Halaman

22 Januari 2010

Aku, seorang “PSK”

AKU SEORANG “PSK”

Elinah, XII AP-SMKN 1 Cikedung-Indramayu

Sekitar 15 menit aku menunggu. Akhirnya tetanggaku itu keluar dari ruangan samping dengan mami. Aku melihat, tetanggaku keluar dengan wajah yang sangat senang seperti habis mendapati nilai rapornya yang bagus. Tak kalah senengnya buat mami juga yang raut wajahnya penuh dengan bling-bling yang bersinar. Di tangan kanan tetanggaku, aku melitah sebuah amplop besar yang cukup tebal tengah di genggam erat dan aku sontak bertanya. “apa itu pak?” dia pun bilang, ini isinya uang yang katanya buat keluargaku di rumah agar bisa membawa ayah ke rumah sakit. Aku terdiam, di sini aku belum bekerja apa-apa tapi koq sudah bisa mendapatkan uang buat orang rumah. Aneh memang, tapi aku tidak berani menanyakannya. Setelah sebentar bersalaman, tetanggaku langsung pamit pulang meninggalkanku di tempat perantaun yang jauh dari rumah orang tuaku dengan seorang perempuan yang hampir keriput itu yang terus memandangiku sedari aku datang.

Malam pertama, aku di perlakukan sangat baik oleh wanita-wanita yang lebih gede dari aku yang memanggil ibu itu dengan sebutan mami juga. Sungguh cantik-cantik mereka itu. Dengan dandanannya yang feminim, rambut-rambutnya yang terurai panjang serta tubuh-tubuhnya yang tinggi dan semampai. Aku pun akhirnya tidur dengan nyenyak tapi sebelumnya, mami sempat mampir ke kamarku dan berbicara sesuatu. “Dewi, kamu istirahat yang cukup ya malam ini. Karena besok kamu akan mulai bekeja. Besok kamu harus bersiap-siap dan belajar merias wajahmu dan dandananmu sama kakak-kakak yang tadi” dengan senyuman manisnya yang selalu dia berikan. Akupun memberanikan bertanya, “ibu, kalau boleh aku tahu, aku akan bekerja apa ya bu besok?” mami pun bilang, “tenang saja, kamu tidak usah takut. Kamu kerjanya asyik koq. Sekarang, kamu tidak usah banyak bertanya, lebih baik kamu istirahat saja” “ya mami” jawabku.

Keesokan harinya, sekitar habis ashar waktu itu. Aku dibawa oleh salah seorang kakak yang menemaniku semalam ke sebuah tempat untuk biasa orang-orang di situ merias wajahnya. Dia bilang, “kamu nurut saja ya” dengan langsung mendudukanku di depan sebuah meja rias. Total, aku berubah drastis. Sampai-sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri. Aku di sulap layaknya bintang sinetron yang sangat cantik. Setelah selesai berdandan, akupun di suruh memakai pakaian yang sudah disediakan oleh kakak yang tadi mendandaniku itu. Astghfirullah, siapa aku ini? Apa aku ini? Jadi apa aku sekarang? Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu sempat terjawab oleh hati kecilku, kakak itu cepat-cepat membawaku ke sebuah tempat pemotretan. Aku di suruh bergaya yang di contohkan oleh seseorang yang ada di tempat itu. Aku semakin bingung, aku semakin tak mengerti. Tujuan dari semua ini itu apa sebenarnya? Aku harus kayak gini itu untuk apa?

Malam menjelang, ketika itu aku yang sedang beristirahat di kamar mami memanggil dan langsung membawaku keluar tanpa mengizinkan aku untuk bertanya aku mau dibawa kemana. Di sebuah tempat, yang sebelumnya aku tidak pernah tahu tempat itu. Di sana, banyak sekali orang-orang yang menari-nari, minum-minuman.

Oh, aku tahu ini adalah sebuah Bar. Aku teringat ketika tetangga di kampungku bercerita tentang tempat ia bekerja di Jakarta. Tapi, dia adalah seorang...... ah, tak sempat aku mengingat profesi temanku itu mami mengagetkanku. “Eh Dewi, ada yang mau ketemu kamu sekarang, cepat masuk kesini” langsung mami menarik tanganku ke sebuah ruangan yang tidak ramai seperti tadi.

Di situ, sudah menanti seorang lelaki bertubuh seperti tetanggaku namun tidak terlalu tinggi duduk di atas sofa sepertinya sedang menunggu seseorang. Umurnya sekitar usia ayahku. Ah ternyata, dia memang sedang menunggu. Ya, menunggu kami. Ketika kami mendekat, dia langsung berdiri dan tersenyum lebar melihatku. Mami berbicara sesuatu sambil dengan cara berbisik-bisik. Aku semakin aneh di sini, seolah-olah semuanya dirahasiakan oleh mereka.

