Halaman

03 November 2008

Dunia bicara tentang pernikahan pengusaha-bocah yang sarat kontroversial

Sahabat KREATif di luar Indonesia juga ikut berkomentar tentang pernikahan Syekh Puji dengan Ulfa. Berikut sekelumit tanggapan mereka yang langsung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Ai (Tokyo, Japan)

Pernikahan Syekh Puji dan Ulfa sah?

Pikirkan sekali lagi!!!

Syarat-syaratnya memang cukup untuk “dibilang sah” secara agama. Namun, ISLAM pun menilik lebih lanjut sesuai kondisi dan hukum yang berlaku di suatu tempat. Tekanan yang dirasakan Ulfa, jelas-jelas menunjukkan bahwa hak keremajaannya terjajah. Dia masih anak-anak dan masih butuh eksplorasi diri. Sekali lagi, dalam Islam pernikahan jauh dari sebutan sah jika salah satu pihak mendapat tekanan serta terjajah baik psikis maupun fisik.

Andrew (Glodcester, UK)

Meskipun saya muallaf yang masih perlu revolusi total untuk menjadi muslim yang sempurna dengan sikap hidup yang kuat, dalam hal ini saya tetap dapat melihat kepribadian Syekh Puji yang terbelah. Satu sisi mengakui kebenaran Allah, namun sisi lain justru melanggar kebenaranNya yang lain. Seharusnya pribadi yang stabil, pada jiwanya tidak terjadi konflik bathin antara keimanan dan syahwat. Kasian Ulfa! Dia terpaksa mengalami akselerasi kedewasaan.

Gie (Harvard Medical School, USA)

Salah satu penyakit yang hampir semua orang tahu adalah kebiasaan kita melakukan generalisasi dosa. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Satu berbuat, yang lain dicap ikut terlibat.

Melihat kelakuan “Syekh gadungan” yang mengutip sunnah Rasul untuk kepentingan pribadi, sesungguhnya membuat hati ingin menangis. Perbuatan tersebut jelas merusak citra dirinya, sekaligus menghancurkan wibawa ulama-ulama lain.

Muslim yang baik adalah mereka yang orang lain selamat dari malapetaka tangan dan lidahnya. Jika perbuatan dan kata-kata kita menimbulkan persepsi negatif pada sesama, maka itu termasuk sikap yang tidak terpuji.

02 November 2008

Kata Mereka Tentang Kontroversial Pernikahan Syekh Puji dengan Ulfa

Nikah. 5 huruf. 2 suku kata. 2 huruf vokal. 3 huruf konsonan.

Sederhana, bukan?

Namun, tak lagi sempat disebut sederhana jika orasinya menimbulkan berbagai tanda tanya besar yang sarat kontroversial.

Belakangan ini, publik dikejutkan oleh pernikahan Syekh Puji (43) dengan Ulfa (12). Betapa tidak, Syekh Puji yang dikenal sebagai seorang asatiz pimpinan pondok pesantren Miftahul Jannah, Bedono, Jambu, Kabupaten Semarang, secara siri menikahi gadis di bawah umur yang usianya belum genap 12 tahun dan masih terbilang anak-anak.

Sahabat KREATif sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang disebut anak-anak, turut berkeciap menanggapi tingkah polah yang tidak biasa ini. Berikut petikan pendapat beberapa sahabat KREATif di Jakarta.

Aditya

Sungguh memprihatinkan! Kasus ini semakin menguatkan fakta tentang moral Indonesia yang kian anjlok! Bahkan seseorang yang bisa dianggap sebagai pemuka agama pun, belum menjamin memiliki moral yang bernilai tinggi!

Ya, seperti layaknya kasus Syekh Puji 40 tahunan ini. Seseorang yang akrab dengan sebutan Syekh ini, dengan bangga hendak merealisasikan keinginan duniawinya melalui pernikahan sirinya dengan Ulfa, gadis yang masih berumur 11 tahunan! Pantaskah itu? Lagi-lagi, sungguh memprihatinkan!

