak bisa disuap”. Catatan kekayaan pribadi keduanya pun cukup menjadi bukti “kebersihan” mereka.

• SBY menunjukkan sikap seorang pemimpin yang tidak haus kekuasaan. Hal ini terlihat pada saat pemilihan cawapres. Di saat capres-capres yang lain sibuk memilih cawapres berdasarkan pertimbangan koalisi partai, SBY justru memilih cawapres berdasarkan pertimbangan kompetensi. Nama-nama yang sempat ada dalam daftar bakal calon wapres SBY sebagian besar merupakan para profesional di bidang masing-masing, bukan para pembesar partai.

• Boediono rela meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, yang notabene adalah jabatan paling tinggi dan bergengsi di dunia profesional ekonomi, untuk menjadi wapres. Hal ini menunjukkan komitmennya untuk sungguh-sungguh membangun bangsa. (catatan: penghasilan dan wewenang Gubernur BI lebih besar daripada wapres)


Perlu diperhatikan:

• SBY cenderung terlalu berhati-hati dalam bertindak sehingga terkesan lamban, plin-plan, dan tidak tegas.

• Boediono juga tidak termasuk dalam “daftar pemimpin tegas”.


Nomor urut 3:

Jusuf Kalla-Wiranto

Positif:
• Jusuf Kalla dan Wiranto memiliki pemikiran yang cukup baik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi negara kita.

• Jusuf Kalla adalah orang yang sangat cekatan dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Perlu diperhatikan:

• Jusuf Kalla tidak memberi teladan seorang pemimpin yang baik. Selama menjadi wapres pada pemerintahan SBY, beliau mendukung kebijakan-kebijakan SBY. Namun, begitu maju sebagai capres pada Pilpres 2009, beliau justru menyerang balik dan hendak menjatuhkan SBY. Dalam kampanye, beliau menunjukkan hal-hal apa saja yang sudah beliau kerjakan selama menjadi wapres dan seolah-oleh berusaha mengatakan bahwa beliaulah yang lebih banyak bekerja daripada SBY. Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan pemimpin yang bermuka dua?

• Wiranto masih termasuk “sisa-sisa” pemerintahan Orde Baru yang penuh KKN.


Demikianlah penilaian saya terhadap ketiga pasangan capres-cawapres yang ada. Perlu diingat, penilaian di atas hanya penilaian saya semata. Dan siapakah saya? Saya bukan politisi, bukan juga pengamat politik, apalagi ahli ilmu politik. Saya hanya anak Indonesia berusia 17 tahun yang sangat ingin menggunakan hak pilih saya dan suka sekali menonton debat capres-cawapres. Jadi, kamu perlu berpikir berkali-kali sebelum menjadikan penilaian saya pertimbangan dalam menentukan pilihanmu. Ingat, kita hanya bertukar pikiran, jangan sampai pikiran kita benar-benar tertukar. Selamat menimbang-nimbang, selamat memilih!


P.S. Siapa tahu kutipan ini dapat membantu:

“When you hire people, you look for 3 qualities: integrity, intelligence, and energy. If they don’t have the first, the other two will kill you.”


Berikut beberapa opini dan komentar teman-teman mengenai 3 pasangan Capres-Cawapres kita (dihimpun oleh Rara, KREATif Jkt):


Ayu DRS, KREATif Jakarta :

Pilih capres & cawapres ramah anak tentunya!


Brisbania Ayu, KREATif Jakarta :

Pasangan no.1

Repotnya krn Prabowo dulu diduga terlibat kasus pelanggaran HAM dan penculikan aktivis saat era Orde Baru

Pasangan no. 2

Kurang kompak karena mereka pada dasarnya orang yang introvert, kurang bisa bekerja sama.

Pasangan no.3

Lumayan kompak, karena mereka orang yang suka terjun langsung ke lapangan. Jadi lebih sigap dan lebih realistis


Gayatri, KREATif NTB :

Kalau menurut aku dari apa yang sering lihat di media, program-program para capres sudah cukup baik. Bahkan pada beberapa kesempatan, ada yang mengemukakan perhatiannya kepada pendidikan dan kesejahteraan anak-anak dan keluarga.

Meskipun sekali tidak memilih, namun sekali juga mengharapkan perubahan bagi bangsa ini.


Elisa, Parlemen Remaja 2008 :

Wah kalau melihat capres-cawapres kita, sekarang makin panas aja. Mulai dari iklan-iklan tv, poster, pokoknya segala upaya dilakukan demi kesuksesan jagoannya. Tapi oke lah, semoga pemilu LANCAR!