Halaman

08 Juli 2009

LOMBA MENULIS ESAI REMAJA 2009

Pemilihan anggota legislatif sebagai bagian dari pemimpin bangsa, baru saja usai. Pada tanggal 8 Juli 2009, seluruh masyarakat Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih, akan kembali menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin bangsa. Bagaimana dengan hak anak? Pernahkah kita mendengar suara hati anak-anak tentang pemimpin bangsa? Adakah harapan yang diinginkannya terhadap pemegang amanat rakyat ini?


Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia (KNPPRI) dan UNICEF (Lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa yang khusus menangani masalah anak-anak) menyikapi hak anak di atas dengan menyelenggarakan Lomba Menulis Nasional untuk Remaja 2009 dengan tema “Anak dan Pemimpin Bangsa”. Lomba ini akan memperebutkan Penghargaan KNPPRI, UNICEF dan YKAI untuk Penulis Muda Indonesia.


Lomba menulis ini menjadi media bagi partisipasi anak dan mendorong semangat mereka untuk mengeluarkan pendapatnya secara aktif melalui karya tulis. Lomba ini terbuka untuk anak usia remaja di seluruh Indonesia.


Dua penulis terbaik (1 kategori SMP dan 1 kategori SMA) akan menerima “Penghargaan KNPPRI, UNICEF dan YKAI untuk Penulis Muda Indonesia 2009” di Jakarta, serta dua puluh karya terbaik akan dibukukan.

Kegiatan dilaksanakan mulai tanggal
1 Mei s/d 30 September 2009.

Tulisan berbentuk artikel dan harus asli. Isi sesuai dengan tema “Anak dan Pemimpin Bangsa.” Tulisan bisa menyoroti situasi anak di Indonesia, pemenuhan hak-hak anak oleh pemerintah, pelanggaran hak-hak anak, harapan terhadap pemimpin-pemimpin bangsa yang baru/akan terpilih di tingkat MPR/DPR/DPRD/Presiden, dan hal lainnya yang berkaitan dengan peran pemerintah terhadap pemenuhan hak-hak anak.


Panjang tulisan 4 – 7 halaman, kertas A4, huruf Arial 12 pt, dan spasi 1,5.

Peserta berusia 12 – 18 tahun atau masih sekolah (SMP/SMA/sederajat), menyertakan data diri : nama, keterangan sekolah/kelas dan usia (disertai fotocopi bukti diri : KTP/Kartu Pelajar) serta tuliskan alamat jelas dan nomor telepon yang dapat dihubungi.


Tulisan dikirim ke :

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI)

Jalan Tebet Barat Dalam V/26

Jakarta Selatan – 12810.


Tulisan (artikel) harus sudah diterima panitia paling lambat tanggal 30 September 2009 (stempel pos).


Hasil lomba akan diumumkan tanggal 14 November 2009 melalui www.ykai.net. Keputusan dewan juri bersifat final dan mengikat (tidak dapat diganggu gugat).

Penyerahan penghargaan dan hadiah menarik lainnya kepada dua penulis terbaik direncanakan pada tanggal 20 November 2009.


Untuk informasi selengkapnya dapat menghubungi nomor telepon:

YKAI : 021-98292335; 021-98282905;

Aya : 021-93810517, 0878-77379859;

Yuyun : 0812-9464364;

Susan : 0818-660654, 021-99832967.

Fax : 021-8312694

Email : lombamenulis_ykai@yahoo.com dan menulisnasional_ykai@yahoo.co.id

Website : http://www.ykai.net

23 Juni 2009

Yang Terlupakan dalam Hari Peringatan

Di bulan Juni ini, kita banyak memperingati hari-hari penting dalam sejarah, seperti hari kelahiran Pancasila 1 Juni, hari Lingkungan Hidup 5 Juni, dan hari ulang tahun ibukota Jakarta 22 Juni. Masing-masing diperingati dalam kemeriahan, apalagi HUT Jakarta yang biasanya diwarnai Festival Pekan Raya Jakarta.