Aku hanya harus nurut saja apa yang mereka perintahkan. Aku masih teringat akan teman sekampungku, yang waktu di kampung dia menceritakan tentang pekerjaannya. Oh, aku mengingatnya dia bekerja sebagai... “Dewi”, sahut mami. Mami telah memotong diamku yang tengah memikirkan temanku itu. “Dewi, tolong temani om ini ngobrol. Kamu nurut saja dan jangan banyak tanya. Ingat, mami udah bayar gajimu yang mami titipin buat ibumu lewat bang Warno kemarin. Paham kamu!!!” dengan nada yang cukup menekan. Aku jadi takut, tidak biasanya mami berkata keras itu terhadapku. Aku sebenarnya takut sekali waktu itu, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mami akhirnya meninggalkan kami berdua didalam sebuah ruangan sepi.

Sebentar mami pergi, bapak itu perlahan mendekati tempat dudukku. Aku semakin takut. Mau apa dia? “manis, kamu jangan takut ya. Tenang saja, sini dekat-dekat sama om” dia merayu dengan senyuman yang sangat manis. Tapi, aku bukannya mendekat tapi malah semakin menjauh. Tiba-tiba, dia merampas tanganku dan memintaku untuk ikut dia ke dalam sebuah kamar. Tenagaku tak kuat untuk menolak, dia begitu kuat dan keras menarikku ke dalam kamar. Aku semakin takut, aku yakin hal buruk akan menimpa diriku. Aku tersu meronta-ronta ingin terlepas dari genggaman iya. Namun, semakin aku berusaha untuk melepaskan diri, semakin kencang saja bapak itu menarikku dan kini malah melemparku ke atas ranjang. Aku benar-benar takut sekali, akupun mulai menangis. Aku terus berusaha untuk melarikan diri dan lepas dari cengkraman bapak itu. Diapun semakin kuat memegangi tanganku dan mulai marah hingga menamparku. Oh, sakit rasanya dan selalu nyeri terasa apabila aku mengingat kejadian itu. Aku mulai terkulai layu dan mulai tak berdaya, akupun menyerah. Ternyata, maksud dari lelaki setengah baya itu ialah menyetubuhi diriku. Musnah sudah semuanya, keperawananku telah terenggut dan tidak mungkin kembali lagi. Mataku terus beruraikan air mata hingga perbuatan bejat itu berlalu. Setelah puas dia menggauliku, dia lalu memberiku lumayan banyak uang dan kemudian pergi meninggalkan begitu saja. Pedih rasanya hati ini, derita batin kini ku alami.

Aku baru menyadari, ternyata tetanggaku yang membawaku ke Jakarta adalah penyalur Pekerja Seks Komersial (PSK), pantas saja teman-temanku atau tetangga-tetanggaku yang lain yang bekerja di Jakarta dan disalurkan oleh tetanggaku itu tidak jarang yang membawa uang sedikit. Sehingga, ibu telah menyuruhku untuk ikut disalurkan oleh dia ke Jakarta. Oh ternyata, uang yang telah waktu itu dibawa oleh tetanggaku yang hendak diberikan kepada ibu di rumah yaitu hasil dari penjualan keperawananku.

Ternyata, foto-foto diriku itu yaitu sebagai bahan tawar-menawar diriku kepada om-om itu. Tidak...... aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku, telah di perjual belikan!!! Dan yang masih aku bingung dan bertanya-tanya, apakah ibu tidak mengetahui kalau ternyata aku dipekerjakan seperti ini di Jakarta? Apa, malah ibu sudah mengetahui sebelumnya dan memang sengaja telah membiarkan diriku terjual seperti ini? Oh, kenapa ibu kandungku sendiri telah tega melakukan hal serendah itu terhadap anak kandungnya sendiri? Karena kepolosan dan kebodohanku serta aku yang memang tidak mengetahui apa-apa, segitu mudahnya aku diperdaya, di tipu, dibohongi, sampai diperjualkan seperti ini. Kini, semuanya telah terjadi, bayi yang sudah terlahir tidak mungkin bisa kembali lagi ke rahim ibunya. Bunga mekar itu sekarang telah kuncup, Mentari akan selamanya tertutup oleh awan dan Bulan akan tetap tertutup pekatnya mendung. Selamanya, diriku hina dan semua akan memanggilku PSK!!!

Sports for Development



Untuk pengembangan program "sports for development", UNICEF Indonesia bekerjasama bersama UNICEF dan kedutaan Inggris. Seperti diketahui, Inggris akan mengadakan Olympiade di tahun 2012.

Pada Rabu (20/1), KREATif Pusat menghadiri undangan dari UNICEF untuk melakukan diskusi dengan beberapa perwakilan remaja Indonesia. Focus Group Discussion ini berkisar antara pandangan remaja, nilai-nilai, pengalaman dalam bermasyarakat dan apakah olahraga dapat membantu bersosialiasi dan membentuk self estem yang tinggi.

Ada 3 pertanyaan yang menjadi fokus diskusi, diantaranya:

1. What are the callenges youth faces?

2. How do you sports and physical education can help?

3.What is your ambition and what are barriers in the way of your achieving it?