Aida

Kenapa sih ulama di Indonesia makin “aneh”? Syekh Puji, seorang ulama (???) yang menikahi anak berusia 12 tahun. Apa ya yang ada di pikirannya? Ngikutin Rasullullah? Apa iya itu alasannya? Apa cuma dalih untuk membenarkan tindakannya? Please deh! Kisah Rasullulah menikahi Aisyah (yang saat itu berumur 9 tahun) itu beda! Beliau menikahi Aisyah, tapi tetap menunggu sampai cukup umur untuk diperlakukan semestinya. Apakah Syekh Puji juga demikian? Hmm…agak meragukan. Harus diperiksa tuh! Mungkin saja “Syekh” satu ini mengidap pedophilia. Mudah-mudahan pedophilia bukan penyakit menular. Kan kasian anak-anak Indonesia kalau bermunculan Syekh Puji-Syeh Puji lainnya…

Ayu DRS

Semua gadis pasti telah menyusun setiap tangkai bunga yang entah seberapa lama dirangkai menjadi sebentuk karangan. Mereka hendak mengalungkannya pada sang pangeran saat pengelana berkuda itu kelak datang membawakan bulan yang dipetik khusus untuk mereka.

Tapi…

Bukannya seorang pangeran berkuda, melainkan makhluk berkelebat janggut rawa yang tega begitu rupa menghalau seluruh khayal menakjubkan dari serat-serat kepala Ulfa.

Oleh satu sentakan tangan Syekh Puji, berguguranlah serta merta setiap kelopak bunga harapan dari rangkaian yang telah disusun Ulfa sekian lama. Betapa sebagai perempuan, Ulfa merupakan satu dari jutaan hiasan rapuh tentang santapan ketakutan yang terus dipelihara atas nama dalil.

Syekh Puji… Ingat! Meski paham bahasa Arab, tak satupun dari sekian banyak sahabat Rasullulah yang berani menafsirkan dalil (barang satu ayat pun). Lalu, mengapa Anda begitu tega memakai sunnah Rasul sebagai mantra ejakulator hasratmu?

Dian

Menurut gue, orang kayak gitu cuma memenuhi hasrat dia doang! Gue sebagai anak-anak tu merasa tertindas hak-haknya. Dia tu ga mikir kalau anaknya sendiri digituin. Gue menolak keras, dan pelakunya harus dibuang dari muka bumi ini!!!

Hidup anak Indonesia!

Kembalikan hak kami!

Febriyadi

Perbuatan yang sudah dilakukan Syekh Puji adalah perbuatan yang sangat salah besar. Mengatasnamakan sunnah Rasul serta mencegah diri dari perbuatan maksiat, bukanlah alasan yang logis. Bagaimanapun juga, tidak sepantasnya anak di bawah 12 tahun dinikahi dan diminta untuk memenuhi kebutuhan biologis, apalagi dengan orang yang sudah “berusia” sepertinya.

M. Akmal

Menurut saya poligami yang dilakukan Syekh Puji tidak sesuai dengan apa yang dilakukan nabi kita Muhammmad SAW. Karena Syekh Puji menikahi anak berumur 11 tahun yang masih polos dan tidak tahu apa-apa. Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah karena walaupun Aisyah masih kecil, tapi cara berpikirnya sudah dewasa (dalam hal positif). Tidak seperti yang dinikahi Syekh Puji, Ulfa.

Nicky Putri S

Pendapat saya mengenai kasus Syekh Pujiyono adalah; Asli! Gak banget! Karena melakukan sebuah pelanggaran hukum yang ia sembunyikan di balik sunnah Rasul. Secara tidak langsung, ia telah mencoreng nama baik Rasul.

Raisa Aurora

Sungguh memalukan ada orang menutupi perbuatan yang menyimpang dengan mengatasnamakan agama. Sebagai umat ISLAM, saya malu mengapa ada pemuka aama yang suka memelintirkan sunnah Rasul. Seharusnya, seorang pedophiia seperti itu segera diproses secara ukum, dan pastinya polisi harus lebih ulet menjaring pelaku kriminal yang bersembunyi di balik kedok agama, karena masih banyak Syekh Puji-Syekh Puji lainnya di dunia ini.

Sahabat KREATif dimana saja berada yang tertarik mengomentari fenomena tersebut, juga boleh melayangkan komentar melalui email KREATif: penulismuda.ina@gmail.com. Ditunggu ya!

01 November 2008

Bibir Bibir Itu Telah Terbungkam

SUARA BIBIRNYA

Bibir-bibir itu telah terbungkam…

Ratusan tahun lamanya….