Ada juga lho hari penting yang wajib diketahui terutama bagi anak-anak Indonesia, yaitu Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang diperingati setiap 12 Juni. Pada tanggal 21 Juni 2009 lalu di Plasa Selatan, Gelora Bung Karno, sejumlah LSM dan kelompok anak menggelar “Aksi Menentang Pekerja Anak” dengan jalan damai dari Depdiknas – Senayan sambil membawa spanduk-spanduk yang menyatakan protes menentang pekerja anak. Semua orang dibagikan Kincir Angin 5 warna yang digunakan oleh ILO sebagai lambang dari kampanye global menghapus pekerja anak. Kincir Angin ini mewakili bentuk kebebasan, karena fenomena pekerja anak telah merampas jutaan hak anak-anak untuk tumbuh berkembang dengan bahagia. Lima warna kincir angin yaitu hijau, merah, biru, coklat, biru dan kuning mewakili perbedaan ras dan budaya di dunia.

Acara dilanjutkan dengan pembagian kelompok permainan untuk anak-anak. Inti permainan di setiap kelompok adalah berusaha menyusun huruf-huruf yang nantinya membentuk kalimat protes atau himbauan untuk menentang pekerja anak. KREATif turut serta dalam kelompok ‘kuning’ yang membuat kalimat “Aksi Kaum Muda Menentang Pekerja Anak”. Memasuki acara inti, semua partisipan duduk di tempat yang disediakan di bawah naungan tenda. Kemudian acara diikuti beberapa sambutan dari Perwakilan ILO, Perwakilan Anak dan suguhan lagu dari Nugie. Sayangnya, sejumlah undangan seperti Menteri Sosial, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tidak hadir dalam acara ini dan hanya diwakilkan oleh dirjen. Mengapa Menteri-Menteri terkait kurang menunjukkan perhatian mereka terhadap penghapusan pekerja anak? Tidakkah ini menimbulkan kesan bahwa pesan untuk menyejahterakan kehidupan anak dan bangsa hanya di bibir mereka saja.

Kenyataan miris lainnya juga terlihat setelah acara selesai. Meski acara tersebut mengangkat isu pekerja anak, masih banyak pemulung anak-anak yang memunguti sampah makanan kardus yang ditinggalkan peserta acara. Anak-anak pemulung itu dengan langkah cepat menyelip di antara partisipan acara mencari-cari sisa makanan kardus yang ditinggalkan. Mereka yang menjadi tema utama dalam acara tersebut justru ternafikan dari perhatian. Tidak ada satupun orang yang peduli melihat hal ini. Akhirnya salah satu anggota KREATif bernama Cory yang gemas melihat anak-anak pemulung tersebut, memberikan topi miliknya bertuliskan STOP PEKERJA ANAK yang dibagikan secara gratis dalam acara. KREATif sangat sedih melihat betapa pesan untuk menghentikan pekerja anak belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat bahkan sebagian besar peserta acaranya sendiri. Seharusnya dalam acara yang mengangkat isu pekerja anak seperti ini, tidak hanya menyuguhkan hiburan dan himbauan. Namun juga pembuktian dengan memberikan makanan gratis atau menyumbang buku-buku terhadap anak-anak pekerja seperti pemulung yang kebetulan berada di sekitar daerah itu.
KREATif berharap dalam acara-acara selanjutnya yang mengangkat isu-isu sosial, tidak sekadar memberikan himbauan namun juga aksi nyata terhadap sekelilingnya.

20 Juni 2009

Liputan Spendoe Show Week 2009


Acara ulang tahun SMPN 2 Mataram-NTB (Spendoe) tahun ini dirayakan dengan diadakannya “Spendoe Show Week 2009” yang berlangsung dari tanggal 13-20 Juni 2009. Acara ini diadakan setelah ulangan umum semester genap selesai dilaksanakan. Dalam acara ini, diadakan lomba-lomba antar kelas dimana semua kelas diwajibkan mengirimkan “atlet” nya. Apa saja lombanya? Ada lomba futsal putra, futsal putri, dan 3on3 putra di bidang olahraga. Serta lomba mading dan baca puisi di bidang seni. Ada pula lomba-lomba lain yang tidak wajib diikuti setiap kelas antara lain festival band dan loma voli untuk putra dan putri yang dilaksanakan antar SD se Kota Mataram.