Dari 4 kelompok yang melakukan diskusi, terangkum jawaban atas pertanyaan di atas sebagai berikut:

1.Sangat banyak hambatan yang harus kita hadapi. Ada pandangan bahwa pendidikan adalah satu-satunya yang penting. Kurikulum sekolah yang padat dan sangat membebani siswa. Ajaran yang diberikan lebih tnggi dari level yang seharusnya Waktu sekolah yang sangat panjang. Dari pukul 06.00-16.00 sehingga tidak memberikan kesempatan beraktifitas di luar sekolah. Sementara untuk menjadi atlit harus latihan tiap hari. Selain itu, adanya ekspetasi kesan Study oriented. Pemuda adalah manusia yang ukurannya masih harus belajar sehingga kerjaannya hanya belajar, serta kurangnya dukungan untuk siswa yang berprestasi dalam bidang kesenian dan olahraga. Sementara jika siswa berprestasi dalam bidang eksakta, sangat banyak dukungan yang diberikan.

Indonesia termasuk Negara yang mudah dimasuki informasi tanpa filter, sehingga banyak pemuda yang melakukan hal yang kurang berguna. Pemuda Indonesia mudah dipengaruhi trend, baik fashion maupun media. Padahal dampaknya tidak selalu baik.

Hambatan lainnya berupa krisis, baik krisis ekonomi, krisis politik, serta konflik daerah yang berkepanjangan. Akses informasi pun masih terbatas. Dan yang terpenting, fasilitas. Sejauh ini fasilitas olahraga yang tersedia masih sangat kurang dan lebih banyak yang dikomersilkan

2.Sangat banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari olahraga, antara lain: membantu dalam komunikasi dan partnership, mengajarkan mengatasi kritis, menggali bakat terpendam, mengalihkan dari perilaku negatif, mempromosikan nilai-nilai positif, membuat lebih berani dan percaya diri dalam mengeluarkan pendapat, sarana untuk melarikan diri dari tekanan akademis, kesempatan bagi siswa yang kurang berprestasi di bidang akademis, sportifitas dan kesetiakawanan.

“Seperti kata pepatah, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Olahraga mengajarkan kita bagaimana menerima kekalahan dan kemenangan, sehingga pada PEMILU tidak perlu ada kandidat yang masuk rumah sakit jiwa karena kalah.” canda Adit, saat menyampaikan hasil diskusi. Seluruh ruangan terbahak dibuatnya.

3.Setiap pemuda punya ambisi, tapi hambatan utamanya adalah infrastruktur, fasilitas dan gender strata. Anggapan bahwa perempuan tidak bisa menjadi atlit. Selain itu, penghargaan bagi yang berprestasi di bidang olahraga masih minim. Prestasi seperti ini dianggap tidak punya masa depan. Kita semua berharap bisa mendapatkan keseimbangan informasi dari media antara yang baik dan yang buruk, serta informasi bagaimana caranya meraih ambisi. Dukungan bagi pelaku olahraga diharapkan datang dari pelbagai pihak; orangtua, masyarakat maupun pemerintah.

21 Januari 2010

KREATif GRAND OPENING PROGRAM 2010

Menanamkan minat baca sejak dini bisa menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di masa depan, lho! Hal itu pula yang dilakukan oleh teman-teman KREATif Pusat.

Pada Minggu (3/1), KREATif mangadakan acara GRAND OPENING PROGRAM 2010. Sesuai namanya, acara ini diselenggarakan dalam rangka membuka program-program KREATif tahun 2010.


Dipandu oleh Dian, KREATif mengemas acara dalam 3 bagian:

  1. Perpustakaan Keliling

Terdapat sekitar 350 buku di sana, terdiri dari: buku cerita, novel, dan ensiklopedi. Beberapa buku tersedia dalam format 3 lingual (3 bahasa): Indonesia, Inggris, Thailand sehingga wisatawan asing bisa ikut membacanya.

Tidak hanya anak-anak dan remaja, perpustakaaan ini juga diminati oleh pengunjung dari berbagai usia. Ada juga pasutri yang mendampingi anaknya membaca. Sang ibu membacakan dan ayahnya membimbing serta menerangkan isi buku. Buku ensiklopedi terlihat paling banyak digandrungi pengunjung

2.Dongeng Sehari Untuk Anak Negeri

Dian membacakan cerita dengan sangat apik dan penuh humor. Tak heran, tepuk tangan dan tawa anak-anak turut menyemarakan acara.

“Lagi dong baca ceritanya, Om!”, pinta Nayla, salah satu pengunjung berusia 4 tahun.



3. KREATif’s Lo
ve for Children

Pengunjung bisa membeli produk-produk KREATif. Ada minuman, buku, pin, boneka, dan berbagai aksesoris lucu untuk anak-anak. Dengan membeli produk, pembeli mendapat manfaat ganda, yakni dapat membawa pulang produk tersebut, dan turut menyumbang bagi kesejahteraan anak Indonesia.


Pada dasarnya KREATif hanya membuka 3 stand: perpustakaan, ruang dongeng, dan ruang produk. Namun sampai acara ini selesai, tidak sedikit pengunjung Ragunan yang bertanya tentang tempat-tempat di dalam Ragunan. Untunglah Dian sangat menguasai arena Ragunan sampai ke pelosok-pelosok terpencilnya. Walhasil, muncullah 1 stand tambahan, yaitu pusat informasi. Jika pengunjung mengalami kesulitan menemukan sebuah lokasi di dalam Ragunan, mereka boleh bertanya pada Dian.

Oh ya, di penghujung acara, ada satu hal tak terduga lagi. Dengan memanfaatkan kartu yang tersedia, Dian dan Kak Ayu bermain ramal meramal.