Yang kala itu dapat terbuka…

Tak hanya berbisik

Namun dengan suara lantang

Berani

Tegas

Dan kuat

Bibir bibir itu mampu bersumpah

Ia

Bagai Petir menggelegar

Di akhir bulan kesepuluh

Meski perjuangan suara-suara itu baru dimulai

Mulai memasuki

merasuki

relung hati dan jiwa

dari tubuh-tubuh insan yang tersiksa

Digerakkannya pikiran

Hati

Dan jemari

Para insan yang baru tumbuh tekadnya

Untuk menghentikan tumbuhnya rasa sakit

Bersama, mereka buka tirai kelam

Agar cahaya kebenaran

Agar udara dan nafas kebebasan

Agar pemandangan kebahagiaan

Masuk dan merasuki

Ruang-ruang hati yang terkunci kesengsaraan

Agar suka cita selalu membahana

Adakah ini yang mereka mau?

Aku

Kita

Dapat menghirup udara bebas

Selalu dalam bahagia

Dalam cahaya-Nya

Kebenaran dan kebajikan

Dalam pelukkan sang Dewi kemakmuran

Ya…

Namun bukan yang ini

Yang melupakannya

Yang memenjaranya dalam barisan kata

Kertas lusuh

Yang seolah tiada bermakna

Terkubur dalam di tanah negeri

Tergerus hempasan tsunami

Letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor

Tergusur gelimang harta

Kebebasan dan kekuasaan

Terlupakan 200 juta anak-anaknya

Yang dihidupinya

Yang didiknya

Hingga kini

Detik ini

Ia tak ingin

Setiap baitnya hanya dihafal

Semalam sebelum kertas-kertas penuh Tanya datang

Tanpa ada yang tahu arti setiap maknanya

Apalagi melaksanakannya

Ia tak pernah minta…

Kata-katanya lembutnya

Menusuknya

Menggetarnya

Hanya digunakan saat menyatakan cinta

Saat merasakan manisnya cinta

Yang kemudian untuk saling memaki…

Memutuskan pertalian hubungan

Selebihnya hanya diganti

dengan deret kata-kata kasar

tak berbudaya dan berestetika

Ia tak akan pernah sudi

Ditumpuki manga tebal

Hiragana

Katakana

kanji

Karya bangsa yang pernah membungkamnya

Merampas bibir-bibirnya

Tidak akan

Tidak akan pernah ia kehendaki

Pergantian isi hati anak-anaknya

Yang tak ingin mengakui kaumnya sendiri

Memaki

Membenci

Mengganti

Dirinya dan kaumnya

Dengan yang lain

Andai ia mampu bicara

Dalam lelah ia menangis

Habis air matanya…

Kurang apa dirinya?

Ia bergelimang emas, minyak bumi dan kekayaan alam

Yang diinginkan setiap insan

Ia gendong anaknya dipunggung rentanya

Apa perlakuan anaknya sekali ia terima

Dengan sabar meski hatinya menangis

Merintih

Namun ketahuilah…

Ia selalu berdoa

Agar anak-anaknya

menjadi pemuda-pemudi yang baik

mengasihinya

selamanya

I. G. A. Gayatri Kancana Dewi_KREATif Mataram (NTB)

Maaf yaa.. T.T

Halo teman-teman,

Ini Tiffany, finalis 2008, ikut workshop juga kemarin di Jakarta, moga-moga tahu dan nggak lupa ya... 'T.T
Maaf belum pernah ikut posting atau 'nongkrong' di kreatif, yang di Jateng-DIY khususnya. Susah juga mau kontak temen-temen yang lain, saya ngga punya daftarnya.

Oh, fyi aja beberapa minggu lalu sempet ketemu Bimo-Jogja, krn ternyata kami satu kampus, tp habis itu ternyata Bimo pindah.

Yah, saya berharap bisa ikut bergabung dengan teman-teman.

Trima kasih.

(tidak ada subjek)

Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua crew Kreatif....
Mohon maaf Kahir dan Bathin ya dari Lombok....

Ohya...
Boleh usul?
Tema bulan oktober gimana klu sumpah pemuda???
Truz...
bolehkah posting itu berbahasa selain indonesia????

Thanks...
MAJU TERUS KREATIF INDONESIA!!!!!
(emangnya kreatif ada di mana lagi ya?)