Dari sekian banyak lomba dalam acara yang dipanitiai OSIS SMPN 2 Mataram ini, yang paling unik adalah Lomba Mading. Mengapa? Lomba Mading yang mengambil tema “Green School” ini meminta peserta untuk membahas mengenai sekolah yang ramah lingkungan serta mewajibkan penggunaan barang-barang bekas sebagai media penulisan. Wow! Persyaratan ini dinilai sebagian peserta cukup menantang sekaligus menguntungkan. Karena mereka tak perlu mengeluarkan biaya banyak, dan satu lagi, ramah lingkungan.

Tim juri yang terdiri atas Ibu Dra. Ni Made Kembar dan Ibu Zohriah, S.Pd akhirnya menetapkan pemenangnya yang diumumkan pada tanggal 20 juni, pada hari penutupan.

“Sulit sekali menentukan siapa juaranya. Semuanya baik, unik dan menarik”, komentar Ibu Kembar, salah satu juri.

Namun, dalam setiap kompetisi, selalu ada yang kalah dan menang. Dan kali ini pemenangnya adalah dari kelas 8 A-RSBI dengan mading yang berjudul “Selembar Wajah Bumi”. Tim madding 8 A terdiri atas 7 orang yang semuanya perempuan. Mereka adalah, Novi, Bella, Atik, Meining, Nella, Azka dan saya sendiri, Gayatri.

“Kita benar-benar nggak keluar uang untuk bahan. Hanya sedikit kertas warna dan lem”, kata Novi.
“Kardus ini kita minta dari Toko kebutuhan pokok milik teman. Tidak menyangka hasilnya jadi bagus”, kata Meining
“Tutup-tutup botol ini juga kami kumpulkan dari stan minuman OSIS”,kata Atik
“Ya, ini hasil kerja rodi kita semalaman”, kata Bella
“Akhirnya kelas kita bias mendapat juara dalam SSW tahun ini setelah kalah di bidang olahraga”, kata Nella

Mereka mendapat hadiah berupa piagam dari sekolah dan buku “The Hot Chicken Soup for Global Warming” dari KREATif. Buku ini membahas tentang anak dan lingkungan hidup karya penulis-penulis Indonesia terbaik 2008 yang memperoleh penghargaan dari UNICEF.

“Buku yang menarik untuk dibaca.”, begitulah komentar dari Bapak Subur, Pembina OSIS SMPN 2 Mataram.

Pada penutupan tanggal 20 juni yang sekaligus penerimaan rapot, dibagikan juga bulletin KREATif yang membahas tentang lingkungan hidup. Buletin ini membuat para orang tua murid tertarik untuk membaca, Karena isinya yang ringan namun berbobot.

Terimakasih untuk semua sponsor termasuk KREATif sehingga acara ini dapat berjalan dengan meriah!

KREATif NTB, Gayatri

17 Juni 2009

Youth Forum 2009

IFCW WorldForum 2009 will hear from the children and young people of the world. A total of sixty young adults have been invited to participate in the forum. They will take part in the seminars, debate during break-out sessions, participate in roleplaying sessions and showcase their creative presentations. At the end of the forum, the youth are expected to make a petition which will be declared to the world. The participation of the youth is hoped to provide this forum with the important perspective of the Child. The petition will be presented to the WorldForum 2009 participants and an invited audience on the Saturday morning session, 24 October 2009, in commemorating United Nations Day.
General Information

Date : October 21 - 24, 2009

Venue : Millennium Hotel Jakarta - Indonesia

Theme : My World, My Dream...