“Dian, sayang sekali! Di tahun 2010 tak ada satu pun masalahmu yang dapat diselesaikan! Ditambah lagi, nampaknya gadis pujaan hatimu sedang melirik pria lain.”, ucap ‘Madam Ayu’. Dian terbahak mendengarnya. Di sampingnya, seorang Bapak terlihat sangat serius memperhatikan. Padahal, ini tidak serius, hanya permainan saja..

So..di lain kesempatan, bisa buka 2 stand lagi: Pusat Informasi dan Booth Ramalan. Gimana nih, panitia? Hehe..

Jika pada Temu Akbar Penulis Muda Indonesia (27/12) kita dikejutkan dengan kehadiran Vierna Tasya Wensatama dari KREATif Magelang, kali ini kita kedatangan tamu istimewa lagi, yaitu Gabrielle Tatia dari KREATif Cirebon. Terimakasih atas kehadirannya, sobat! Sukses untuk KREATif di daerahmu! Kami tunggu liputannya!

11 Januari 2010

Susunan Kepengurusan KREATif Pusat (DKI Jakarta) Periode 27 November 2009-27 November 2010

Pelindung Umum : Ibunda Winarti Sukaesih
Pembina : Ibunda Sondang K. Susanne Siregar
Keuangan: Ibunda Siti Rohaya
Penasihat : Kak Rara
Pendamping : Kak Ayu

Ketua : Aditya Gilank Pratama
Wakil Ketua : Nityaningrum Duatibumi
Sekretaris : Veneranda Dinda Putri Natalia Desire
Bendahara : Dian Bastiar
Penanggungjawab Web : Muhammad Akmal & Bastianto Ario Perwiro
Penanggungjawab BBF (Blog, Buletin, Facebook): I Gusti Ayu Sri Gayatri Kancana Dewi & Astari Maghfira

Secuil Kisah Dari Potret Buram Proses Hukum Indonesia

Oleh : KREATif Jkt, Raisa Aurora

Pagi ini tidak seperti biasanya saya mendekam di kamar asrama dari pagi hingga sore, untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Semester. Sesekali otak ini butuh penyegaran dan saya putuskan untuk jalan pagi melihat warung-warung sekitar asrama membenah dagangannya. Salah satu berita utama harian Kompas (11/01/2010) berjudul “Istri Meninggal, Suami Dipenjara” menarik mata saya. Penasaran, saya membaca keseluruhan berita tersebut. Saya tertegun cukup lama menanggapi isinya. Seorang lelaki tidak bersalah bernama Lanjar Sriyanto (36) terjerat hukum karena dituduh menjadi penyebab kematian istrinya.

Cerita bermula ketika Lanjar baru pulang mudik lebaran dari kampung halaman istrinya, Saptaningsih (37). Bersama anaknya, Sapto (10), Lanjar dan istrinya berboncengan motor. Di tengah perjalanan, mobil Suzuki Carry di depannya mengerem mendadak. Kaget dan kehilangan keseimbangan, Lanjar bersama keluarganya terjatuh dari sepeda motor. Sangat disayangkan, Saptaningsih terlempar jauh hingga melewati marka jalan. Sementara dari arah berlawanan melaju kencang mobil Isuzu Panther, tak terelakkan lagi tubuh Saptaningsih dihantam dan tewas seketika. Lanjar dan Sapto sendiri mengalami luka-luka ringan.

Pada hari tahlilan tujuh hari memperingati meninggalnya sang istri, datang dua orang yang ternyata pemilik mobil Isuzu Panther ke rumah Lanjar. Mereka membawa uang Rp 1,5 juta sebagai uang perdamaian agar masalah tabrak lari ini tidak dilanjutkan ke pengadilan. Mereka juga membawa surat perjanjian perdamaian yang saat itu ditandatangani Taro, adik Saptaningsih.

Dirundung duka mendalam setelah kehilangan istrinya, belum selesai penderitaan Lanjar. Beberapa hari kemudian, saat hendak mengambil kembali SIM dan STNK Lanjar yang ditahan kepolisian pasca kecelakaan, ia justru diperiksa, dibentak-bentak dan langsung dijadikan tersangka atas kecelakaan tersebut. Lanjar yang berasal dari golongan menengah ke bawah, golongan yang selalu menjadi korban pertama segala ketidakadilan termasuk ketidakadilan hukum, digiring ke bui pada tanggal 9 Desember 2009. Usut punya usut, pemilik mobil Panther yang melindas tubuh Saptaningsih adalah anggota kepolisian. Saat ini Lanjar telah mendapat bantuan hukum, namun tetap saja nasibnya masih terombang-ambing menghadapi meja hijau. Lebih ironisnya lagi, Sapto, anak Lanjar, tidak mengetahui kemalangan yang menimpa ayahnya. Lanjar dan keluarga sepakat tidak memberitahukan kenyataan ini kepada Sapto, alih-alih mereka justru mengatakan bahwa ayah Sapto tengah pergi merantau.