Gayatri_KREATif Mataram

mohon maav..

dear all,
minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.. semoga di hari lebaran nanti kita dapat benar-benar kembali suci, dapat saling memaafkan tanpa membeda-bedakan yang mana orang yang ingin dimaafkan dan yang mana yang tidak.. putih+jernih=suci.. rasa kekeluargaan, persahabatan, dan kebersamaanlah yang menciptakan kemurnian hati dan membawanya ke kesucian diri... /^o^/\o_^\
sincerely,
brIsBaNiA ayu n Fam,,.

ni cerita ttg puasa tman" kita d Jepang...

dear KREATif...

maaf rada trlambat.. ni da comment dari Aisha Mizuno kelas 2 SMP di Katata-Jepang.. Aisha dipanggilna Ai-chan, dia tinggal di Kyoto di kota kecil di Kyoto tepatnya di Katata, Katata itu masih bisa dibilang desa.. Ai-chan memiliki ayah orang Jepang dan Ibu orang Indonesia..

kata ai-chan, disana puasa lebih enak daripada pada saat ia berpuasa di indonesia (di waktu ia SD). alasannya di sana puasa jadi tidak terasa seperti berpuasa karena suasananya sama saja, tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. teman-temannya yang tidak berpuasa juga melakukan hal-hal sehari-hari yang tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. jadi. ditambah lagi, kesibukan setelah jam sekolahnya, sepulang sekolah ia sudah disambut dengan bimbel dan les lainnya (oia, Ai-chan jg les tari-tari dan kebudayaan Indonesia, di sana ternyata ada gurunya, anak-anak yang ikut pun tidak hanya orang" Indonesia saja ttp org Jpang jg). katanya, di sana jg ada tempat belajar ngaji yg bkn hanya orang indonesia yg ikut, ttp orang jpang yg masuk islam jg ada.

jd intinya, puasa disana menurut ai-chan enak-enak aja, walaupun anggapan kita pasti jika orang" di sekitar kita tidak berpuasa (bahkan kalau kita sendirian yg berpuasa), kita akan terpengaruh dan merasa berat menjalankannya. tp lain halnya dgn ai-chan, ia malah merasa bahwa hari" berpuasa bagaikan hari" lainnya karena tidak terasa bahwa ia berpuasa, soalnya teman" sekitarnya tidak terlihat lemas, lesu, dan malas-malasan karena lapar dsb, melainkan semuanya tetap bersemangat spt biasa, jd ia pun tetap bersemangat jg! oia, di bulan ramadhan ini, di sana lagi musim gugur, jd udara/cuaca/suasananya jg mendukung untuk berpuasa seefektif mungkin, karena cuacanya tdk trlalu pana dan tdk trlalu dingin...

Brisbania_KREATif Jakarta

Met Puasa...

Pertama-tama Gayatri mau bilang...

SELAMAT BERIBADAH PUASA buat temen-temen semua yang muslim...

Maphin y kalo salah-salah...

Tahan segala nafsu...

Kecuali nafsu menulis.... ha ha ha ha ha ha h///....

Ada tips ne...
(dengan harapan dimasukin blog....)

Buat temen2 non-muslim di bulan Ramadan...

Pertahankan toleransi anda....

Usahakan jangan jadi "makhluk penggoda" buat temen2 yang puasa...

Ajak temen2 beraktivitas bersama, tidak menguras energi tentunya, jadi membuat teman2 muslim tak perlu "menghitung detik" Berbuka puasa....

Sesuaikan diri dengan keadaan anda berada, jika di tempat umum, jangan coba2 makan or minum....

Ajak temen2 yang non-muslim melaksanakan tips ini....


Semoga,...

Yang puasa tidak emosi...

Yang tidak... Toleransi...

Jadi...

Damai di bumi....



Go KREATif....

Gayatri_KREATif Mataram

21 September 2008

Parlemen Remaja Indonesia

Tahukah teman-teman apa yang diperingati seluruh dunia pada tanggal 15 September kemarin? Tentunya bukan hari ulang tahun bumi, apalagi hari ulang tahun si penulis. Jika teman-teman malas bermain tebak-tebakan, ini sedikit petunjuknya, hari tersebut memperingati sesuatu yang akan dirayakan bangsa Indonesia tahun 2009. Ya! Pemilu! Namun bukan hari pemilu internasional, pemilu bisa disama-artikan dengan pesta demokrasi rakyat. Maka pada tanggal 15 September kemarin dunia memperingati Hari Demokrasi Internasional.