Topics :
Five primary sub-topics will be discussed by the youth in this forum:
Effective Future Community Leadership in developing a Safer and Better World
Child’s Rights and MDGs (7 & 8)
Changing Environmental Threats into Opportunities for a Better World
Strengthening Family and Community Empowerment
Media as a Partner in Promoting and Protecting Child Rights


How Can I Help This Noble Cause?

The IFCW opens its doors to young bright minds that have the smarts and the heart to change the present and make a better and brighter future. By participating in this event, we hope to enhance your dreams and capabilities for a brighter future. Participants will be able to enjoy talks from highly established speakers as well as the company and minds of their fellow participants. We hope that with this, participants will be motivated to act as agents of change within their home communities.

There will be a total of 60 seats available for the youth aged 15 – 18 years old.

How Can I Apply?

The applicant will need to fill out the registration form and meet the following requirements:

Selection Process for IFCW Participants
1. Essay
Submit a short essay on one of the five topics given. In the essay, the topic must be correlated to the overall theme of “my world, my dream”. It should explain, for example, reality of leadership in your environment (which is your ‘world’), as well as what you think leadership ought to be like, and why (i.e. your ‘dream’). It is highly recommended that participants use both illustration, facts as well as arguments to substantiate their essay. Essays must be no less than 700 words but no longer than 1500 words, font Times New Roman size 12, 1.5 spacing, on an A4 format. With 1.25 inches for left and bottom margins, and a 1 inch margin for top and right.

2. Creative presentation
This second article is meant to allow you to be as creative and experimental as you want. You will be allowed to use whatever means possible to present your illustration of “my world, my dream”, based on one of the five given topics, given that it is not the same as the topic for the essay. (For example, you can present by making posters, doing a short play, singing your own composed song, making a video, and so on.) A soft copy of that media (picture, video, slides, etc) must be submitted to the committee, as well as a video/audio record of the presentation. Pictures must be in the form of JPEG/GIF files, while videos zipped and in MP4 or WMV format. The overall presentation should take between 5 and 7 minutes.


Email your submission including all relevant documents and participant’s biodata to youthforum.ifcw2009@gmail.com BEFORE July 20th 2009.

Applicants that pass the selection process will be announced through www.worldforum-2009.org on
August 1st 2009.

Do I Have to Pay?

The registration fee for The International Forum for Child Welfare is US$ 300.00, to be paid when the applicant’s participation in IFCW has been confirmed.

Facilities

The registration fee is required to provide participants with the following facilities:

Participants will stay in the 4-star Millennium Hotel Jakarta in a twin sharing room for the length of the World Forum from October 21st – 24th 2009. Breakfast, lunch, and dinner is included in the registration fee and will be provided. Additional expenses such as phone calls, internet usage, mini bar, laundry, etc. will be billed to your personal account.

Notes:

Youth forum activities are limited to only participants. Parents may accompany the youth to the program at their own expense (transportation, accommodation, meals, etc will not be provided by the committee).

Mencintai Bumi lewat film HOME

Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2009, Film Home untuk pertama kalinya diluncurkan di Indonesia. Film dokumenter karya Yann Arthus-Bertrand ini bukan sekedar film dokumenter biasa yang sarat akan pesan, tapi juga menyuguhkan visual yang kuat. HOME berhasil memotret bagian bumi yang telah dirusak oleh manusia serta keajaiban lainnya yang masih bisa kita lestarikan.

Di Indonesia HOME akan diputar pada 5 Juni 2009 di Djakarta Theatre yang akan dihadiri oleh Dubes Perancis, AFD, Cinema 21, Cinema XXI, dan WWF-Indonesia.
Secara eksklusif, HOME akan diputar di Cinema XXI Djakarta Theatre pada pukul 13.00, 15.00, 17.00.
Sementara pada 6 Juni 2009, publik dapat menyaksikan HOME di Cinema XXI Plaza Senayan.