Lantaran pemilik mobil yang menewaskan Saptaningsih merupakan anggota kepolisian, Lanjar yang menjadi kambing hitam dan didakwa pidana. Lanjar adalah gambaran penindasan dari orang-orang berkepentingan terhadap rakyat kecil. Saya mengangkat kisah ini bagi teman-teman semua, karena saya berharap rakyat Indonesia masih punya nurani terhadap ketidakadilan yang menimpa saudaranya. Tidak hanya terhadap kasus Prita Mulyasari masyarakat mampu berperan besar melawan ketidakadilan. Jika dahulu penjajah memecah belah bangsa agar tidak mampu bersatu dan melawan, kali ini ancaman itu datang dari tubuh bangsa ini sendiri. Banyak oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang saat ini duduk di atas sana semena-mena menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Mereka sadar bahwa kita semua cenderung digiring ke arah hidup individualis. Sadar bahwa kepekaan mulai layu di jiwa masyarakat. Lantas apalagi yang dapat kita perbuat selain kembali membiarkan hati nurani yang menggerakkan roda kehidupan.

RAISA AURORA
Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya Lingkungan,
Fakultas Ekonomi Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Ku Menyadari, Memang Kebanyakan. Tetapi tidak semuanya!!!

Oleh : Elinah, XII AP-SMKN 1 Cikedung-Indramayu

Hidup kami, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Hidup di sebuah pedesaan yang terletak di bagian selatan kota ku tercinta Indramayu. Desa kecil ini lumayan cukup luas menurutku di bandingkan luas desa-desa tetangga. Jika di lihat di waktu pagi di saat biasa kami joging-jogging ria bersama teman-teman, desaku ini sungguh indah karena terlihat di sisi kanan kirinya gunung yang mengapit. Aku bersama yang lain suka sekali termenung menyaksikan keelokan alam yang sungguh menakjubkan. Namun sayang, di desaku ini kadang sering terjadi kekeringan apabila musim panas berkepanjangan. Tapi, mau bagaimana lagi itu sudah menjadi hukum alam.

Tapi, seperti yang kebanyakan orang tahu tentang Indramayu. Seperti mereka yang memandang Indramayu sebelah mata. Indramayu sebagai penyedia PSK-lah, terkenal dengan cewe-cewe Panturanya-lah yang bekerja di warung remang-remang. pokoknya semua itu telah membuatku merasa minder tinggal dan hidup di daerahku sendiri. Aku merasa malu kadang, apabila aku menjumpai anak yang berdomisili di luar Indramayu dan melepas tanya asalku dari mana. Indramayu???? Oh,, Indramayuku, Kota Manggaku.

Aku tak mengerti dengan presepsi mereka yang men-judge kotaku dengan semua anggapan-anggapan negatif seperti itu. Tapi, aku juga menyadari memang presepsi mereka itu selebihnya benar, karena aku melihat kehidupan komunitas di daerahku dan lebih-lebih di desa ku sendiri. Tapi kalian harus tahu, “ITU” memang kebanyakan tapi, tidak SEMUANYA.....buktinya AKU!!!!!

Aku adalah gadis remaja berusia 17 tahun, hidup dengan orangtua dan lima saudaraku meski sekarang salah satu kakakku yang perempuan telah menikah dua tahun yang lalu di usianya yang baru menginjak 18 tahun. Saudaraku cukup banyak menurutku, ma’lum hidup di pedesaan jauh akan memperoleh informasi tentang program pemerintah mengenai program Keluarga Berencana (KB) dan sekalipun informasi itu masuk mereka (warga kampung) tidak terlalu paham akan penyampaian informasi tersebut, wajar kebanyakan SDM di desa kan rendah. Lagian menurut mereka, anak itu sudah ada rezekinya masing-masing kok. Aku adalah seorang siswi SMK yang sekarang sedang memfokuskan belajar untuk menyiapkan Uji Kompetensi dan Ujian Nasional. Wajar saja, sudah kelas XII mengambil Jurusan Perhotelan. Aku merasa beruntung sekali akan kesempatan yang telah Tuhan berikan kepadaku, karena aku mampu mengenyam pendidikan hingga tingkat SLTA dan berpresespsi bahwa pendidikan itu penting adanya sehingga aku ingin sekali bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang selanjutnya, beda halnya mengingat diriku enam tahun yang lalu di saat aku baru lulus pendidikan sekolah dasar yang aku pikir sekolah itu tidak penting sama sekali. Sampai pada akhirnya aku sempat merasakan putus sekolah selama satu tahun sebelum akhirnya aku masuk ke SMP Terbuka di desaku di bawah naungan Sanggar Teratai yenag kini telah membuat diriku berubah 180º ke arah yang lebih baik dan ini sangat menarik dan pasti akan ku ceritakan di session yang sesuai.