Pasti teman-teman sangat asing mendengar hari peringatan yang satu ini. Hari peringatan demokrasi ini memang baru menjadi ketetapan PBB sejak setahun yang lalu. Meski demikian teman-teman jangan sampai tertinggal berita mengenai kabar terbaru ini. Demokrasi telah menjadi bagian perkembangan dan modernisasi dunia. Diakui sebagai roda penggerak kehidupa sosial. Sekarang dimana-mana, mau memilih Pak Lurah, ketua RT, ketua OSIS, ketua kelas bahkan menentukan keputusan dalam keluarga, semua orang dan anggota berhak dan wajib berbicara. Sudah bukan masanya setiap peraturan ditentukan satu orang atau hanya dari kalangan tertentu. Demokrasi memberikan kita rasa percaya diri untuk mengeluarkan jalan pikiran, tidak perlu takut opini kita dinilai buruk, karena tidak ada pendapat yang salah dalam demokrasi.

Kemarin, tepatnya Senin 15 September 2008 di gedung DPR Hari Demokrasi Internasional dirayakan dengan dibentuknya Parlemen Remaja Indonesia. Parlemen remaja ini merupakan cerminan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari kalangan remaja usia 15-17 tahun. Sebelumnya pada tanggal 6-7 September 2008 siswa/i dari SMU se-Jabotabek diundang ke Wisma KOPO, Puncak, untuk diberi pembobotan serta pengarahan mengenai sistem rapat anggota dewan, arti demokrasi, bagaimana menentukan keputusan, serta informasi mengenai hak-hak anak, agar kita sebagai remaja sadar dan memperjuangkan hak untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan berani mengemukakan opini. Acara ini diselenggarakan YKAI – DPR RI untuk melatih generasi muda mewarisi demokrasi di Indonesia.

Pada tanggal 6-7 September 2008, kami banyak berkenalan dengan kawan-kawan baru dan saling bertukar pengalaman, ditambah dengan suasana bulan puasa, sahur bersama teman-teman dari berbagai kalangan terasa sangat erat. Fasilitator dan narasumber juga sangat membantu kami mempersiapkan simulasi rapat kerja yang akan dilakukan Parlemen Remaja Indonesia di gedung DPR tanggal 15 September 2008. Simulasi rapat kerja ini mengambil tema Lingkungan Hidup. Pada latihan simulasi rapat kerja di Wisma KOPO tanggal 7 September 2008, materi rapat bertemakan ”Program Penghijauan Pada RAPBN 2009 dalam Rangka Mengurangi Dampak Pemanasan Global” antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Komisi VII (Lingkungan Hidup) DPR.

Dalam simulasi rapat tersebut, memang dibuat sebenar-benarnya sesuai rapat kerja DPR. Ada berbagai fraksi yang dibentuk, terdiri dari beberapa orang teman kami, adapula fraksi yang terdiri dari 1-2 orang, adapula yang terdiri dari 10 orang lebih, sesuai cerminan bapak ibu legislatif yang duduk di kursi DPR. Bedanya fraksi-fraksi ini tidak diberi nama seperti nama partai di Indonesia, melainkan dengan nama buah-buahan. Ada fraksi Maja, fraksi Manggis, fraksi Kelapa, fraksi Naga, fraksi Duku, fraksi Matoa dan sebagainya. Kemudian ditentukan 5 ketua fraksi sebagai pimpinan sidang, salah satunya bernama Hendris sebagai ketua sidang. Sementara adapula yang berperan dari kalangan Pemerintah, seperti Raisa yang berperan sebagai Menteri Lingkungan Hidup dibantu 8 Dirjen seperti Stella, Janita, Abizar, Guntur, Sabatini, Apri, Apsada, dan Khusnur dan teman lainnya yang menjadi staff ahli kementerian.