Untuk pemutaran di Djakarta Theatre pada 5 Juni, dan Cinema XXI Plaza Senayan pada 6 Juni, Rp 2,000 dari setiap tiket terjual akan disumbangkan kepada WWF-Indonesia.

http://www.wwf.or.id/en/index.cfm?7380/67/Peringati-Hari-Lingkungan-Hidup-Sedunia-WWF-Luncurkan-Film-HOME

18 Mei 2009

Sekolah Bikin Bosan..??

Oleh : Gayatri (KREATif, NTB)

Berikut ini hasil wawancara tim KREATif kepada seorang siswa SMP kelas 8. Sebut saja namanya Cacha (nama disamarkan).

Tanya: Pernah nggak kamu merasa stress atau bosan di sekolahmu?
Jawab: Wah, itu sih bukan pernah lagi. Tapi sering banget.

Tanya: Kapan kamu mulai merasa stress atau bosan?
Jawab: Saat SMP kelas satu. Rasanya hidupku ini Cuma bolak-balik denger guru ngoceh, kerjain tugas, PR, tugas kelompok, presentasi, ulangan, dipaksain guru ikut lomba ini-itu, pokoknya nggak ada asyiknya sama sekali!

Tanya: Lho, bukankah itu bagian dari kewajiban kamu sebagai siswa?
Jawab: Kewajiban sih kewajiban, aku tahu. Tapi terkadang guru-guruku kelewat batas. Mereka nggak mikir kita ada tugas lain juga, langsung kasih tugas aja. Mana maunya harus kayak lagunya Andra and The Backbone, sempurna….. gitu.

Tanya: Lalu apa lagi yang bikin kamu stress dan bosan?
Jawab: Tekanan. Guru-guruku selalu memberi tekanan kepada kami untuk harus mendapat nilai yang itu tadi… sempurna. Perlu dicatat bukan motivasi! mana bawa-bawa kakak kelaslah, nama sekolah yang sudah favorit, nama mereka sebagai pengajar seniorlah. Apalagi kalau nanti dekat ujian, dari sekarang kelas dua aja mereka sudah luar biasa nekennya. Bukan memotivasi, ini beda lho!

Tanya: Ada lagi?
Jawab: Wah, banyak. Oya, dari yang aku tahu, guru-guru di sekolahku lagi giat banget ngejer sertifikasi. Mereka kadang nggak ngajar buat ngurusin hal itu, ada juga tugas-tugas portofolio atau powerpoint kami yang diganti namanya dan diakui sebagai hasil kerja mereka. Bahkan ada temanku yang diminta bantuannya untuk membuat tugas sertifikasi lalu nilainya dinaikkan.

Tanya: Kalau masalah lomba bagaimana?
Jawab: Mereka anti banget sama kata tidak bersedia. Mereka selalu mengatasnamakan sekolah, tetapi nggak memperhatikan kondisi kami, terutama secara psikis. Banyak guru yang bahkan cenderung memaksa. Sekolahku juga masih kurang dalam soal apresiasi kepada murid berprestasi, malah mereka cenderung kurang peduli.

Tanya: Bagaimana soal biaya sekolah? Kamu kan sekolah negeri?
Jawab: Ya begitulah, biar katanya sekolah gratis, tapi guru-guru masih saja suka menarik pungutan lain. Ada uang komite, bangunan, seragam, buku, lembar kerja, pokoknya ada-ada saja. Dan jika dijumlah uang-uang tadi tidak sedikit.

Tanya: Kalau soal kualitas guru rata-rata di sekolahmu, berapa kamu beri mereka nilai?
Jawab: C. mereka memang punya gelar berderet, tapi mereka cuma pintar untuk diri sendiri, bukan untuk dibagi pada murid-murid dengan baik . Mereka cenderung tidak menghargai memperhatikan keputusan, pilihan, hak dan kondisi kami terutama psikis yang lelah.

Tanya: Pernahkah kamu dan teman-teman mengungkapkan hal ini pada mereka?
Jawab: Sering sekali.