Di desa yang merupakan batas antara kawasan Indramayu dan Majalengka ini, aku sering mendengar bahkan melihat sendiri, tetangga-tetanggaku, teman-temanku, banyak yang bekerja sebagai “PSK” dan usianya masih di bilang anak. Tapi, menurutku sebenarnya ini sama sekali bukan keinginan mereka bekerja dan di sebut PSK. Aku yakin, mereka hanyalah korban dari apa yang namanya “Child Trafficking” atau korban perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi pekerja anak dan seksual anak. Mengerikan memang kedengarannya, anak kok di perdagangkan!!! Memangnya barang dagangan, yang bisa di jajakan di toko-toko dan pasar-pasar. Aku, dan mereka adalah anak yang memiliki hak-hak yang mutlak seharusnya kami peroleh seperti yang pernah aku baca dalam Undang-undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di dalam BAB 3 pasal 4, ”bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Wahai teman-temanku, apa pernah kalian berpikir dan tahu tentang hak-hak kalian? sebagai anak, apakah kalian sudah memperoleh itu? Tidak, kalian masih belum mendapatkan itu. Tapi, kenapa kalian hanya diam saja hak-hak kalian di injak-injak oleh orang-orang yang hanya ingin memperoleh keuntungan dan tidak pernah mau memikirkan hak-hak kita? Aku tahu, kita bisa berbuat apa! Kita hanyalah anak, yang masih butuh didikan, bimbingan serta nasehat-nasehat dari para orangtua. Lantas bagaimana, apabila orangtua kita sendiri yang memiliki tujuan eksploitasi atas diri kita? Dari pihak mana kita harus berlindung? Dimana kita memperoleh tempat yang kita pikir aman dan nyaman selain rumah yang di huni oleh orangtua kita juga. Wahai Pemerintah, kami adalah anak-anak bangsamu. Kami adalah generasi penerus yang harus di lindungi dari tindakan-tindakan kekerasan ataupun diskriminasi serta perampasan kesempatan untuk kami berkembang.

Child Traficking, sudah sering kudengar dan menumbuh di jiwaku sehingga memberiku motivasi yang berarti untuk setidaknya mensosialisasikan hak-hak yang di miliki oleh anak. Hidup di desa, jauh dari perolehan informasi, keadaan pemahaman nenek moyang yang masih sangat melekat, serta kehidupan yang tidak menganggap arti pendidikan itu penting. Yang sering terlintas di pikiran orangtua-orangtua di desa yang lemah akan tingkat pengetahuan dan pendidikannya, hanya berpikir dan berkeinginan untuk memiliki uang yang banyak dan kaya dengan menempuh berbagai cara. Dan tidak jarang mereka melakukan yang sebenarnya tanpa mereka sadari itulah Eksploitasi. Melalui proses menyuruh, mempengaruhi, sampai dengan menipu. Usia anak yang masih labil dalam berpikir akan sangat dengan mudah untuk mengikuti proses-proses itu dan tujuan Eksploitasi pun tercapai. Dengan cara dan kemauan langsung dan tidak langsung dari para orangtua atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akhirnya anak-anakpun di perdagangkan. Sahabat, aku bukannya mempengaruhi kalian atau berlaku layaknya seorang provokator berbicara, untuk menyuruh kalian membenci orangtua kalian. Aku hanya ingin kalian bisa belajar bersikap kritis, peka terhadap apa yang tengah terjadi di lingkungan sekitar kita. Aku mungkin hanyalah satu dari beberapa anak di komunitas kita, yang sedang belajar untuk menyikapi masalah yang menurutku sangat memberikan effect yang negatif untuk kehidupan kita. Kalian juga harus tahu, menurutku meski hanya sebagian kecil orangtua di desaku terlebih orangtuaku sekarang telah memandang bahwa aku (Anak) memiliki hak untuk bersekolah dan memberiku kesempatan-kesempatan untuk berkembang. Aku dapat mengeksplorasi semua apa yang ada dalam diriku serta potensi yang aku miliki untuk memperoleh pendidikan, ilmu pengetahuan, bergaul serta memperoleh pengalaman. Dan pengalaman yang tidak mungkin pernah aku lupakan dalam hidupku ialah, hinggapnya aku ke sebuah Negara penghasil Ginseng dan stay di sana selama sepuluh hari dan di usiaku yang masih enambelas tahun. Itu semua, tidak lepas atas dukungan dan kesempatan-kesempatan yang telah orangtuaku berikan untuk diriku menjadi anak yang lebih baik serta eksistensinya aku mengikuti kegiatan-kegiatan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di desa tempat lahirku ini.

Sekedar sedikit mencoba menyatakan, menurutku jumlah PSK di Desaku yang pelakunya ialah Anak lumayan berkurang. Dan bertanyakah kalian sebuah karunia apa yang telah menurunkan angka itu? Tiada akibat tanpa sebab. Ya, memang benar. Sebuah LSM yang menamai dirinya SANGGAR TERATAI (Tempat Kreativitas Anak Indramayu) sebuah lembaga yang berpusat di Jakarta di daerah bagian Jak-Bar telah bertengger dan memberikan banyak program serta penyuluhan tentang Eksploitasi dan lebih menuju ke arah yang di sebut Child Traficking. Program yang berslogan STOP CHILD TRAFICKING!!!! Ini, merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dengan ILO_IPEC.