Rapat yang membahas masalah RAPBN untuk mengurangi dampak pemanasan global ini berlangsung seru. Beberapa fraksi menilai kinerja Kementerian selama ini belum maksimal dalam menanggulangi kerusakan lingkungan di Indonesia sehingga penambahan anggaran untuk Kementerian Lingkungan Hidup dirasa akan sia-sia. Beberapa fraksi yang mendukung pemerintah dan menjadi oposisi pemerintah berargumen sengit, tidak ketinggalan dari pihak pemerintah pun mempertahankan pendiriannya bahwa penambahan anggaran sangat berguna dalam kelancaran program kerja Kementerian Lingkungan Hidup. Berbagai interupsi dikeluarkan, hingga ketua sidang yakni Hendris kewalahan dan memutuskan menolak semua interupsi, membuat sejumlah teman-teman anggota fraksi berdecak kecewa. Wah, ternyata tidak mudah menentukan masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan negara, karena setiap orang tentunya punya kepentingan masing-masing. Makin banyak kepala, makin banyak pemikiran, makin banyak ide, dan makin banyak pula masalah yang dangkat ke permukaan. Tidak terbayangkan bagaimana repotnya anggota DPR menentukan rancangan undang-undag dan berbagai kebijakan lainnya.

Selama simulasi rapat, fasilitator berkali-kali mengoreksi agar kami menggunakan kata sapaan ’anggota dewan yang terhormat’ kepada anggota fraksi dan harus menggunakan kata ’fraksi’ atau ’pemerintah’ untuk mengganti sebutan ’kami’.

Meski demikian tidak ada amarah yang terpendam dari kami semua. Selesai simulasi rapat, kami justru saling bercanda dan tertawa terbahak-bahak membahas simulasi rapat. Akhirnya, pada tanggal 15 September 2008 simulasi rapat kerja yang sesungguhnya diadakan di Gedung DPR-RI. Awalnya kami agak tegang untuk memulai rapat ini. Namun rapat justru berjalan lebih baik diluar perkiraan. Rapat ini membahas topik yang berbeda yaitu ”Program Pemerintah dalam Mengurangi Dampak Pemanasan Global di Indonesia”. Interupsi yang berlangsung tidak sama sengitnya dengan simulasi rapat di Wisma Kopo. Namun tetap anggota fraksi bersikap kritis dalam materi rapat ini. Selama setengah jam tercapailah keputusan bahwa Car Free Day akan diberlangsungkan 2 kali dalam sebulan, lebih diperketatnya aturan hukum pada masalah lingkungan, menerapkan gaya hidup selaras dengan alam, serta pemerintah akan meningkatkan kegiatan riset/penelitian untuk mencari energi dan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Kami tidak tahu apakah hasil keputusan rapat ini sama persis dengan program kerja Kementerian Lingkungan Hidup yang asli atau tidak, namun kami berharap agar hasil keputusan rapat ini dapat dibawa oleh salah satu anggota DPR untuk diusulkan ke kementerian.
Setelah acara berlangsung, kami berbuka puasa bersama, saling bertukar alamat dan nomor telepon. Kami sepakat bahwa Parlemen Remaja Indonesia 2008 tidak akan berhenti sampai disini. Kami berusaha agar tetap saling berhubungan dan terus ikut berpartisipasi, memperhatikan masalah sekitar dan memperjuangkan aspirasi. Semoga suatu saat Parlemen Remaja Indonesia dapat benar-benar duduk di kursi DPR.
Parlemen Remaja Indonesia.... Ayo!!!!!

10 September 2008

Ramadhan Pakai Otak Mana??

Mengapa saat Ramadhan datang, kian banyak makhluk bermunculan dengan segudang sisi baiknya? Namun pada bulan berikutnya statistika menurun drastis. Tidakkah hal tersebut seumpama aji mupung? Sekedar berburu pahala pada musim panennya sehingga tak sadar diri ini telah main hitung-hitungan dengan Allah. Ibadah bukan lagi sebagai sarana mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, melainkan seperti pasar swalayan yang sedang ramai diskon. Penuh sesak tanpa celah sedikitpun, bahkan sekedar untuk menghela nafas.