Tanya: Apa komentar mereka?
Jawab: Begini, “Pindah saja ke sekolah lain kalu tidak mau ribet. Karena sekolah di sini memang harus ribet”.

Tanya: Apa harapan kamu ke depan?
Jawab: Guru diberikan workshop khusus tentang cara mengajar efektif untuk murid (bukan untuk guru karena efektifnya mereka maksudnya lain). Satu lagi, masih workshop tentang psikolog dan hak-hak anak. Satu lagi, kalau workshop pastikan mereka bisa mengaplikasikan ya, karena aku benar-benar berharap somga guru-guru di sekolahku bisa menjadi guru yang patut diteladani, baik, dan ramah anak.

16 Mei 2009

Pengenalanku Pada Dunia Puisi

Oleh : Aida Yuni (KREATif, Jakarta)

Guruku yang ingin kuceritakan di sini biasa dipanggil Bu Yuli. Beliau adalah salah satu guru di SMPN 4 Bekasi yang mengajarkan kesenian. Walaupun perannya sebagai guru, beliau mampu membaur dengan anak didiknya. Terutama anak-anak yang terdaftar sebagai pengurus OSIS, salah satunya adalah aku. Beliau mengenalku karena aku sering ditunjuk sebagai ketua koordinator dalam berbagai acara yang diselenggarakan OSIS dan sekolah.

Di saat aku duduk di kelas 3 ada perlombaan puisi dan perlombaan lainnya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Bekasi dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kota Bekasi. Awalnya aku tidak tahu-menahu tentang lomba itu. Sampai akhirnya aku secara tak sengaja bertemu dengan Bu Yuli di depan kantor Tata Usaha. Bu Yuli yang melihatku langsung memanggilku.

“Aida, ke sini sebentar, Ibu mau ngomong,”
“Ya, ada apa Bu?”
“Ini, ada lomba-lomba yang diadain buat Peringatan Hari Jadi Kota Bekasi hari Minggu besok. Salah satunya lomba puisi. Kamu ikut ya?”
“Lho Bu? Kok saya? Yang lain aja ya Bu, saya nggak berani,”
“Ya udah, kamu ajak juga yang lain, tapi kamu tetep ikut ya,”
“Yah Bu.. Ya udah, saya ikut Bu. Tapi boleh ajak yang lain kan?”
“Boleh. Ini syarat-syarat perlombaannya. Semoga sukses ya Nak,”
“Iya Bu, terima kasih.”

Karena aku tidak berani mengikuti lomba itu sendiri, aku bergegas ke kelas dan mengajak yang lain turut serta. Aku mengajak teman-temanku yang kutahu handal dalam menulis puisi.

Akhirnya, tibalah hari perlombaan itu. Bu Yuli dan guru-guru yang lain tak henti-hentinya menyemangati kami. Puisi yang kami tulis di selembar kertas yang diedarkan panitia telah terkumpul di depan dan sedang dinilai oleh para juri. Setelah beberapa waktu para juri menilai, tersaringlah 20 puisi yang layak untuk maju ke final. Dan benar-benar tidak kusangka puisiku termasuk dalam 20 besar itu. Betapa bahagia dan bangganya aku. Saat aku maju bersama 19 finalis lainnya mataku tak henti mencari sosok Bu Yuli. Ingin kuucapkan banyak terima kasih pada beliau yang memercayaiku dan terus menyemangatiku dalam lomba ini. Namun sayang, Bu Yuli sudah tidak ada. Mungkin beliau sedang menengok kabar teman-temanku yang juga membawa nama sekolah dalam lomba lainnya.

Sayangnya di babak final aku gagal meraih juara. Namun aku tidak kecewa. Karena melalui lomba ini kepercayaan diriku akan kemampuanku menulis puisi langsung timbul. Aku benar-benar berterima kasih pada Bu Yuli. Entah apa jadinya kalau Bu Yuli mengiyakan penolakanku saat itu. Mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang.
Satu hal penting yang terus mengingatkanku akan jasa guruku tersebut adalah andai aku tidak ikut lomba itu dan mendapat kepercayaan diriku, mungkin sekarang aku bukanlah anggota dari KREATif. Karena aku pun menjadi anggota komunitas penulis muda ini berkat menulis puisi.
Terima kasih Bu Yuli, terima kasih.