Berbagai macam kegiatan telah di programkan dan di laksanakan demi proses pembinaan dan bimbingan sosialisasi mengenai Eksploitasi di Sanggar Teratai. Aku turut aktif dan mengenyam massa SLTP ku di sebuah Smp Terbuka berikut teman-teman sesama Smp di bawah naungan Ykai Cabang Indramayu. Banyak sekali kegiatannya di situ, mulai dari siaran sebuah Radio Komunitas, Pelatihan bermain Drama dan sempat kami mementaskannya di Taman Ismail Marjuki (TIM) ketika memperingati Hari Anak Nasional (HAN) di tahaun 2005 dan beberapa acara lain, Belajar komputer, Mebuat kerajinan tangan, Smp Terbuka dan banyak lagi yang lainnya. Dan yang sangat penting bagiku, berbagai bentuk sosialisasi dan pendidikan mengenai Eksploitasi serta memperkenalkannya kepada kami tentang hak-hak kami (Anak). Akhirnya, aku begitu menyadari bahwa betapa pentingnya arti Sekolah agar kita tidak mudah untuk di bohongi apalagi di tipu oleh orang lain.

Saudaraku, ternyata begitu banyak peluang-peluang yang aku peroleh apabila kita mau untuk berupaya menggali segala potensi yang kita miliki dan minat untuk berkembang. Ayo, jangan mau tetap di situ. Jangan berpikir semuanya telah cukup. Meski kita anak Desa, meski semua serba terbatas. Tapi, jangan jadikan keterbatasan itu sebagai penghalang untuk kita berkembang. Melainkan, sebagai bentuk motivasi untuk kita tetap melangkah agar semua keterbatasan itu tidak lagi terbatas namun dapat kita jangkau dan raih dengan jari-jemari kita sendiri dan generasi penerus. Sebab, apa yang kita lakukan di hari ini dapat menentukan kehidupan kita di massa yang akan mendatang. Ingatlah wahai teman-temanku, masa deapan kalian ada di tangan kalian sendiri bukan di tangan orang tuamu, orang lain atau siapapun. Jangan takut untuk menuntut hak apabila kalian sudah memenuhi kewajiban kalian. Teman-teman, kita tetap berjuang untuk terus maju dan berkembang yaks....

23 Desember 2009

Ketika Anak Diabaikan Keluarganya, Maka Anak Akan Mengabaikan Hidupnya

KREATif Jkt: Raisa Aurora

*Dalam tulisan ini, memang penulis lebih menyorot peran seorang ibu dalam keluarga. Mengutip sebuah pepatah "ibu adalah tiang negara" dan dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 desember kemarin, tulisan ini penulis persembahkan kepada Anak-Anak Indonesia dan Ibu-Ibu kita.

Di kota-kota besar, tempat dimana pepohonan digusur gedung perkantoran dan suara kicau burung dikalahkan klakson mobil, sekian jenis pergeseran kehidupan terus terjadi di dalamnya. Ketika berbagai paham terus bermunculan dan seringkali saling berseberangan. Orang-orang disibukkan untuk memilih gaya hidupnya hingga asyik dengan dirinya sendiri. Lalu lintas kehidupan ini bisa membunuh mereka yang tidak siap menyeberang. Mereka yang galau dan panik ketika berada di persimpangan jalan. Mereka adalah anak-anak yang menginjak usia remaja.
Sama seperti menyeberang jalan, untuk menyeberangi setiap tahap kehidupan seorang anak juga harus berpegangan dengan orang tuanya. Mereka perlu dipandu untuk memilih jalur mencapai tujuan hidupnya. Orang tua laksana kompas dan peta, bekal utama kita menapaki dunia.
Sangat disayangkan di zaman ini masalah narkoba, budaya konsumtif, gaya hidup hedonis, dan berbagai tipuan membujuk remaja untuk tersesat. Tiap tahunnya berbagai data tentang jumlah anak-anak yang menjadi korban terus meningkat. Jika kita perhatikan di lingkungan sekitar, tayangan sinetron, maupun di situs-situs jaringan sosial, anak-anak digiring untuk berhura-hura, lari dari masalah dan hidup individualis. Menjadi pertanyaan di benak penulis, masihkah keluarga menjadi tempat pertama dan terakhir bagi anak-anak?
Semua masalah kenakalan remaja saat ini bermunculan karena mereka merasa ditelantarkan orang tuanya. Para remaja (anak-anak) ini ditelantarkan karena kesibukan orang tuanya ataupun kasus broken home. Akibat ego orang tua yang tidak mempedulikan kehidupan anak-anaknya, hak mereka sebagai anak tidak terpenuhi. Salah satu hak anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) adalah mendapatkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Sebagai tempat tumbuh kembangnya anak, rumah menjadi institusi paling awal dan terpenting bagi anak. Saat anak tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya, dapat dipastikan ada masalah yang mengganggunya. Ibarat efek domino, masalah ini akan merambat terus hingga tidak tertanggungkan lagi akibatnya.
Memiliki anak adalah karunia terbesar dalam kehidupan dan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap main-main. Membesarkan seorang anak berarti mempersiapkan kehidupan baru untuk generasi dunia berikutnya. Jika orang tua tidak mampu menyiapkan mental dan ekonomi untuk membesarkan seorang anak, maka akan fatal akibatnya tidak hanya bagi anak itu sendiri tetapi juga bagi kehidupan selanjutnya.