Lalu, megapa harus ada Ramadhan? Mengapa masjid hanya penuh pada bulan Ramadhan? Mengapa harus ada frase “buka puasa” untuk sekedar menjalin silaturrahim? Setiap individu pun tak kalah gencar meningkatkan kualitas diri dengan menambah porsi shalat dan tilawah. 5 waktu. Dhuha. Tarawih. Tahajud. Witir. Tadarus. Itikaf. Sedekah. Infak. Zakat. Seolah deretan kata tersebut tercipta hanya sebagai makhluk musiman yang dapat berkeliaran bebas pada bulan Ramadhan. Sesaat setelah Idul Fitri, makhluk-makhluk tersebut nyaris tak lagi menampakkan kehadirannya. Takut atau memang sudah waktunya berhibernasi? Fenomena luar biasa, namun manusiawi, dan sepertinya akan terus begitu sampai akhir jaman. Kalau sudah begini, apa yang dapat kita banggakan di hadapan Allah?

Itulah jadinya jika kita beribadah hanya menggunakan otak kiri. Sekedar menghapal dan berhitung. Contoh yang paling umum, shalat. Berapa banyak dalam hidup kita mencoba menghadirkan Allah dalam shalat? Berapa kali kita melakukan shalat hanya sebatas menggugurkan kewajiban dan meraup pahala? Apa sebenarnya tujuan kita shalat? Bacaan shalat yang sepenuhnya Arab itu, apa kita tahu maknanya? Berapa jumlah surat dalam Alqur’an yang kita hapal? Apa kita tahu makna tersiratnya, minimal terjemahan bahasa Indonesianya? Jutaan manusia shalat 5 waktu setiap hari tanpa putus, bahkan beberapa telah mendekorasinya dengan shalat sunnah. Tapi mengapa kekejian dan kemungkaran masih merajalela? Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar?

Balik lagi ke fungsi fitrah otak kiri kita. Menghapal dan berhitung. Dalam shalat ada baiknya jika otak kiri tak mendominasi otak kanan. Menghapal surat-surat dalam Alqur’an bukannya tidak boleh. Tapi kalau hanya untuk kita pakai dalam shalat, hal tersebut tidak akan memberi manfaat lebih bagi diri sendiri dan orang lain.

Ada juga yang beranggapan bahwa makin panjang ayat yang kita baca, makin banyak pahalanya, karena tiap huruf terhitung sebagai 1 pahala kebaikan. Tak ada yang salah pada anggapan tersebut, bahkan 100% benar. Tapi sama saja tak memberi manfaat lebih bagi orang lain, jika tak disertai perbuatan nyata dalam mengamalkan isi Alqur’an. Sekedar hitung-hitungan, bukan?

Nah, akan lebih baik jika kita shalat menggunakan otak kanan. Kita semua tahu bahwa otak kanan berfungsi sebagai daya imajinasi dan kemampuan mengolah hal yang sifatnya global dulu baru mendetail. Coba mainkan imajinasi kita dengan sebuah kunci bernama: seolah-olah! Bayangkan seolah-olah kita melihat Allah! Bayangkan kita sedang bercinta dengan Sang Cinta Sejati. Rasakan aliran nikmat yang meresapi seluruh pelosok pori-pori tubuh. Ciumlah harum rindu yang tak terkatakan. Maka, diri ini akan tahu bahwasanya dekapan Allah begitu hangat merambati hati dan pikiran kita. Dan akan lebih indah jika kita pun tahu dan paham bacaan shalat, meski belum sepenuhnya. Buang jauh-jauh pikiran main hitung-hitungan denganNya! Karena pahala tak lebih berarti jika kita tak mendapatkan cintaNya.

Ramadhan masih bersisa 20hari lagi. Belum terlambat tuk katakan cinta padaNya. Gunakan otak kanan dalam mencapai intensitas, dan tingkatkan dengan otak kiri. Dengan membayangkan, kita jauh lebih mudah menghapal surat-surat cintaNya. (sebagaimana sebagian kita mungkin pernah membaca surat cinta dari seseorang sambil membayangkan wajah sang kekasih. Alhasil, huruf-hurufnya terpeta dalam otak kiri kita). Subhanallah…tentu hal tersebut bisa kita rasakan jika kita tahu makna yang terkandung dalam bacaan shalat, minimal terjemahan bahasa Indonesianya.

Tak ada lagi main hitung-hitungan. Dengan membayangkan, akan jauh lebih indah, dan kita tak hanya intens pada bulan Ramadhan. Di bulan lain pun, intensitas dengan Allah tetap bisa terwujud.

Wallahua’lam…

KREATif Jakarta_Ayu DRS