03 Mei 2009

Penghapusan Buruh Anak di Jermal


Pemerintah Daerah Sumatera Utara menetapkan tahun 2004 sebagai target penghapusan buruh anak di jermal.

Sejauh ini jumlah buruh anak menurun, dari sekitar 400 buruh anak pada tahun 1998 hingga 30-an pada akhir Maret 2003. Bahkan Gubernur Sumatera Utara, T. Rizal Nurdin, berharap akhir tahun 2003 tidak ada lagi buruh anak di jermal.
Liston Siregar berkunjung ke beberapa jermal di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara, dan bermalam di salah satu jermal yang masih mempekerjakan buruh anak.

Para buruh anak itu diharuskan bekerja tengah malam untuk mengangkat jaring sedang pagi harinya mereka beristirahat.

Sementara di darat ILO-IPEC melancarkan program bantuan ekonomi kepada keluarga mantan buruh anak jermal dengan bantuan ternak.

Namun tak ada jaminan jermal akan bebas total dari buruh anak pengangguran dan juga belum adanya kesadaran tentang resiko bekerja di jermal selama tiga bulan penuh, seperti terluka kena pemutar jaring dan kehilangan kesempatan untuk mendapat pendidikan.

Sri Eni Purnamawati, Koordinator ILO-IPEC untuk buruh anak jermal di Medan mengatakan ada juga kemungkinan anak dikucilkan dari keluarga dan lari bekerja ke jermal.

(http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/030618_buruh.shtml)

Buruh, Riwayatmu...

Aksi Keprihatinan Warnai Peringatan Hari Buruh
Jum'at, 01 Mei 2009 , 13:58:00
PURWOKERTO, (PRLM).- Peringatan hari buruh sedunia di Purwokerto Jawa Tengah (Jateng) diwarnai aksi keprihatinan. Sebab tenaga buruh masih dihargai dengan upah murah, Massa yang menamakan diri Aliansi Rakyat Banyumas Bersatu menuntut pemerintah untuk mensejahterakan buruh dengan upah yang wajar.

"Realitasnya buruh di Purwokerto mendapat upah dibawah UMK," kata Koordinator Aliansi, Handika Febrian, dalam aksinya Jumat (1/5).

Hasil survei yang dilakukan aliansi terhadap upah buruh pada buruh toko dan buruh tani di Kabupaten Banyumas. Untuk buruh toko, dalam sebulannya mereka hanya mendapat Rp 350-612 ribu. Sedangkan buruh jasa upahnya Rp 350-450 ribu per bulan.

"Lebih memprihatinkan lagi upah buruh tani, tenaga mereka hanya dihargai Rp 250-350 ribu. Upah tersebut tidak sesuai dengan SK Gubernur yang menyebutkan UMK Banyumas sebesar Rp 612.500. Ini jelas memprihatinkan," katanya.

Dengan upah yang diterima buruh saat ini, kata Handika, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal, kebutuhan hidup minimal di Banyumas mencapai Rp 440 ribu.

Menurutnya, sudah seharusnya Pemkab Banyumas mendorong pengusaha untuk menaikan upah buruh. Mereka berharap agar kesejahteraan buruh menjadi prioritas program pemerintah.

(http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=72916)

02 Mei 2009

Catatan dari Bulan April: Kisruh terus!