PERNIKAHAN TANPA ANAK
Selama ini masih menjadi bahan gunjingan di tengah masyarakat ketika sepasang suami istri tidak memiliki seorang anak. Ada semacam tekanan bagi sepasang suami istri setelah menikah maka mereka harus segera memiliki momongan. Padahal bila secara mental dan ekonomi belum siap, sebaiknya memiliki seorang anak harus dipikirkan matang-matang.
Perlu ada sosialisasi di antara masyarakat bahwa pernikahan tidaklah harus memiliki seorang anak. Jika kehadiran seorang anak masih dipandang sebagai sesuatu yang wajib sementara pasangan suami-istri tersebut belum pantas untuk menjadi orang tua maka perlu dipertanyakan lagi relevansinya.
Sama halnya dengan pernikahan dalam hukum Islam yang dibagi-bagi menjadi beberapa jenis yaitu wajib jika mampu dan menginginkannya, sunnah jika mampu namun belum berkeinginan, makruh jika dia berniat namun belum mampu dan haram jika punya niat buruk di dalamnya. Maka memiliki seorang anak juga memiliki kategori, bila memang siap secara mental dan ekonomi maka itu adalah kewajiban namun jika belum sanggup maka tidak perlu disegerakan. Memutuskan untuk tidak memiliki anak jika belum mampu jauh lebih baik daripada segera memiliki anak namun belum pantas merawatnya. Masyarakat perlu dibudayakan agar menghargai pasangan suami-istri yang belum mau memiliki anak atau memutuskan untuk tidak memiliki anak karena alasan yang mereka miliki. Di satu sisi jika kemudian pasangan tersebut bercerai maka tidak akan mengorbankan pihak si anak.

BUDAYA PROFESI IBU RUMAH TANGGA
Seiring pergantian zaman ada pergeseran nilai di masyarakat dimana peran ibu rumah tangga kini dipandang sebelah mata. Jarang sekali kita temui perempuan-perempuan muda yang memiliki cita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga, itu juga merupakan "profesi mulia". Namun sayang, kaum perempuan sendiri tidak mau mengakui pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi dan menganggap profesi ini adalah "inferior" atau pelecehan terhadap kemampuan intelektualitas perempuan.
Ibu rumah tangga bukanlah profesi inferior. Mendidik anak dalam keluarga juga diperlukan intelektualitas, paham yang mengatakan "buat apa sekolah tinggi-tinggi, jika akhirnya diam dirumah menjadi ibu rumah tangga" itu salah besar. Rumah adalah pusat pendidikan, pusat pelatihan etika dan intelektualitas bagi anak-anak. Tentu peran seorang ibu yang memberikan andil besar dalam pendidikan dasar ini. Sangatlah penting sebuah pendidikan dan intelektualitas yang dimiliki oleh seorang ibu sebagai modal mendidik anak-anaknya nanti.
Di Indonesia, mayoritas perempuan merasa sayang jika pendidikan tinggi mereka hanya berakhir di pekerjaan rumah tangga. Akibatnya anak Indonesia dari golongan ibu berpendidikan malah berada dalam asuhan para pembantu rumah tangga dan baby sitter. Memang anak-anak itu bisa menyelesaikan pendidikan yang setinggi-tingginya dan mendapat dukungan finansial yang kuat. Tetapi ada satu hal yang berbeda yaitu: pola pikir dan jiwa mereka bukan duplikasi dari orang tuanya mereka, tetapi duplikasi dari pembantunya.

KESEMPATAN BEKERJA BAGI IBU PARUH BAYA
Pemerintah perlu menyediakan kesempatan bekerja bagi perempuan-perempuan dalam usia paruh baya. Dalam hal ini mengambil contoh seorang ibu dengan anak-anaknya yang menginjak usia 17 tahun ke atas dimana pendampingan seorang ibu dalam kehidupan mereka sudah tidak sepenuhnya lagi. Seorang ibu apalagi jika ia berasal dari latar belakang pendidikan yang tinggi akan merasa jenuh karena perlahan tugasnya untuk membimbing anak tidak diperlukan lagi. Kemampuan intelektualitas mereka sebaiknya dituangkan dalam pekerjaan. Namun sayang mengingat lowongan pekerjaan saat ini tidak memperhitungkan tenaga kerja dengan usia 30 ke atas, maka tentunya pupuslah kesempatan bagi para ibu ini.
Di Jepang, ibu-ibu dengan usia paruh baya masih mendapat kesempatan bekerja jika mereka sudah tidak lagi berperanan penuh dalam membesarkan anaknya. Sebaiknya Indonesia dapat mengambil contoh kebijakan tersebut agar kaum ibu yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga bisa mengurus anak-anaknya sebaik mungkin tanpa takut kesempatannya untuk menyalurkan kemampuan hilang begitu saja karena faktor usia.

SOSIALISASI TELEPON SAHABAT ANAK (TESA) 129
TESA 129 merupakan layanan telepon bebas pulsa yang dioperasikan relawan di bawah koordinasi pemerintah dan lembaga pemerhati anak. Program ini untuk anak yang membutuhkan perlindungan atau berada dalam situasi darurat maupun anak yang membutuhkan layanan konseling. TESA 129 bisa menjadi saluran “curhat” bagi remaja yang bermasalah, atau pengaduan bagi masyarakat jika mereka melihat kasus pelanggaran hak-hak anak di lingkungannya.


RAISA AURORA
Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya Lingkungan
Fakultas Ekonomi Manajemen
Institut Pertanian Bogor