KREATif NTB: Gayatri



Di bulan April 2009 yang baru saja kita lalui ini, banyak sekali terlaksana event nasional yang berkaitan juga dengan kehidupan anak. Berikut catatan saya berdasarkan apa yang memasuki panca indra saya…



Event 1: Pemilu Legislatif, Kamis, 9 April 2009


Event nasional yang super duper penting ini telah dihelat. Langsung untuk kedua kalinya dan di-declair sebagai “Pesta Demokrasi Rakyat” dan beberapa teman-teman KREATif ada juga yang telah berhak memilih, meskipun saya tidak. Tapi ternyata, menurut berita di sejumlah media terdapat sekitar 40% pemilih dinyatakan GOLPUT alias tidak menyumbangkan suara pada pemilu kali ini. Ada yang memang tidak bersedia, namun ada yang tragis bahwa mereka tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap meskipun sudah punya KTP! Salah seorang teman saya yang berusia 14 tahun bahkan mendapat undangan memilih meski orang tuanya tidak. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah pun hampir tidak jadi ikut pemilu lantaran tak tercantum di DPT. Ajaib!

Belum lagi soal logistik! Banyaknya surat suara yang tertukar di sejumlah daerah pemilihan, penyembunyian surat suara, kurangnya bolpoin atau spidol pencontrengan dan masih banyak lagi. Di beberapa TPS, sampai diadakan pemilu ulang.

Lain lagi kecurangan, di sebuah TPS, seorang Ibu mengaku ketika masuk TPS sudah diburu juru kampanye caleg yang “mengingatkan” untuk memilih caleg yang dikampanyeinya.. Gila, masa kampanye sudah selesai waktu itu, bukan?!?

Lagi. Banyaknya orang yang frustasi akibat hasil pemilu. Malang nian nasib bangsa ini kalau sampai orang seperti itu benar-benar jadi anggota dewan yang terhormat! Yang gila bahkan sampai rela mengambili semua sumbangannya saat kampanye door to door! Dengan kilah “saya nggak balik modal gara-gara kalah jadi caleg!” Balik modal? Memang jadi caleg itu buat nyari untung duit ya? Segala cara dilakukan deh buat jadi anggota legislatif!

Belum lagi partai-partai di pusat sana, lobi sana sini, atur strategi sana sini nggak inget sama penentu nasib mereka, rakyat!



2. Event 2: Ujian Nasional

Ini dia event yang selalu jadi topic of the year dari tahun 1960an saat pertama dicoba. Tapi sekarang masalah tambah, biasa! Mulai dari bocornya soal ujian, jawaban yang beredar via sms ke hape siswa (benar tidaknya belum tentu), jurus jitu nyontek dari para siswa sampai bandelnya pengawas. Dari yang garang sampai tidur di ruangan. Bahkan di sebuah SMP di kota blablabla sekitar 10 orang siswa-siswi kelas 8 diminta ‘membantu’ proses pengawasan Ujian kakak kelasnya dengan bayaran sekotak kue!

Ada juga peserta yang tidak ikut UN lantaran hal-hal yang cukup mengagetkan. Ada yang sudah menikah dengan teman satu sekolahnya dan malu ikut UN, sampai membantu orang tua ngerampek (:panen, bahasa sasak). Wah wah wah! Tinggal tunggu satu kisruh lagi, hasilnya. Pasti banyak yang stress karena tidak lulus! Banyak siswa yang saya tanyai dan merasa stress berat sebelum ujian lantaran pola belajar di sekolah yang sangat memforsir mereka selama setahun ini. Belum lagi tuntutan para guru, harus nilai rata-rata 8 lah, malu guru itu kalau mereka nggak lulus dan lain lain. Dan ini biasanya terjadi di sekolah favorit! Lantaran mereka sangat menjaga image dan gengsinya tanpa mau mengakui bahwa guru dan sistem sekolah itu dalam mengajarlah penyebab utama kegagalan bila terjadi nanti. Untuk apa ada sekolah kalau orang-orang sudah sangat pintar sampai tak perlu diajari lagi?



Jadi, teman-teman semoga saja kisruh-kisruh itu tak lagi terjadi di bulan ini ya. Semoga orang dewasa dan anak dapat menjaga kondisi dunia ini dengan baik! Semoga!